Minggu, 27 Februari 2011

"Endith & Restvan"





Sore itu aku mampir sejenak di pekarangan kampus, tepat di bawah rindangnya pepohonan, tepat di depan berbagai macam tukang menjual dagangannya, tepat di belakang sekumpulan mahasiswa yang sedang bercerita tentang jenuhnya mereka mendengar ocehan pak dosen. Ya, tempat dimana aku banyak menghabiskan waktu kuliah dulu, seusai jam mata pelajaran berakhir, 2 tahun yang lalu. Dari situ Mataku terus memandang di sudut dekat mang juki yang sedang menjajakan Rokok, sudut kecil yang hanya bisa ditempati oleh dua orang. sudut kecil yang biasa diduduki oleh dirimu, Dwiki reno restvantya ! Awal perjumpaan kita dulu tak terlalu istimewa, aku yang sedang tergesa-gesa ketika terlambat masuk jam kelas direcoki oleh dirimu yang menghentikan jalanku secara tiba-tiba.

Hey, maaf dari fakultas psikologi y namamu siapa ?
 aku Endith.
gini dith, kamu mw gak masuk Mapala, organisasi pencinta alam gitu, nih brosurnya
Aduuuh, nanti dlu aj ya, lg buru-buru nih” sambil bergegas aku meninggalkannya.
Didalam kelas aku bergumam dalam hati, ngapain tuh orang ngajak cewe feminin suka dandan kaya aku masuk jadi anggota pencinta alam yang hobinya out door panas-panasan diluar gak jelas,aku kan takut kalau kulitku jadi hitam legam. Ya jelaslah nanti ajakannya itu akan aku tolak ! Seusai kuliah aku kaget ternyata dia masih berada di depan kelasku dan kembali menanyakan perihal kesediaan diriku.
gimana dith? Lg gk buru-buru kan, mw gak ?
oh enggak ah kak?
Jangan panggil kakak donk, panggil nama aja Dwiki Reno Restvantya”
 panjang banget namanya, tapi maaf aku gak nanya, hehe…”
Dari sana lah cerita tentang dirimu berawal, dwiki alias reno alias restvan alias vantya, dan aku lebih senang memanggilmu dengan panggilan restvan. Kita mulai sering berinteraksi, kau banyak cerita tentang hobimu berpetualang di alam liar, tentang kegemaranmu menendang si kulit bundar, dan tentang makanan rendang favoritmu. Aku pun juga begitu walaupun lebih banyak diam dan mendengarkan ocehanmu. Semakin hari hubungan emosional kita semakin rapat, karena sudah terbiasa bersama menghabiskan waktu. sampai tiba hari itu dimana kamu tidak ada di kampus dan menghilang dari peredaran, aku pun kesulitan menghubungimu karena hp kamu tidak aktif. Betapa resah dan gelisahnya hati ini, aneh kurasa karena kita tidak dan belum pacaran. Tapi aku berjanji dan berharap dalam hati tidak akan ku tolak dirimu apabila menjadikan aku sebagai pacar, tidak lama harapan itu jadi nyata.
Restvan, cwok berandalan yang selalu mengenakan sweater buluk kesayangan bertuliskan “low profile”, mengenakan jeans belel karya pedagang pasar senen, dan sepatu kets butut untuk dijadikan sandal.
Restvan, cowok pendiam yang terkadang menjadi seorang yang bawel dan emosional, hobi menghisap besi tua yang tidak lazim dikalangan anak muda pada zaman itu, 
Restvan, Sesosok yang tidak setampan Jim Sturgess atau pun Emile Hirsch, tidak segagah Gerard butler atau pun rambo, namun khas memiliki dua kelopak mata yang berbeda layaknya thom yorke radiohead. Restvan, kau lah sosok yang memberi arti.
Tiga bulan berjalan hubungun kita biasa saja, banyak hal yang kita lewati berdua selama kurun waktu tersebut, tapi setelah kurun waktu tersebut kita mulai sering berkelahi dalam ucapan karena bersilang pendapat, berawal dari sms wendra dalam inboxku, kau mulai sering marah-marah kepadaku, menanyakan siapa itu wendra dan ada hubungan apa aku dengannya, aku pun berulang-ulang kali menjelaskan padamu kalau wendra itu cowok ganjen fakultas Ekonomi yang suka padaku dan aku tidak punya perasaan apa-apa dengannya, kamu pun berulang kali tidak percaya setelah menerima penjelasanku.
Cek-cok!, Ya itu lah yang terjadi diantatra kita, namun anehnya dengan cepat kita berbaikan seperti tidak terjadi apa-apa diantara kita sebelumnya. Sampai tiba hari itu, saat kita merayakan hari jadi kita yang ke enam bulan di kantin kampus, tiba-tiba saja Hpku bergetar ada panggilan masuk tertera nama wendra, kau langsung merebut hp ditanganku dan mengangkatnya.

Maaf ndra ini gw Restvan, endith lagi sama gw tolong donk jangan diganggu
Siapa lw van? Suami bukan, bapaknya bukan, abangnya juga bukan, kenapa otoritas lw jadi melebihi Bapak dan abangnya endith, sadar diri donk !? jawab wendra
Restvan tersentak, lalu berkata
wendra, anj**g , B*bi, Bangs**t lw ya ! gw udah ngomong baek2, knapa jawaban lw gak enak banget didengarnya.
Sontak, aku langsung rebut hpku ditangan Restvan dan mematikannya. 
kenapa sih van, kamu koq jadi kasar gitu, aku gak suka.
Yaudahlah, kalau gak suka sama aku, ngapain terus dilanjutin hubungan ini, lebih baik kita masing-masing aja dari sekarang , kita Putuss !, jawabmu.
Aku terdiam, karena selama setengah tahun baru kali ini kamu berkata seperti itu, kutahu kamu sedang emosi, kutahu kamu sedang marah, dan ku tahu kamu sedang labil, namun sebelumnya sehebat apa pun perselisihan kita, perpisahan tidak pernah menjadi jalan pilihan kita berdua, aku bagai tersambar petir mendengar kata-kata itu. Aku pun berlari meninggalkanmu dengan menahan tangis yang tidak bisa ku bendung.
setelah tragedy tersebut, Kondisi emosionalku masih terguncang karena ucapanmu, sudah berminggu-minggu aku tidak mendengar kabarmu lagi, selain factor aku tidak sedang ingin menemuimu, karena pada saat itu pun sedang libur semester genap.kau pun tidak pernah menghubungiku lagi. Jadi dengan kondisi yang mendukung aku harap bisa menyembuhkanku dari perasaan gelisah karena sosokmu dwiki reno restvantya.
Namun ternyata tidaklah demikian, Tibalah pagi itu, hari dimana perkuliahan sudah aktif kembali, di dalam hati kecil ini terus membisik namamu yang khas dwiki reno restvantya bagaimana kabarmu? Mengapa kau tidak pernah menghubungiku lagi?, apakah sekarang kau sudah terlalu sibuk hanya untuk sekedar mengetahui kabarku ?
Akupun semangat bergerak dari tempat tidurku untuk menjalani aktifitas kuliah berharap sesuatu yang lebih menghampiriku, yakni perjumpaan aku denganmu.
Namun selama seminggu aku tidak kunjung menemukan sosok dirimu, setelah itu aku melihatnya dari kejauhan namun aku tak yakin itu kamu, tapi dari caranya berpakaian aku yakin itu kamu, semakin dekat hatiku semakin gusar, sweater buluk kesayanganmu bertuliskan “low Profile” dipakai arie teman satu fakultas yang menjadi Dkm pengurus masjid kampus . Aku lantas bertanya-tanya, tidak mungkin restvan memberikan sweater kesayangan satu-satunya itu, apa mungkin arie mencurinya dari Restvan, tanyaku dalam hati.
Lantas, Aku hanya tercengang melihat arie memakai sweater tersebut lewat dihadapanku. Tidak lama kemudian lelaki jaket merah melewatiku, ku mengenal caranya berjalan dan posisi menggenggam besi tua favoritnya, ku tahu dia adalah restvan ! kenapa dia tidak menegurku malah justru melongos begitu saja layaknya supir metro yang sedang mengejar setoran. Aku kecewa karena sikapnya.
aku menunggu di depan gedung fakultas teknik, ditempat yang dulu biasanya aku menunggu restvan selesai kuliah. Tibalah dia keluar dari gedung itu
Restvan, sahutku, kau pun menoleh
Endith, gmn kabarnya ? dengan pandangan yang tertunduk
baek, kamu gimana ? 
Alhamdulillah . Aku kedepan dulu ya dith sudah ditunggu sama orang

Kamu pun pergi, ekspektasi dari pertemuan ku denganmu hanya pembicaraan seumprit itu saja, aku tidak terima, selama percakapan itu juga kau selalu menundukan pandanganmu tidak berani mengarahkannya kepadaku.
Esok dan seterusnya pun sama saja kau seolah-olah tidak menganggap hadirku, kau lebih sering bermain dan diskusi bersama arie and the genk di masjid, kau kini jadi pribadi yang tidak bisa ku tebak,kau sering membuat tulisan terkait isu dalam negeri dan internasional umat Islam dan menempelkannya di mading kampus. Kau hobi sekali berdiskusi dengan mahasiwa-mahasiswa baru, kau menjadi sangat kaku di depan perempuan termasuk diriku. kau bukanlah Restvanku lagi, aku sadar itu.

Tapi perasaan ini tetap mengarah padamu, aku masih mengenalmu, kau adalah sosok yang pencemburu Restvan, maka kumanfaatkan wendra, aku ajak dia untuk duduk ddepan gedung fakultas restvan, agar restvan bisa melihat ku bersama dengan wendra. berharap dia menampakkan ekspresi kecemburuannya. Eng..ing..eng ..Restvan pun muncul dan langsung menegur wendra.
wen, kalian skrg pacaran ?
Gak van, lagi deket aj, pengennya sih gitu, pacaran?
Ya, gak usah pacaran wen, nikahin aja endith,
Amien”, sahut wendra
Aku bingung, kenapa mereka berdua terlihat akrab, ketka kutanyakan ke wendra, restvan dulu memang sempat meminta maaf kepadanya,
 aku datang sebagai seorang muslim yang sadar akan kesalahannya, aku dengan tulus memnta maaf kepadamu wendra atas sikapku” 
dia bilang begitu, ya aku sih maafin saja, sejak saat itu kita jadi cair ndith. 
Namun bukan itu saja yang membuat aku heran, hal yang paling jengkel adalah, kenapa restvan malah menyuruh wendra menikahiku seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi antara aku dan kamu Restvan, padahal aku yakin dia pasti tahu hati ku tidak mungkin bisa berpaling darinya dan tidak adakah sisa perasaanmu untukku van?.
Maka malam harinya aku menghubungi restvan lewat telepon, sudah hampir 15 kali aku melakukan panggilan namun dia tidak juga kunjung mengangkat panggilanku, ketika aku berinisiatif untuk mengirim sms, dia malah mendahuluiku,
Ada apa ya ndith ?
Kenapa kamu menghindar dan berubah menjauhi aku, seolah-olah aku ini kotoran dimatamu? Aku minta penjelasan atas sikapmu van.
Aku manusia ndith bukan binatang, aku membutuhkan aturan, di dalam Islam interaksi antara laki-laki dan perempuan itu diatur dengan begitu sempurna. Karena hukum asal laki-laki dan wanita adalah terpisah. Itulah sebabnya aku membatasi pergaulan denganmu.”
Aku kaget mendengar jawabannya yang Islami, aku menghargai jawaban tersebut karena akupun juga orang Islam, ibuku merupakan Muslimah yang taat, ibuku tidak letih mengingatkan aku untuk menutup aurat dengan memakai jilbab namun aku selalu tidak memperdulikannya, walau begitu aku masih menjalankan ibadah shalat lima waktu.
Lalu kamu menanyakanku beberapa pertanyaan, darimana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan akan kemana kita setelah kehidupan ?
Kau menjelaskan dengan panjang lebar tentang misi penciptaan manusia di dunia, yang bermuara pada akhir diamana kita akan kembali ke pangkuan sang pencipta, dan harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita selama di dunia, entah itu kebaikan atau keburukan sebesar biji zarah, kita akan mempertanggungjawabkannya.
Aku tergetar dan aku aku ingin belajar islam lebih mendalam sama sepertimu restvan,Kemudian kamu mempertemukanku dengan kak risma yang membimbingku dalam belajar Islam.
Tiga bulan setelah mengikuti kajian dengan bimbingan kak Risma aku merasakan hal yang berbeda, kini aku lebih memahami aturan Islam tidak hanya sebatas teori saja tetapi perlu di implementasikan dalam kehidupan, Islam bukan hanya ibadah ritualatau pun nilai-nilai moral tetapi juga mengatur segala aspek kehidupan, oleh karena itu diperlukan seperangkat kekuasaan dalam hal ini Negara yang menegakkan aturan Islam. Aku mengerti akan pentingnya arti Khilafah( system pemerintahan Islam) yang akan menerapkan aturan islam secara total.
kini diriku giat menyuarakan suara-suara Islam di kampus, sama seperti mu restvan. Hingga suatu ketika kau mengetahui perkembangan diriku, lalu kau berniat untuk menjadi imamku, aku pun menyetujui itu. Kita akhirnya menikah, sepertinya semua akan berjalan lancar. Namun ternyata kesabaranku masih harus di uji, Restvan ternyata menderita penyakit ALS, penyakit yang pernah diderita Jason becker, gitaris yang digadang-gadang akan menjadi gitaris hebat dunia. penyakit yang mematikan sel-sel syaraf dalam tubuh restvan, hampir bisa dikatakan kini Restvan telah lumpuh total ! saat penyakit itu didiagnosa kita berdua belum dikaruniai anak.
karena tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya, Restvan hanya bisa terbaring dalam ruangan. namun keistimewaannya adalah walaupun tubuh kamu lumpuh, tapi ingatanmu tetap tidak berkurang sama sekali. Kau tetap menyuruhku berdakwah dan beraktifitas seperti biasa, tanpa memperdulikan penyakitmu.

kau lah suamiku, meski pun karena keterbatasanmu kau tidak menafkahiku lahir dan batin namun ingatlah kau telah mengikatku dengan nama Allah.
Kau lah suamiku, akan kupenuhi kewajibanku sebagai Istrimu, tak perduli bila kau tidak bisa memenuhi secara penuh kewajibanmu sebagai suamiku, aku hanya menjalankan tugas ku ,aku akan tetap mencintaimu karena Allah…
Hujan rintik yang semakin deras membangunkan aku dari lamunanku, kembali dipekarangan kampus, tepat dibawah Rindangya pepohonan, 1 bulan 4 hari yang lalu kau telah meninggalkanku dan dunia ini. Dwiki Reno Restvantya, aku tidak akan menangisimu kepergianmu secara berlebihan, karena kau hanyalah titipan yang diberikan Allah kepadaku.

Just a Game ?


Kawan ku tak tahu  besar arti hadirmu
Bila ku melangkah jauh dari tempat ini
Hampir di setiap kesempatan kau hadir didekatku
Banyak sudah waktu yang kita lewati bersama
terdokumentasi dalam sebuah gambar perjalanan hidup
Kita sering tertawakan hal kecil
Kita sering senyum melihat beberapa kebodohan
Kita,kita dan kita….
Tidak mampu lagi ku bercerita tentang begitu banyak hal tentang kita
Apakah itu yang namany kebahagiaan ?
Mengapa sangat temporal
Mengapa tidak bisa bertahan lama
Mengapa pada saat itu saja
Mengapa hanya di moment – moment tertentu aku Bahagia
Lantas sejenak ku berpikir ini hanya sebuah permainan
ingin ku berkata “ aku ingin keluar dari permainan ini”
Apakah kau akan mengacuhkan aku ?
Kurasa tidak,
Aku hanya berhenti bermain sedangkan kau dan yang lain terus bermain
Ketika ku menyapamu nanti
Ku yakin kau masih mengenali perangaiku
Tetapi kau ataupun aku tidak akan berlama-lama
Karena kau belum keluar dari permainan
Kau akan tetap bermain
Sedangkan aku mungkin sudah dapat permainan baru
Atau  mungkin sibuk dengan  hal yang lebih berharga dari sebuah permainan