Saya bukan lagi mahasiswa walaupun lekat dengan kehidupan
mahasiswa, ada beberapa memoar besar atau pun kecil yang sedikit saya ingat
ketika masih menjadi masiwa (disingkat), masiwa yang mempunyai julukan yang
canggih-canggih macam agent of change, agent of social control, Iron stock
dsb. Julukan tersebut bukan tanpa
alasan, ada latar belakang sosio-historis yang terkesan heroik dalam pergulatan
sejarah Mahasiswa di negeri ini. Salah satunya adalah peristiwa reformasi 98.
Sebelum lebih jauh berbicara tentang Mahasiswa beserta peran
strategis dan politisnya, sebetulnya saya tidak ingin membahas hal tersebut
dilapak tulisan ini, lapak ini hanya bercerita tentang saya sebagai subjek yang
pernah menjadi mahasiswa, kemudian pantas
bila anda bertanya? Memangnya siapa saya ? saya akan jawab, saya adalah Makhluk
ciptaan Allah SWT dan saya pernah menjadi mahasiswa. Jawaban tersebut sudah cukup, lagipula ini
lapak (tulisan) saya, sah-sah saja rasanya bila bicara tentang saya, jadi tolong bungkam mulut anda! :D
Hampir 80 % kehadiran saya sewaktu menimba Kuliah 4 tahun di
perguruan tinggi swasta yang berlabel Islam berakhir dengan keterlambatan masuk
kuliah. Saya bukanlah Mahasiswa yang rajin masuk kuliah, tempat duduk favorit
saya berada jauh dari pandangan dosen, itu adalah siasat agar bisa memejamkan
mata ketika mengantuk. Awal-awal
semester, bakat kelabilan saya berhasil menjerumuskan saya kedalam titik
ekstrem dunia “Mahasiswa”. Nongkrong, maen Bilyard, judi, pacaran, dsb.
“hebatnya” dulu saya masih menganggap perilaku tersebut sudah lebih baik,
karena sudah tidak lagi menghisap daun kering.
Kebiasaan-kebiasan tersebut berjalan sampai masuk semester 2.
walaupun perilaku yang saya gambarkan tadi jauh dari sebutan
pemuda Intelektual namun saya mulai tertarik berorganisasi, saya masuk organ Kiri
aliran pragmatis nan taktis, disana saya dibina dan dikader dengan tidak
terorganisir (dibaca asal-asalan). Tapi dengan keluguan saya yang masih tidak
banyak mengetahui tentang corak, warna, dan pemetaan organ yang lurus, maka
semangatlah yang menjadi modal utama. Tapi, Itu semua adalah bagian dari proses,
bergabungnya saya disana utamanya adalah sebuah manifest kebutuhan akan wadah
sebagai tempat dan ruang mengaktualisasikan diri, secara tidak langsung pun telah mempertemukan
saya dengan beberapa orang yang punya latar belakang berbeda dan mainframe yang
berbeda pula. Masih hangat diingatan saya, ketika para elit kontrakan yang
mempunyai kedudukan tinggi di organ tersebut berselisih satu sama lainnya,
kondisi tersebut berlangsung tidak sesekali.
doktrin kepada anak-anak baru yang menciptakan rasa curiga terhadap
lawan selain organisasi diluar dirinya adalah agitasi yang paling hebat membius
saya dan kawan-kawan pada periode awal. Membuat bertanya-tanya, Mereka yang
hebat ataukah saya dan kawan-kawan yang dungu?
masih belum bisa saya jawab :D, dinamikan
organisasi membuat saya hanyut, pernah ketika sedang santai dan menonton tv di
markas, saya menanyakan kepada senior yang ada dihadapan saya, “dengan kita
sering aksi (demo) apakah stempel aktivis sudah pantas tersemat di jidat saya?”
ia dengan senyum bangga menjawab, “ya, tentu saja”, mendengar hal tersebut saya
pun ikut tersenyum, bagi anak ingusan yang dibesarkan dengan asupan susu dan
bubur tentu mempunyai nilai tersendiri ketika dirinya menjadi seorang aktivis yang
konon membela hak-hak rakyat.
Namun, Seiring perjalanan waktu dengan hampir berakhirnya
semester 2, banyak kawan-kawan saya yang kemudian mundur teratur dalam barisan
hingga menyisakan sedikit yang bertahan, saya sebenarnya sudah merasakan ketidakberesan
di organ tersebut, tapi ada beberapa pertimbangan yang membuat saya kian galau
untuk cabut atau bertahan lebih lama, kami juga tidak mengambil langkah
membentuk oposisi kiri dalam tubuh organ/partai seperti apa yang dilakukan oleh
Trotski dan teman-temannya ketika Stalinis mengambil alih kemudi. Lagipula analisis tersebut terlalu jauh
mengingat masih minimal pengalaman organisasi yagn ditempuh. akhirnya, sampai pada
kondisi objektif yang menghantarkan saya kepada kekecewaan dan kehancuran yang
diakibatkan gaya hidup yang gersang berkolaborasi dengan kebobrokan organ yang
masih memberikan tugas-tugas taktis. Maka tinggal menunggu waktu yang tepat
untuk pergi meninggalkan kawanan tersebut.
Dalam kehidupan personal, saya break up dengan orang yang
menjadi pacar ketika itu, patah hati, Kecewa, jumud dsb menambah beban pikiran
lebih dalam, rasanya seperti terjun bebas dalam ketinggian yang cukup
menghempaskan tubuh ini menjadi puing daging, ditengah-tengah kegersangan tadi, saya jadi
lebih sering melakukan ibadah ritual, begitulah tabiat manusia yang masih waras,
ketika sudah mencapai titik tertentu, tidak ada tempat mengadu, meminta
ampunan, mendapatkan ketentraman hati selain menghadap kepada Allah SWT sebagai
illah satu-satunya yang paling berhak disembah. Alhamdulillah dengan mendekatkan diri kepada
Allah segala sesuatunya menjadi lebih baik, perlahan diri yang terinjak sudah
beranjak untuk tetap melangsungkan hidup.
Bersambung....
