Kamis, 14 Juni 2012

Masiwa (Bagian I)


Saya bukan lagi mahasiswa walaupun lekat dengan kehidupan mahasiswa, ada beberapa memoar besar atau pun kecil yang sedikit saya ingat ketika masih menjadi masiwa (disingkat), masiwa yang mempunyai julukan yang canggih-canggih macam agent of change, agent of social control, Iron stock dsb.  Julukan tersebut bukan tanpa alasan, ada latar belakang sosio-historis yang terkesan heroik dalam pergulatan sejarah Mahasiswa di negeri ini. Salah satunya adalah peristiwa reformasi 98.
Sebelum lebih jauh berbicara tentang Mahasiswa beserta peran strategis dan politisnya, sebetulnya saya tidak ingin membahas hal tersebut dilapak tulisan ini, lapak ini hanya bercerita tentang saya sebagai subjek yang pernah menjadi mahasiswa,  kemudian pantas bila anda bertanya? Memangnya siapa saya ? saya akan jawab, saya adalah Makhluk ciptaan Allah SWT dan saya pernah menjadi mahasiswa.  Jawaban tersebut sudah cukup, lagipula ini lapak (tulisan) saya, sah-sah saja rasanya bila bicara tentang saya,  jadi tolong bungkam mulut anda! :D

Hampir 80 % kehadiran saya sewaktu menimba Kuliah 4 tahun di perguruan tinggi swasta yang berlabel Islam berakhir dengan keterlambatan masuk kuliah. Saya bukanlah Mahasiswa yang rajin masuk kuliah, tempat duduk favorit saya berada jauh dari pandangan dosen, itu adalah siasat agar bisa memejamkan mata ketika mengantuk.  Awal-awal semester, bakat kelabilan saya berhasil menjerumuskan saya kedalam titik ekstrem dunia “Mahasiswa”. Nongkrong, maen Bilyard, judi, pacaran, dsb. “hebatnya” dulu saya masih menganggap perilaku tersebut sudah lebih baik, karena sudah tidak lagi menghisap daun kering.  Kebiasaan-kebiasan tersebut berjalan sampai masuk semester 2.

walaupun perilaku yang saya gambarkan tadi jauh dari sebutan pemuda Intelektual namun saya mulai tertarik berorganisasi, saya masuk organ Kiri aliran pragmatis nan taktis, disana saya dibina dan dikader dengan tidak terorganisir (dibaca asal-asalan). Tapi dengan keluguan saya yang masih tidak banyak mengetahui tentang corak, warna, dan pemetaan organ yang lurus, maka semangatlah yang menjadi modal utama. Tapi, Itu semua adalah bagian dari proses, bergabungnya saya disana utamanya adalah sebuah manifest kebutuhan akan wadah sebagai tempat dan ruang mengaktualisasikan diri,  secara tidak langsung pun telah mempertemukan saya dengan beberapa orang yang punya latar belakang berbeda dan mainframe yang berbeda pula. Masih hangat diingatan saya, ketika para elit kontrakan yang mempunyai kedudukan tinggi di organ tersebut berselisih satu sama lainnya, kondisi tersebut berlangsung tidak sesekali.  doktrin kepada anak-anak baru yang menciptakan rasa curiga terhadap lawan selain organisasi diluar dirinya adalah agitasi yang paling hebat membius saya dan kawan-kawan pada periode awal. Membuat bertanya-tanya, Mereka yang hebat ataukah saya dan kawan-kawan yang dungu?  masih belum bisa saya jawab :D,  dinamikan organisasi membuat saya hanyut, pernah ketika sedang santai dan menonton tv di markas, saya menanyakan kepada senior yang ada dihadapan saya, “dengan kita sering aksi (demo) apakah stempel aktivis sudah pantas tersemat di jidat saya?” ia dengan senyum bangga menjawab, “ya, tentu saja”, mendengar hal tersebut saya pun ikut tersenyum, bagi anak ingusan yang dibesarkan dengan asupan susu dan bubur tentu mempunyai nilai tersendiri ketika dirinya menjadi seorang aktivis yang konon membela hak-hak rakyat.

Namun, Seiring perjalanan waktu dengan hampir berakhirnya semester 2, banyak kawan-kawan saya yang kemudian mundur teratur dalam barisan hingga menyisakan sedikit yang bertahan, saya sebenarnya sudah merasakan ketidakberesan di organ tersebut, tapi ada beberapa pertimbangan yang membuat saya kian galau untuk cabut atau bertahan lebih lama, kami juga tidak mengambil langkah membentuk oposisi kiri dalam tubuh organ/partai seperti apa yang dilakukan oleh Trotski dan teman-temannya ketika Stalinis mengambil alih kemudi.  Lagipula analisis tersebut terlalu jauh mengingat masih minimal pengalaman organisasi yagn ditempuh. akhirnya, sampai pada kondisi objektif yang menghantarkan saya kepada kekecewaan dan kehancuran yang diakibatkan gaya hidup yang gersang berkolaborasi dengan kebobrokan organ yang masih memberikan tugas-tugas taktis. Maka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk pergi meninggalkan kawanan tersebut.
Dalam kehidupan personal, saya break up dengan orang yang menjadi pacar ketika itu, patah hati, Kecewa, jumud dsb menambah beban pikiran lebih dalam, rasanya seperti terjun bebas dalam ketinggian yang cukup menghempaskan tubuh ini menjadi puing daging,  ditengah-tengah kegersangan tadi, saya jadi lebih sering melakukan ibadah ritual, begitulah tabiat manusia yang masih waras, ketika sudah mencapai titik tertentu, tidak ada tempat mengadu, meminta ampunan, mendapatkan ketentraman hati selain menghadap kepada Allah SWT sebagai illah satu-satunya yang paling berhak disembah.  Alhamdulillah dengan mendekatkan diri kepada Allah segala sesuatunya menjadi lebih baik, perlahan diri yang terinjak sudah beranjak untuk tetap melangsungkan hidup.

Bersambung....

Kembang Api


Bukan perayaannya yang menjadi concern saya, tapi lihat bagaimana kembang api malam hari ketika menyambut tahun baru begitu bercahaya seolah-olah menghantarkan pesan yang membius, euphoria! Kembang api yang silih berganti di langit pada waktu tengah malam membuat perbedaan yang nyata dengan malam yang lain. Awal tahun baru 2012 Di london dengan durasi 14 menit (lihat youtube) begitu terasa gemerlap yang dihasilkan kembang api. Namun kemudian hal yang mafhum adalah nyala kembang api tidak akan bertahan lama, akan redup dan mati, maka bila masih ingin larut nyalakan kembang api yang baru.
Kita juga sering lihat kembang api ukuran kecil yang panjangnya seperti penggaris dan sebagiannya terisi mercon beku, ketika api memantik dan mengarah kembang api dengan serta merta penggaris berlapis mercon beku tersebut nyala dengan durasi yang singkat dan setelahnya akan redup.
Akhir-akhir ini saya sepertinya  terjangkit syndrom kembang api, passion/semangat yang kadang muncul melahirkan lesatan progressive yang luar biasa, namun diwaktu tertentu semangat itu seperti berhenti bergerak, sesak (sedikit mendapat Oksigen), dan pada akhirnya tidak produktif.

***
Pilihan-pilihan yang ada kedepan memberikan visualisasi yang tidak terlalu samar di satu sisi, namun disisi lain bukan malah membuat saya lega tapi justru melahirkan kebingungan yang menyenyakkan.
Pada saat-saat seperti sekarang memang penting untuk melakukan pembiasaan dan pemaksaan terhadap kungkungan dari pembiasaan yang buruk, menghancurkan tembok dan dinding-dinding beton tidak cukup dengna palu atau pun linggis namun dengan senjata yang tepat. Pembiasaan untuk tidur tepat waktu, pembiasaan untuk makan tepat waktu, pembiasaan untuk ibadah tepat waktu, pembiasaan untuk tidak tidur setelah shubuh, pembiasaan untuk selalu siap ketika ada penggilan perjuangan, pembiasaan untuk manut dengan nasihat orang tua,pembiasaan untuk giat menuntut Ilmu, pembiasaan untuk menghadirkan senyuman kebanyak orang, pembiasaan untuk tidak jumawa, pembiasaan untuk tidak mengharapkan puja-pujian manusia, pembiasaan untuk tidak selalu mengutamakan diri sendiri, pembiasaan untuk membaca Al-Qur’an sehabis shalat fardhu dan pembiasaan-pembiasaan lain yang akan membebaskan dari kungkungan berbagai virus penyakit secara maknawi kembang api syndrome).
Butuh kerja ekstra dan konsistensi untuk melakukan itu semua secara kontinyu, syndrom kembang api yang saat ini saya idap adalah bagian dari proses, semakin banyak waktu yang dihabiskan dengan berbagai persoalan yang turut serta mengikuti maka akan semakin menguji saya dan mengajarkan banyak hal, seberapa seringkah kembang api itu muncul kembali ke-depan-nya? Jujur, saya juga tidak begitu mengetahuinya , akan tetapi dengan senjata “Pembiasaan”, kembang api akan terkikis dan dipaksa untuk tetap menghasilkan cahaya walau mercon beku sebagai amunisi sudah habis. Ketika itu maka tidak layak cahaya gemerlap itu disebut kembang api, walau awal nyalanya teridentifikasi sebagai kembang api.