Rabu, 18 April 2012

Tugas saya sebagai anak

Hey Dad look at me, Think back and talk to me, Did I grow up according To plan?, And do you think I'm wasting My time, doing things I Wanna do? (Simple plan, Perfect)

Ketika  usia saya belasan, banyak stasiun radio yang familiar didengar oleh anak remaja usia segitu, sebelum tiba tengah malam ketika pola tidur saya masih sangat teratur, saya biasanya membiarkan radio tape nyala sembari menunggu mata semakin kantuk dan lelap tertidur. Rutinitas yang membosankan itu berjalan cukup lama, sampai tiba ke percakapan via telpon antara pendengar dengan penyiar radio, saya tidak begitu ingat tema apa yang di angkat, namun si penelepon ini diduga berasal dari keluarga broken Home. Penyiar itu kemudian menanyakan how it feels when your parents divorce??

Kurang lebihnya dan seingat saya, yang ia ingin katakan adalah.
Sebagai anak, saya tidak bisa memilih dan memaksakan mereka berdua untuk hidup bersama, karena mereka yang paling mengetahui persoalan yang membelenggu keduanya dan akhirnya memilih jalan perceraian, saya tidak bisa intervensi itu lebih jauh, yang bisa saya lakukan adalah menjalankan tugas saya sebagai anak dengan baik.
mungkin juga, kata-kata tersebut ingin saya pertegas kembali untuk mereka []FrdSprtrmp

Senin, 09 April 2012

Jgn sesali Mendung

   “Jika ada 1 juta pejuang Islam, maka salah satunya adalah aku. Jika ada 1000 pejuang Islam, maka salah satunya aku. Jika ada 1 pejuang Islam, maka itulah aku”
Ketika ghirah perlawanan tersentuh, tiga orang menjadi tiga serangkai yang kerap meledak-ledak dan membakar Institusi pendidikan (dibaca Kampus) tempat mereka mengeyam pendidikan dengan Ideologi pembebasan yakni Islam, di tengah jalan tidak pernah saya duga sebelumnya, laju kereta dakwah menggilas salah satu teman kami dan menurunkan beberapa orang penumpang yang meminta untuk turun, namun api perlawanan tidak kunjung padam, satu, dua, tiga orang bergabung dengan barisan perlawanan. Kami semakin gemuk dan bereuforia dengan keberhasilan tersebut hingga kami lupa bahwa ada agenda internal yang harus di eksekusi. kemudian Kami pun menjadi sekumpulan para pemalas, Beberapa orang kembali tergilas dan hanya sedikit yang bertahan.

Yang sedikit itu kini kembali membangun gerakan perlawanan untuk senantiasa meneror system kufur untuk lekas hancur, sebagai catatan, memang lebih mudah menjadi sekelompok yang inkonsisten dalam bergerak daripada konsisten dan continue, tapi kami sadar perlawanan yang terorganisir, penuh makna dan semata-mata bersumber dari akidah kami adalah satu-satunya jalan dan solusi terbaik untuk diperjuangkan. Adakah pilihan yang lebih baik selain Islam? padahal telah kita ketahui bersama, Kapitalisme sekarat, komunisme cacat ( tidak sesuai dgn Fitrah manusia).

Siklus peradaban itu adalah keniscayaan, saat ini kita masih diberikan pilihan, menjadi pelaku, penonton, atau penentang sebuah keniscayaan[]FrdSprtrmp