Kamis, 14 Agustus 2014

Kritik atas sikap Defensive Apologetic Jomblo


Berawal dari  pembahasan yang terus beredar di media social, tentang fenomena pacaran sebagai buah dari pergaulan system sekular saat ini yang  memank tidak dibenarkan oleh Islam, Persoalan ini begitu menarik khususnya para pemuda, karena salah satunya ialah, fenomena pacaran adalah fenomena yang dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari para pemuda di negeri ini, jadi pembahasan ini memerlukan counter dari sudut dan perspektif Islam.
Di era smartphone saat ini, counter dari ide tersebut lahir bukan hanya pada aras realitas/dunia nyata namun juga menjalar di dunia maya, secara singkat. Dari sinilah tulisan ini berasal dan dibuat, ketika pada aras dunia maya, counter-counter yang dihasilkan oleh para pengemban dakwah yang terkesan unyu-unyu  justru lebih banyak muatan apologetic jomblo.
Dengan pemahaman dasar, Aqidah Islam adalah aqidah yang paripurna, memuat dan mengatur segala urusan manusia secara komprehensif, maka interaksi antar lelaki dan perempuan juga merupakan bagian yang di hukumi dan di atur oleh Islam. Dengan catatan, persoalan dan fenomena ini bukanlah semata-mata hal yang di atur oleh Islam, namun banyak persoalan lain juga di atur oleh Islam, sebagaimana masalah Ekonomi, Politik, social masyarakat, system pemerintahan dsb juga serta merta diatur oleh islam.
Admin dalam hal ini, secara berkelanjutan ikut mendiskusikan fenomena ini dengan teman teman dari komunitas anak baek-baek. Sebuah komunitas dengan struktur yang longgar dan keanggotaannya bersifat tertutup yang dibentuk atas dasar kesamaan ide dan visi antar sesama anggotanya. Nanti dalam artikel ini, Akan dipaparkan beberapa pendapat dari anggota dan elit struktur komunitas baek-baek terkait persoalan ini.

Pemenuhan Naluri
Naluri melestarikan jenis yang salah satu penampakannya ialah naluri seksual/ketertarikan dengan lawan jenis hadir bersamaan dengan keberadaan manusia itu sendiri, maka akan didapati kecendrungan dan penampakan-penampakan yang di sandarkan pada naluri seksual tersebut, pemicu dari kehadiran dan pemenuhan naluri ini berasal dari faktor eksternal. Misalkan adanya ketertarikan ketika melihat lawan jenis, berimajinasi mesum dan liar ketika mendapati contain film porno dsj.  Bila dorongan yang ditimbulkan dari naluri ini tidak tersalurkan, maka akan menghadirkan kegelisahan, Sebagai catatan, naluri seksual tidak bisa dihilangkan, dicabut atau dihempaskan (dengan penekanan bahasa yang sedikit didramatisir), tapi bisa dialihkan kepada naluri lain, seperti dengan kegiatan olahraga atau pun menuntut ilmu dan juga beribadah.  perbedaan pemicu yang cukup fundamental dengan dorongan internal yang biasanya berkaitan dengan kebutuhan jasmaniah berupa kebutuhan sandang, pangan dan papan, tapi keduanya yakni antara naluri dan kebutuhan jasmani adalah potensi hidup yang eksistensinya alamiah dalam diri manusia.
Berdasarkan pandangan di atas, dengan mengaitkan fenomena maraknya status-status yang terus di suarakan oleh individu atau kelompok yang menamakan dirinya Jomblo berkualitas atau jomblo mulia yang secara vocal mengikrarkan keistimewaan seorang jomblo, ternyata mengundang polemik, setidaknya buat komunitas baek-baek yang aktif menyoroti peristiwa ini,  Ketua umum dari Komunitas Baek-baek yakni bung Dim berpendapat, “Awalnya kita mungkin bisa saja cuek terhadap apologi yang dilakukan sebagian jomblo, tapi belakangan ini makin massif, dan mulai banyak orang-orang yang terpengaruh, padahal yang namanya naluri harus disalurkan dengan benar”. Titik tekan yang ingin dikritisi oleh ketum adalah, menyudahi previlese yang berlebihan terhadap jomblo hingga melabeli dirinya sendiri dengan berbagai  label semisal High Quality Jomblo, padahal jomblo bukan lah sebuah ruang vakum yang statis, dalam artian tendensi setiap jomblo adalah menikah, ketika menikah maka gugurlah status kejombloan tadi.
Rasulullah saw. Bersabda “wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu untuk menikah, menikahlah, karena menikah itu dapat menundukkan mata dan menjaga kehormatan. Siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab puasa dapat menjadi perisai baginya (HR al – Bukhari dan Muslim).
Dari hadits di atas, kita dapat ketahui, satu-satunya cara yang paling benar dan sesuai tuntunan syar'i dalam menyalurkan naluri seksual adalah melalui jalan pernikahan. Sebab dengan menikah, berarti seseorang telah dapat menyalurkan nalurinya dengan cara yang halal.
Lebih lanjut ketum menambahkan, ketika mengacu kepada pernikahan yang ternyata sulit untuk diwujudkan dalam waktu yang dekat oleh sebagian mereka dengan beragam alasan, akhirnya mereka melegitimasi statusnya yang sekarang sebagai Jomblo berkualitas, lalu ketum menganalisis setidaknya ada 4 variabel yang biasanya dijadikan apologetik para jomblo, yang Pertama: Urusan keluarga, padahal kalo untuk keluarga, menurut ketum ini adalah urusan yang mudah, dengan membuat pertanyaan sekaligus pernyataan, “Ente mau nikah sama doi apa sama nyokapnya? Yang perlu ente yakinkan Cuma walinya, kalau walinya udah setuju, mau seluruh dunia kagak setuju kagak ada masalah”. Begitu jelasnya.
Yang Kedua: urusan duit, ini juga menurut ketum banyak gampangnya, yang jelas kita yakin rezeki sudah di atur oleh Alloh Swt. Tinggal bagaimana pada tataran syariat kita juga melaksanakan aturan Alloh dengan berikhtiar dan mencari nafkah. Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seseorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar maruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya, belau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain. Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku, karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”
Yang Ketiga: menghambat gerak/laju dakwah, ketum mengomentari hal ini lebih lanjut,                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    " ini tidak relevan sama sekali, apa hubungannya gerak sama nikah, trus kalo nikah dan istri malah menghambat dakwah gimana? Ya, tinggal cerai dan cari yang laen, saya kira teman-teman harus mengingat kisah Abu Bakar ra. Yang menyuruh anaknya Abdullah untuk menceraikan istrinya karena menganggap melalaikan dari  sholat berjamaah dan cenderung asyik bercengkarama dengan istrinya ketika itu”.
Yang Keempat: Urusan mental, ketum menambahkan “Dari ketiga hal di atas dan beberapa catatan yang ane jelaskan ini semuanya Insya Alloh syar’i, coba nte perhatikan kalo ada yang gak syar’i, tapi mental gak siap, bakal keluar seribu apologetic. Gak enak kalo semua anggota keluarga gak setuju lah, pengen hidup layak juga lah, gak baik kalo nikah terus cerai lah, macem2 pokoknya!”.
Ya pada akhirnya, urusan mental tidak bisa diabaikan begitu saja, siap atau tidaknya mengubah wacana pernikahan menjadi nyata, dalam kesempatan yang lain, Bung musafir yang merupakan salah satu pengurus di dalam komunitas baek-baek ikut memberikan pendapat terhadap fenomena ini, ia khawatir niat yang dapat mudah bergeser dari para pihak yang sering mengikrarkan diri sebagai Jomblo berkualitas, lebih jelasnya ia mengatakan “Jomblo2 harusnya mereka sadar diri, kalau mereka itu jomblo, gak usah di umbar-umbar di public, apalagi sosmed, dengan beragam Istilah yang memprevilesekan diri atau kelompoknya sendiri, itu bisa saja mengundang anggapan Cuma sebatas cari sensasi, biar di kata aku adalah laki-laki yang taat agama dan tidak pacaran,.. ujungnya bisa jadi adalah mencari perhatian lawan jenis”. Mungkin pendapat bung ian dinilai terlalu sinis, kalau pun memang begitu, bung ian setidaknya membuat batasan agar tidak terjebak dalam fitnah dan asumsi macam-macam, untuk itu lebih baik di hindari, juru bicara dari komunitas anak baek-baek juga tidak mau ketinggalan, hal yang juga senada dan satu tarikan nafas dengan bung ian, ia mengatakan “Jomblo ya gak usah banyak pembenaran, jomblo ya jomblo ajah, tandanya nte blum dapat jodoh, gak usah curhat atau bertahan dengan pembenaran yang semakin buat nte terpojok di sudut ring pertarungan para pencela, karena sikap reaktif dan defensive yang kian memposisikan pada posisi tertuduh dan bersalah (Defensive Apologetik)”.
Kritik membelai
Ya akhirnya dikesempatan ini, mungkin kita dari komunitas baek-baek adakan sedikit pemakluman terhadap perilaku Jomblo defensive apologetic, dalam hal ini, motifnya mungkin yang bisa dimaklumi, berawal dari konflik psikologis individu, hidup di alam kapitalisme secular yang menghasilkan pergaulan  dan seks bebas, telah memicu gejolak syahwat  para pemuda yang masih dalam status kesendiriannya untuk segera diadakan represi ketika setiap kali syahwat itu muncul, tapi sayangnya teman-teman penanganannya kami pandang kontraproduktif, kenapa bisa begitu? Ya, dengan berangkat dari argument awal, bahwasanya naluri seksual dipicu oleh factor eksternal, kita sendiri jangan coba-coba untuk sering menghadirkan status-status yang isinya tentang ketertarikan lawan jenis dan satrianya seorang jomblo, karena itu sama saja ingin membuang sebrang satu sisi mata koin, teriak-teriak jomblo berkualitas dan cukup tangguh pertahanannya, tapi di sisi yang lain terlihat rapuh karena seringnya status seperti itu hadir dalam kesehariannya.
Maksud kami adalah memberi masukan dan sedikitpun tidak ada niat menghalang-halangi, membumikan suatu opini tentang pergaulan yang sesuai dengan aturan syar’i sangatlah mulia, namun jangan pernah lupa dan mereduksi aturan Islam, dimana bukan saja persoalan individu dan konflik psikologisnya, Islam juga mengatur hubungan bermasyarakat dan bernegara.
Ketika kita menyuarakan persoalan Jomblo yang berkualitas di permukaan hingga berhasil dibumikan karena menjadi opini yang cukup massif, lebih baik kita jangan berhenti sampai disana, persoalan lain perlu di opinikan juga secara massif, sebagaimana persoalan kepemilikan sumber-sumber daya alam yang kini di kuasai asing, sebagaimana persoalan ekonomi kapitalisme yang menenkankan kepada fundamentalisme pasar dan individualisme Method membawa kepada penderitaan rakyat luas, sebagaimana persoalan khianatnya para penguasa yang justru jadi kepanjangan tangannya asing, sebagaimana juga persoalan perlunya system kekhilafahan yang menjadi kepemimpinan umat Islam. Dan sebagaimana persoalan dan problematika umat manusia yang telah secara komprehensif di atur oleh Islam.