Kamis, 16 Januari 2014

Reaksioner?

pada 17 Desember 2010, karena polisi merusak dan menggaruk dagangannya, seorang pedagang sayuran di Tunisia Muhammed Bouazizi  nekat melakukan aksi bakar diri. Bouazizi yang meninggal beberapa minggu setelah itu, kemudian menjadi martir bagi para mahasiswa dan para penganggur yang memprotes kondisi kehidupan rakyat mereka yang miskin.

Tidak jauh berbeda, peristiwa bakar diri merembet di beberapa negara tetangganya. Sebagaimana yang terjadi di Mesir dan Aljazair, fenomena bakar diri juga sempat menjadi perhatian di negeri ini ketika seorang  Sondang Hutagalung, melancarkan aksi bakar diri di depan Istana Negara, penyebabnya di duga adalah refleksi kekecewaan yang sudah memuncak atas berbagai penyimpangan dan tirani penguasa, hal ini dapat terlihat dari sepucuk surat yang ditinggalkan dari si mahasiswa yang berisikan kekecewaan terhadap kondisi masyarakat yang masih berkutat kepada kemiskinan dan mengutuk kezaliman si penguasa jahat.

Kekecewaan yang mendalam tentu menjadi alasan mendasar bagi mereka yang melancarkan aksi-aksi spontanitas seperti itu, dalam khazanah analisis Intelektual, tindakan seperti di atas dijustifikasi sebagai tindakan Reaksioner, dalam istilah Lenin juga disebut sebagai Ekonomisme—yakni perlawanan yang dilakukan tanpa pengorganisasian, tak terpimpin, dan lebih peduli pada ujung-ujung persoalan yang mendesak dan harus terselesaikan sekarang. Artinya, bergerak begitu saja yang penting tuntutan terdekat tercapai.

Contoh lain dari tindakan reaksioner lainnya adalah ketika Anak-anak belia dari keluarga berada (kaum desembris). Yang merupakan perwira-perwira seumur kencur, muak dengan kondisi Rusia. kemudian mereka ingin tampil sebagai pembebas demi rakyat jelata. Namun  harus pasrah dan menyerah diberondong meriam tentara Tsar Aleksander pada 14 Desember 1825.

Kaum reaksioner mungkin telah sampai pada tingkat kemarahan yang memuncak dan mendidih, ingin segera dan harus tersalurkan, karena pada pokoknya mereka tidak terlalu yakin dengan kekuatan massa terorganisir yang telah menemukan pakemnya dalam gagasan dan metode, lebih memilih menjadi seorang pemantik perubahan atas setiap tindakan yang dipandang “heroik”,  seperti yang terdeksripsikan dari ucapan Chun Tae-il, buruh pabrik garmen di kota Seoul, ketika membakar diri di depan aksi. sesaat sebelum api menjilat tubuhnya.

‘Stop eksploitasi buruh! Jangan biarkan kematianku sia-sia!’

Namun kemudian yang terjadi keseringannya adalah mereka kaum reaksioner menjadi martir-martir yang terlupakan dibalik nisan. Melihat fenomena tersebut Objectively, maka tidak ada harapan dan begitu memprihatinkan ketika menjadikan metode reaksioner sebagai metode perubahan yang pejal lagi baku.


Sebagai seorang Muslim kita diikat dengan aturan Islam dalam setiap aktivitas kita di dunia, termasuk dalam menganut sebuah gagasan dan metode perubahan, dalam menganut sebuah metode perubahan kita  harus mengacu pada metode yang benar-benar shahih, yakni metode dakwahnya Rasulullah Saw, berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di atas, timbul pertanyaan, apakah Rasul seorang yang reaksioner? Dengan mudah kita dapat menjawabnya, Apabila Rasul seorang yang Reaksioner dalam artian sempit yakni fokus kepada tujuan-tujuan terdekat tanpa sebuah konsepsi yang jelas dan baku, tentu tawaran dari pihak dan tokoh Quraisy akan di terima, yakni ketika Rasulullah dirayu harta dan ajakan Kekuasaan bersama orang-orang Quraisy.  Tapi karena mempunyai visi Ukhrowi dan di tuntun oleh wahyu, maka Rasul menolaknya. Kemudian lahirlah tahapan-tahapan yang menjadi gagasan dan metode dalam perjuangan menggusur ide, pemikiran dan kekuasaan Kufur hingga Daulah Islam tegak di Madinah, gagasan dan metode itu begitu pejal dan baku, gagasan dan metode tersebut menjadi explanatory factor (factor penjelas)  bagi gerakan sesudahnya yang mengupayakan kebangkitan tegaknya Daulah kembali setelah dihancurkan. Disinilah dituntut untuk se-Link & Match dengan metode dakwahnya Rasul. Karena keketatan pada metode menghantarkan sebuah gerakan kepada tujuan dan kemenangan yang di cita-citakan. wallahu a'lam

Mimpi Gih

Are these times contagious
I’ve never been this bored before
Is this the prize I’ve waited for
Now as the hours passing
There”s nothing left here to mature
I long to find a messenger
Have I got a long way to run (x2)
Yeah, I run (x2)  (Run, Collective soul)

Lagu tersebut baru saja dimainkan di playlist-nya Gih, headset besar melingkari kepalanya, sekali dua kali kepalanya mengangguk-angguk, matanya lebih sering tertutup dibanding melek ketika sedang dengarkan iring-iringan kolektif dari Collective Soul,  saat itu, ia sedang beristirahat di tempat peristirahatannya, ia berbaring di kursi malas, dekat ruang tamu, letaknya tidak jauh dari pintu masuk kamarnya,  beberapa menit kemudian, playlistnya berganti

Engkau gemilang malam cemerlang
Bagaikan bintang timur sedang mengembang
Tak jemu-jemu mata memandang
Aku namakan dikau juwita malam
Sinar matamu menari-nari
Masuk menembus kedalam jantung kalbu
Aku terpikat masuk perangkap
Apa daya asmara sudah melekat (JuwitaMalam)

Ketika dipertemukan lagu ini, Gih tidak lagi sekali ataupun dua kali menganggukan kepala, no more head banging, ia hanya memejamkan mata, menarik dan mengeluarkan nafas secara teratur, meletakkan kedua tangan saling bersilang dibawah dadanya, kemudian 1, 2, 3 dan 4.... lelap ia tertidur.

Memasuki alam bawah sadarnya, kita dibawa gih bertamasya, berjalan-jalan, mengunjungi yudi,reni, igo, ipul, sasha, dan lainnya. Ditengah ramai maupun kesendirian,mimpinya melampaui perjalanan Odisius menuju ithaka yang hilang di batas -batas horison kehidupan, mimpinya seakan membuka tabir yang memang sudah terang benderang sedari asalinya...

                                                                           ***

Yudi baru saja diputus kontraknya oleh perusahaan tambang batu bara, tempat ia bekerja menahun, tiga dekade lebih, di usianya yang memasuki hampir kepala 5, yudi dianggap tidak lagi produktif, sementara diwaktu bersamaan, tenaga-tenaga dari kumpulan sarjana muda  se-antero Indonesia dibidang yang sama dengan yudi, siap menggantikan posisinya dalam pekerjaan. Baru saja kemarin ia diputus kontraknya, pesangon yang dijanjikan perusahaan akan turun dalam tempo sebulan sedari kemarin, masih ia tunggu kepastiannya, tak banyak saldo yang tertera direkeningnya, gajinya selama ini hanya cukup untuk “hidup”. Uangnya terus berputar dan diputar untuk membayar kontrakan,  bayar makan sehari-hari,kebutuhan ketiga anaknya yang masih bersekolah, dsb. Dengan keadaan yang sedemikian itu, maka wajar yudi ketika duduk di ruang tamu keluarga, terlihat ia mengernyitkan dahi dan menggaruk ubun-ubun kepalanya, Post Power Syndrome, begitu sebutan untuk seseorang yang dulunya sangat berjaya, walaupun bisa bekerja untuk sekedar ‘hidup”, namun bekerja dinegeri ini tetap dipandang hal yang prestisius, karena saking sulitnya mencari pekerjaan,  namun kini, layaknya oposisi binner dengan keadaannya yang sekarang. Terluntang dan terlantung tidak berdaya menerima keputusan perusahaan tempat ia bekerja.

Pada saat hampir bersamaan, Reni menangis, minta dibelikan baju seragam dan sepatu baru,karena sudah masuk tahun ajaran baru, ia melihat teman-teman sepermainannya dibelikan sepatu dan baju baru oleh orang tuanya, reni merengek, tangisan itu tak jarang menghasilkan jeritan, reni sianak ke-3 itu bersikeras dan mendesak bapaknya yudi, yudi berusaha menghibur anaknya, dengan tetap menjanjikan sepatu dan baju baru...

“Nak, jangan lagi menangis, bapak akan belikan baju dan sepatunya, tapi tidak sekarang yah nak,karena punya kamu yang sekarang masih bagus dan bisa dipakai, tapi secepatnya bapak janji...”

Gih dipertontonkan pandangan yang sedikit dramatis, tentang dinamika, lika-liku, kesulitan seorang kepala keluarga yang berlokasi di negeri tempat yang sekarang di tempati Gih,negeri yang konon katanya kaya raya, namun rakyatnya hidup sengsara, ia menikmati pemandangan tersebut, dalam mimpi deskripsi itu tervisualkan nyaris sempurna, awal saat dipecat di kantor hingga rengekan reni ia bisa saksikan, dalam mimpi kali itu ia dapat mengunjungi dua tempat di lokasi yang berbeda tanpa perduli dan harus tergesa-gesa dengan rentetan waktu.

                                                                           ***

Igo adalah seorang aktivis mahasiswa tadinya, se-dekade yang lalu, ia dicari-cari rezim,pernah di culik dan jadi tahanan politik, bersama teman-temannya, sifat yang terlalu kritis menghantarkan dirinya pernah menjadi musuh dari Rezim berkuasa.

Tapi kini, posisinya berbeda, keadaan tak lagi sama, ia kini tidak lagi di cari-cari penguasa, apalagi diculik, igo terlihat duduk manis menghadiri rapat-rapat kerja di dewan perwakilan rakyat, dengan setelan hari-hari kemeja dan jas yang match, ia kini masuk lingkaran sistem, ia hadir sebagai representasi yang sangat amat transenden buat rakyat, “Saya dipilih oleh rakyat, dan bertugas mewakili rakyat!” begitu klaimnya,

Masuk periode keduanya di gedung milik rakyat dan hampir habis, ia mengemban misi untuk bisa selamat mengamankan posisinya lagi duduk di gedung tersebut, berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan elektabilitasnya kembali, banyak jalan menuju Roma,banyak cara melanggengkan takhta, termasuk jalannya adalah membuat buku, ia membuat buku tentang hal-hal yang heroik berkaitan dengan Revolusi dan dirinya,perubahan mendasar menuju negara sejahtera yang di cita-citakan. Dan ia merasa pandai untuk menjelaskan karena pernah menjadi agensi perubahan, Tapi hal ini bagi sebagian orang bak lelucon garing yang sedang dipertontonkan komedian sadis dengan melukai lawan mainnya dengan palu dan golok di tengah-tengah pemirsanya, mengingat apa yang pernah ia suarakan dan pernah ia lakukan,kemudian dibandingkan dengan apa yang sudah dan baru saja ia lakukan selama dua dekade bercokol di kursinya, bagaimana seorang Igo sebenarnya tidak lagi tahu menahu dan tidak ingin ada sangkut pautnya tentang Revolusi , karena Revolusi/perubahan mendasar berarti banyak hal dan salah satunya dapat mengancam keberadaannya.

Gih meludah jauh dibelantara hutan beton di alam mimpinya, melihat sang politisi, ia jijik dengan jualan dan kampanye sang politisi yang dibalut hal-hal heroik tentang romantisme sejarah perjuangan. Tak tahan melihat tampang dan wajah sang politisi, gih terbang, pergi menjauh untuk mengunjungi orang berbeda

                                                                            ***

Ipul sudah siap memasuki pintu masuk tempat ia memompa semangatnya agar terus dan terus bekerja dengan giat, dengan tinggi harapan dapat menghasilkan uang yang banyak, “Investasi masa depan!”  ia berucap. sebelumnya,  ia sudah membeli tiket masuk acara yang ia tuju, yakni Training Motivasi pak Doyong seharga belasan juta, uang itu ia sengaja kumpulkan selama 1 tahun bekerja di toko Material pasir bagian accounting.
Pak doyong dengan berjalan perlahan dan badan yang tegap sudah ada di podium acara, ratusan peserta menyambutnya dengan tepuk tangan dan senyum lebar-lebar, Pak doyong mengeluarkan jargon-jargon dan slogan-slogan fenomenal seorang training seperti biasanya, “Harus Bisa!”, “Harus Semangat!”, “Tidak Boleh menyerah!”, dan sejenisnya. Jargon- jargon itu selama 4 jam ia mengisi acara selalu menghiasi dan tidak jarang dilakukan pengulangan.

Gih melihat bagaimana seorang pak doyong membius peserta dengan retorika dan slogan yang kerap ia ulang-ulang, gih nyeletuk, “tidak bosan kah mereka dengan slogan tersebut?” kenapa tidak diganti dengan “Bubur ayam sunda enak!”, “garam rasanya asin!”, atau “gula rasanya manis”, hal itu adalah fenomena-fenomena yang lebih realistis karena berdasarkan dari pencerapan pancaindera ketimbang ucapan pak doyong, begitu ia berkelakar.

Acara itu berlangsung dilantai 20 gedung pencakar langit dekat bundaran HI, sementara di waktu yang hampir bersamaan, di basement gedung tersebut, seorang pemuda yang biasa dipanggil Panjoel, bertugas menagih harga parkir bagi kendaraan yang keluar-masuk gedung tersebut, hari-hari ia melakukan triknya, ia memindahkan fakta ke dalam penginderaan secara keliru, bila tertera tagihan 2 ribu dalam layar lcd-nya, ia bilang kepengendara bermotor 3 ribu, hampir setiap pengendara yang secara gesture tidak begitu perduli dengan permainannya ini, ia lancarkan sejurus tersebut.

buat nambah – nambah uang rokok!, kalo Cuman ngandelin gajih, mana cukup buat rokok sama jajan!

begitu ia bicara ke teman-teman satu pekerjaannya, yang secara tak sadar sedang ia pengaruhi untuk dapat mencapai sebuah elaborasi yang sama dan menawan dalam melakukan sebuah kecurangan, partner kejahatan.

Lebih dari dua ratus meter dari gedung tersebut, terdapat sebuah pusat perbelanjaan,  Sasha datang bersama teman-temannya se-angkatan kelas 4 SDN 06 Pagi Cirendeu, ia datang bertiga, sasha diberi mandat untuk jadi ketua kelompok tersebut, ia kesana bukan untuk berbelanja bersama teman-temannya, tapi siang itu ada band favoritnya dan teman-temannya bakalan tampil, co’boi junior, nama bandnya, Sasha dan ketiga temannya sangat amat begitu menyukai Co’boi Junior, ia bisa dibilang sebagai fans garis keras co’boi junior, layaknya  ultras Curva Sud dan Curva nord untuk para fans fanatik sepakbola di Italia yang berada di tribun utara dan selatan, dimanapun band itu tampil, sasha dan teman-temannya selalu berupaya menguntil,untuk dapat menyaksikannya.

Fans co’boy Junior Garis Keras!

Gih berucap, melihat fenomena anak SD yang keranjingan artis idolanya.

Dari beberapa kejadian tadi, Orang-orang tersebut dinilai aneh menurut perspektifnya gih, tapi tidak bagi perspektif orang yang bersangkutan, buktinya di alam yang lebih Real dari sebuah mimpi semalam gih, fenomena – fenomena tersebut bisa kita jumpai.

                                                                           ***

Sore memasuki senja, matahari bersembunyi di balik awan,sedikit lagi akan ada peristiwa yang sedang akan berlangsung, ketika gelap menerobos masuk ke senja secara perlahan. Dan malam menemui momentumnya untuk berganti dengan siang. Awalnya dari jejeran rumah berkontrak, satu rumah sudah di amati sejak 2 bulan lamanya, terlihat seseorang mondar-mandir di lingkungan tersebut, kadang melihat Hp sambil ngerokok sebatang samsu, kadang celingak celinguk ke area teras di lingkungan tersebut, satu rumah jadi pusat perhatian orang-orang pendatang yang biasa mondar-mandir selama 2 bulan itu.

malam ini akan kita eksekusi!,

begitu bunyi dan perintah atasan yang disegani kepada sekelompok pasukan khusus. Akhirnya kejadian juga, rumah itu dibombardir senapan, bunyi pekikan bising dari letupan senjata begitu deras diperdengarkan, kebanyakan warga sekitar tidak takut, bahkan tidak sedikit yang pergi menghadiri orkestra pasukan khusus ketika menggerebek remaja-remaja yang berada dikontrakan tersebut.

“Apa salah mereka,hingga harus diberondong senjata, apa karena mereka terduga teroris, jadi bisa diperlakukan seenaknya, mana SOP penangkapan yang benar yang selalu dijunjung tinggi dan dijadikan alasan ketika berhadapan dengan media massa oleh jubir aparat”.  Begitu suara hatinya Denny,adik seorang jimmy yang sedang berada dikontrakan yang tengah di sergap pasukan khusus, sesaat setelah ia melihat kakak dan teman-temannya diperlakukan sedemikian keji, hatinya merintih, nafasnya sesak, matanya menatap tajam,sedikit sekali berkedip, ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang luka setelah menyaksikan kejadian itu, sebuah aksi penangkapan teror telah menanamkan benih-benih teror kedalam jiwa Denny, ia siap untuk membalas, saatnya mengorganisir kekuatan, kilahnya.

                                                                         ***

Gih, sekali lagi melihat pemandangan yang tak elok dilihat oleh mata, mimpinya semalam ini dirasa mengecewakan olehnya karena hampir bisa ia lihat dalam kehidupan sehari-hari yang Real di tengah-tengah ia berada dinegeri tempatnya bernaung, padahal ia berharap bisa berada di belantara awan dan ditemani selir-selir disekelilingnya kemudian bersenda gurau dengan para selir sembari menyeruput kopi panas dan menghisap satu batang tembakau berkualitas tinggi, tapi apa boleh buat, ia tidak bisa memilih mimpi, layaknya memilih audio track semaunya dalam sebuah Cd, seketika itu masih di dalam mimpi, tiba-tiba ada seorang tua berperawakan seperti gandalf datang menghampirinya

”Hei anak muda, badan kamu masih gagah, tubuh kamu kuat, punya paras yang standar tampan, dan berbicaramu lugas, kamu gandrung terhadap ilmu pengetahuan, kamu pantas menjadi agensi perubahan yang dibutuhkan negerimu sekarang, tapi mengapa oh mengapa,kamu masih tertidur!”

Orang tua berperawakan gandalf dengan kaus kutang itu berujar demikian kepada gih, setelah mengungkapkan kata-kata itu, orang tua tersebut meludah ke arah gih, ludah itu layaknya air mancur besar, hingga gih sulit bernafas dan terbangun dari tidurnya.

Mau dikatakan apalagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana, aku disini
Mesti hatiku memilih.... (Raisa,)

Ketika terbangun, reffrain ini yang terdengar ditelinganya gih, belum sampai habis lagu tersebut, gih mencabut headset di handphone-nya, kemudian ia celingak-celinguk ke arah sekitar rumahnya, sekali lagi, ia masih berada dikursi malas dan berusaha untuk tidur dan berharap mimpi yang sama tidak hadir berseri.
 

Melewati Rere & Gih

Mendung tak berarti Hujan”, kredo ini spertinya tidak berlaku di kondisi yang sedang dialami Rere, mendung sudah beranjak kepada gerimis, kemudian gerimis yang terorganisir secara bertahap membuat derasan air turun, Hujan pun tiba tidak secara tiba-tiba, ia hadir setelah ada penanda awal mendung yang berarti juga hujan. Rere tidak ingin menegur sapa hujan dengan menghampirinya, diantara perbatasan penghalang beton antara dirinya dengan hujan, ia lebih memihak kepada si gedung beton,dengan bersembunyi dibawah atap gedung tersebut.

Bukan hanya dirinya seseorang yang berteduh disana, ada belasan kepala yang menemaninya mengemban tugas taktis yang sedang diemban bersama, menunggu hujan reda. Belasan orang tersebut membentuk kelompok masing-masing berdasarkan kedekatan emosional antara individu-individu yang terakumulasi secara strategis berdasarkan ruang dan waktu. Namun mungkin hal ini juga tidak begitu berlaku untuk Rere, ia tidak menjadi agensi apapun dalam kumpulan orang tersebut, ia mengemban tugas sendirian, Single Fighter, pahlawan yang ketika menunggu hujan reda namun tetap kesepian sebelum atau sesudahnya.

Rere berada ditengah-tengah dekat tiang penyangga gedung, menolehkan pandangannya kearah kiri jauh, ia melihat lelaki gagah yang mengenakan seragam Levais mengantungkan kedua tangannya yang saling berkelindan di dadanya, sembari bersenda gurau dengan dua orang teman sebayanya, senyum lelaki itu menganga perlahan dengan gigi putih rapih tersusun secara teratur, tampak kumis tipis tertempel di atas bibir lelaki itu, kulitnya sawo setengah matang, matanya sedang berbinar-binar, rambutnya setengah klimis, mungkin sebagian basah dan mengering sebagai imbas terkena air hujan, pipinya tirus, tidak ada lesung pipit, lelaki dengan tekstur dan gestur yang hampir sempurna bagi penglihatan Rere, dengan tinggi melampaui 180 cm, postur seperti itu sudah cukup ideal dinegeri Rere tinggal,  masih terus berbicara sembari senyum  dan tertawa bersama teman-temannya, Strike! Gih, begitu nama lelaki itu biasa dipanggil, Gih menyita perhatian Rere, ia tidak mengira,pandangannya akan berakibat fatal bagi kestabilan di jantung naluri melestarikan jenis yang secara Fitrah hadir alami bersama dirinya, tapi bukan kali itu sebenarnya Gih menarik perhatian Rere, sudah sejak 2 bulan yang lalu,ketika keduanya secara bersamaan berada di tingkat dan Fakultas yang satu diperguruan tinggi yang sama.

Tidak juga Rere alihkan pandangannya terhadap Gih, Rere menatap gih di setiap gerakan, setiap gerakan bibir, setiap langkah satu atau dua kemudian berbalik mundur, Rere memaku disana, namun ketika gih secara tak sadar melayangkan dan membuang pandangannya ke arah sembarang dan salah satu buangan wajah gih secara tidak sengaja datang kepada Rere, secepat kilat Rere membuang pandangannya kearah selain Gih, entah memandang tong sampah besar yang berada tidak jauh disebelah gih, terus 40 derajat ke kanan ia memandang ke pos jaga gedung kampus, atau melongok ke atas, yang secara gestur di artikan sebagai kepura-puraan menunggu hujan reda.

Ia berharap bisa lebih lama disana, dengan aktivitas yang demikian, terus memandangi orang yang ingin ia pandang tak jenuh dan tak bosan, hujan tak ada tanda – tanda reda ketika sudah masuk hitungan satu jam lewat, Rere juga tak mengharapkan hujan reda, kondisi tersebut jarang ia dapati, dimana ia bisa leluasa mengawasi gerak-gerik Gih tanpa harus di pergoki oleh orang yang ia kenali maupun mengenalnya di lingkungan kampusnya.

                                                                             II

Terlambat masuk 15 menit, ibu dosen Ilmu komunikasi politik sedang memberikan dan mengajarkan beberapa materi pengantar ke anak-anak semester awal,  Rere mengintip di depan pintu kelas, berat dan segan rasanya untuk mengetuk pintu dan masuk kelas, ia takut menyita banyak perhatian, 2 menit ia berfikir untuk tetap melanjutkan itikad awalnya atau tidak masuk kelas sama sekali, tak lama kemudian ada orang dari belakang Rere masuk kelas dengan melakukan beberapa penghirauan atas kekhawatiran yang dialami Rere, keputusan akhir telah dibuat, Rere memberanikan diri untuk mengetuk dan masuk kelas, terlihat beberapa murid mengalihkan pandangan dari bu dosen ke Rere, Mahasiswi semester awal fakultas Ilmu Komunikasi politik.

Rere bukanlah mahasiswi populer dan aktif di kelas, ia tidak senang menyita perhatian banyak orang, tempat duduk di antara depan dan belakang yakni tengah adalah kegemarannya, dari sana ia bisa menyembunyikan kepalanya dari pandangan dosen, sehingga berharap tidak banyak ditanyai oleh dosen pengajar, begitu juga di hadapan teman-temannya, ia tidak suka membentuk kelompok dan komunitas-komunitas kecil di kelas, menyembunyikan identitas dan sifat setengah terbuka lebih ia sukai, poros tengah/ setengah-setengah dalam komunitas pergaulan, Confidence adalah kata yang jauh melampaui karakter seorang Rere, maka wajar ia tidak mempunyai banyak sahabat untuk tertawa, bertukar cerita atau berbagi keluh dan kesah, tapi sekali lagi, itu posisi yang ia sukai.

Ratusan bahkan Ribuan hari telah menanti Rere untuk bisa segera dilalui dalam kehidupan kampus, ia berharap waktu itu terus berlalu cepat, sehingga tidak lagi dapat kesempatan untuk menyita perhatian banyak manusia, sesuatu yang membuat ia sering dan amat cemas.

Namun tidak seperti apa yang dibayangkan, hari-harinya mungkin makin bertambah berat,setelah Gih sedari awal sudah hadir di tengah-tengah aktivitas kuliahnya sehari-hari, karena memang satu angkatan dan Fakultas yang sama, untuk mahasiswa semester  awal yang biasa disajikan mata kuliah serba pengantar, semua diposisikan sama, tidak ada yang mengulang dan tidak ada yang melaju duluan, semua harus berangkat dari kelas pengantar. Untuk awalan, sekitar hampir 11 bulan Ia akan lebih sering berada dengan gih di kelas.

Kesukaan harus disembunyikan dari Rere untuk seorang Gih, “pantang untuk tahu!” hal ini akan jadi Rahasianya, ia berjanji dan berkomitmen tidak boleh ada orang yang tahu selain ia seorang, tentang perasaan yang menghuni dalam hatinya, janji dan komitmen ini serupa vitalnya kata Omerta yang lazim di negeri para mafioso,biarkan saja perasaan ini mengalir, entah itu kesungai yang jernih, lautan yang biru nan bersih atau ke got pembuangan sisa sampah makanan warung nasi Padang.Kemanapun perasaan itu berujung nantinya, hal itu ia yakini, dapat menyingkap sebuah rahasia besar, memudar atau makin membesar.

                                                                           III

Gih dengan berbagai Varian yang mencakup di dalam dirinya, telah membuat dirinya otomatis meroket sebagai orang popular di lingkungan kampus, Paras yang gagah nan tampan, berasal dari keluarga terlanjur  tajir, berkendara MoGe, Supel dalam berinteraksi kepada orang lain, cukup ahli dalam memetik guitar dan memainkan piano, adalah previlese bagi dirinya untuk menghuni salah satu siswa paling  populer di kampus dan previlese tersebut menghantarkan Gih masuk ke sekumpulan orang-orang Ekslusif. Ekslusif disini juga berarti situasi yang partikular dari pergaulan normatif di lingkungan kampus akan terbiasa dilampaui kedepannya.Pergaulan bebas dan narkoba adalah kata kunci dari kesimpulan akhir sebuah lingkungan ekslusif yang satu ini. Meminjam Frase dari film Matchstick Men dengan memuat Gih sebagai subyek “Gih sebenarnya bukan orang Jahat, ia hanya kurang begitu baik.” Berawal dari sebuah pergaulan yang menurutnya hanya sebatas bergaul menambah aktivitask eseharian, tapi frekuensi yang terlalu sering bertemu dengan teman-teman yang mengajarkan kebalikan dari ikhwal kebaikan dan keburukan, membuat dirinya sendiri sulit di atasi, kemudian larut dalam sebuah pesta sehari-hari yang menunggu jam malam habis dan berakhir. Setelah itu berharap hadir lagi dalam pesta yang tentu akan berakhir dan esok berulang kembali.

Perjalanan yang begitu dalam hidup gih, terjadi hingga di tahun ketiganya di kampus, lalu bagaimana kabar kuliahny? Ia hanya mampu melewati mata kuliah pengantar di semester awal, sisanya mengulang. Lalu bagaimana juga dengan Rere? Wanita yang di fragmen awal begitu terpikat dengan Gih, Berkebalikan dengan situasiyang di alami Gih, Rere hanya memikirkan bagaimana cara kuliahnya bisa cepat kelar, maka ia lebih serius membaca dan mengulang pembacaan, mengerjakan tugas dan makalah yang diberikan ibu/bapak dosen, banyak berdiskusi dengan teman dan senior yang perduli tentang urgensi Pembelajaran di kampus, sudah jarang masuk terlambat ke kelas dan hasilnya bisa terlihat, secara bertahap Indeks prestasinya meningkat perlahan, rasa Confidence secara gradual juga meningkat perlahan hingga sampai ditingkat kestabilan tertentu. Sementara itu di tahun ke-3 akhir, ada kabar tak sedap beredar di lingkungan kampus, Gih terkena penyakit, sebut saja nama penyakitnya HIV Aids, banyak mahasiswa lain yang mendengar hal ini memaklumi penyakit yang di derita Gih dikarenakan kesalahan dirinya sendiri, kabar ini sampai di telinga Rere, ia begitu terpukul mendengar hal ini, bagaimana bisa Gih sebegitu ceroboh dan Idiotnya membiarkan dirinya tercebur dalam arena kesenangan bebas, dan harus menanggung segala resiko yangada dan harus ia tempuh kini dan nanti, banyak orang dan teman menjauhi gih, hanya Ryan yang berani mendekat, teman sedari kecil yang juga kuliah di tempat yang sama dengan Gih, namun beda Fakultas.

Saat waktu telah menunjukan siang bolong, Gih, Wajahnya pucat pasi, bobot badannya berkurang drastis, terlihat serat tulang lengan ketika ia memakai kaos oblong, sesekali ia batuk-batuk, sedang menggenggam sarung tangan, sebenarnya ia sudah terlarang dan dilarang masuk kampus, tapi karena kekayaan kedua orang tuanya, kampus swasta tersebut bersedia menanggung Gih sampai lulus dengan beberapa catatan, salah satunya ialah, harus memakai masker dan diberikan kelas khusus secara retoris yang juga berarti ruang isolasi. Dalam keadaan sedemikian mengkhawatirkan, Rere tidak sampai hati melihat keadaan Gih, “ia bukan orang jahat, hanya kurang begitu baik”, Rere selalu mengulang-ulang perkataan itu di dalam hatinya ketika melihat gih dari jejauhan, sendirian tak berteman sedang duduk di teras kampus. Namun apa lah daya, ia punya komitmen dan janji untuk masih merahasiakan perasaannya hingga sampai waktu yang belum di tentukan.

                                                                              IV

Sudah 4 tahun terlewat sejak kemarin masih banyak cerita tentang kehidupan kampus beserta panoramanya, cerita yang mengerucut kepada dua orang, Rere & Gih,setelah lulus Rere mendaftarkan diri dan diterima menjadi guru SMA berstatus honorer di Lokasi yang tidak jauh dari lingkungan tempat tinggalnya, mengikuti jejak kedua orang tua yang mempunyai background Pns sedari muda dahulu, maka Rere tidak ingin mengambil resiko lebih untuk bertaruh di kancah dan bidang yang lain selain melakukan regenerasi pekerjaan kedua orang tuanya, karena itu, tidak ada manuver berlebihan terhadap karir pekerjaannya. Kini Rere Mengajar dan menjadi guru.

Tidak ada kabar mengenai Gih, kabar mengenai dirinya sering menguap seperti berita kesewenang-wenangan para elit penguasa dalam ranah kebijakan terhadap rakyatnya,kadang hadir menguat sebentar lalu kemudian memudar, layaknya berita skandal penjarahan uang negara melalui bank sentury yang pelakunya masih sama, elit penguasa. Berita mengenai gih hanya desas-desus, tak ada yang pasti, hingga disuatu sore, di meja kasir sebuah Mini market yang tertuduh kuat menjadi salah satu instrumen yang telah mematikan pasar tradisional dan warung-warung kecil, Rere bertatap muka sebentar dengan Gih yang berada di area Mini market tersebut,sama-sama berada di meja kasir, Gih mendahului Rere, “Rokok Samsu sebungkus!” ucap gih kepada Mas si tukang kasir.

“Gih ya? Apa kabarny?” Rere berucap
“Alhamdulillah baik” balas Gih

Setelah tegur sapa yang sebentar  dan setelah Gih membayar rokok, gih pamit untuk keluar lebih dulu dari mini market tersebut, Rere hanya membalasnya dengan anggukan.

Rere masih menyukai sosok gih, walaupun sudah terhitung tahunan terlewati, tapi sekali lagi, apa daya, ia sadar, ia hanya seorang perempuan yang masih menunggu dan sedikit banyaknya tahu dan mengenal ajaran agamanya untuk menjaga interaksi laki-laki dan perempuan yang secara hukum asalnya adalah terpisah.

Keesokannya,ketika Rere iseng membuka media sosial, lalu ada konfirmasi pertemanan sedang menunggu untuk dikonfirmasi dan diterima, sosok calon teman itu tidak asing baginya,orang itu Gih. Rere mengkonfirmasi Gih, kini mereka berteman di media sosial tersebut, di era smartphone seperti sekarang, tidak di butuhkan waktu yang lama untuk Gih mengetahui bahwa Rere telah mengkonfirmasi dirinya, tidak lama berselang pesan masuk ke Rere, Pesan itu memuat photo, awalnya hanya dua, tapi semakin ditunggu semakin bertambah,hingga sebelas, bertambah lagi, hingga bilangan hampir 30-an, hampir 30 photodi dalam pesan itu, dari seorang Gih ke Rere, Rere tercengang melihat muatan photo itu.

Tentu saja Rere heran dan tercengang melihat photo-photo itu, karena photo tersebut menampilkan satu objek yang begitu dominan, yakni dirinya sendiri, Mulai saat hari pertama kuliah, beranjak ke hari-hari dimana ia aktif kuliah, adegan saat menulis tugas kuliah, berbicara kepada teman sebaya dan sekelas, lamunan,keseriusan ketika mendengarkan dosen mengajar, berjalan ke arah kantin, sampai saat perbincangan setelah wisuda dengan kedua orang tua dan yang terakhir adalah pemandangan ketika Rere membuka pintu keluar Mini Market, photo-photo tersebut eksis tanpa di sadari Rere.

“Apa maksudnya ini semua dan bagaimana bisa?”Rere membalas pesan
“Photo tersebut aku fikir dapat mewakili apa yang sedang aku rasakan tanpa harus aku katakan seribu rayuan dan seribu bujukan perasaan kepada kamu, maaf telah lancang,  dengan kondisiku sekarang yang tentu kamu telah ketahui dari kabar sehari-hari dikampus dahulu, aku menawarkan kesediaan kamu untuk menjadi pendamping hidupku?? Jangan tergesa-gesa dalam menjawabnya,aku akan sabar menunggu jawabmu.” Balasan Gih.
“Iya, aku bersedia” Rere menjawab pesan tersebut tidak kurang dari 5 menit.

Situasi yang dilampaui oleh dugaan Rere terjadi dihadapannya kini, Happy ending/akhir bahagia/bahagia sampai akhir mungkin jalan keluar terbaik dari kisah mereka, mari berharap tidak ada lanjutan atau seridari kisah ini, karena hal itu berarti mengharapkan adanya konfrontasi terhadap hubungan mereka yang bisa saja berakhir tragis.

Sekian, 17 januari2014

Masih di kamarlantai 2 , Indonesia bagian Timur

Minggu, 05 Januari 2014

Mengingat Kembali, Kembali mengingat

Balikpapan Timur,Manggar-Batakan, masuk awal Januari, pukul 00.30, dikamar tempat tidur yang sedang dihuni oleh 3 orang, karena tidak didapati petikannya Depapepe, alunan pengiring ketikan saat ini adalah WishfulThinking-nya John petrucci dan sesekali diselipi album stressless-nya eric Brenton, bagi saya pribadi, catatan ini dibuat untuk mengingatkan kembali pentingnya intropeksi diri agar tidak puas dalam memberikan ketaatan terhadap Alloh, sang pencipta Alam semesta, kehidupan dan manusia. saya akan memulai dengan berbagi kutipan dalam kesempatan kali ini, dalam tagline “Kobaran hawa Nafsu” seorang ulama besar pernah menulis begini

Barang siapa yang tergoda hawa nafsunya untuk merasakan suatu kenikmatan yang diharamkan,hendaklah ia memikirkan akibat perbuatannya itu. Hendaklah ia mendengarkan suara akal yang memanggil, “Janganlah engkau lakukan!, jika engkau lakukan dosa itu, engkau akan terhenti dan jatuh ke jurang kehinaan.” Akal akan memanggilnya“kokohkanlah dirimu.” Jika yang menguasai jiwanya saat itu adalah nafsunya,pasti ia tidak akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh akal tadi. Orang seperti itu laksana anjing yang berkata kepada singa, “Wahai raja segala binatang buas , gantilah namaku, karena namaku sangat buruk.” Singa berkata,“Tak mungkin karena engkau adalah pengkhianat dan tak ada yang cocok untukmu kecuali nama itu.”

Anjing berkata“Coba saja!” setelah itu sang anjing diberi sepotong daging dan singa berkata kepadanya, “jagalah daging ini sampai esok hari, baru akan aku ganti namamu!.”Saat menunggu itulah sang anjing merasa lapar, namun ia bertahan sabar. Akan tetapi, tatkala laparnya betul-betul memuncak dan hawa nafsunya menaklukannya,ia bergumam, “Apa artinya namaku, nama anjing toh juga baik.” Akhirnya, anjingitu pun memakan potongan daging yang dititipkan kepadanya. Demikian pula orang-orang yang lemah semangatnya dan rela dengan kedudukan yang rendah; merekalebih mendahulukan hawa nafsu daripada hal-hal yang utama.
Berhati-hatilah terhadap hawa nafsu tatkala ia berkobar-kobar. Carilah jalan untuk menaklukannya. Mungkin saja ketergelinciran pada hal-hal kecil akan menjerumuskan seseorang ke dalam jurang yang sangat dalam. Ingatlah bahwa yang lalu tak akan pernah kembali. Jauhilah sebab-sebab fitnah, sebab mendekatinya sama dengan mendekati fitnah. Sangat jarang mereka yang mendekati fitnah akanterselamatkan (Imam ibnu Al-Jauziy , Shaidul khatir)

Semoga saja kutipandi atas setidaknya bisa mengingatkan kita, tentang pentingnya untuk selalu mengupayakan langkah-langkah antisipatif agar tidak gampang tunduk terhadap hawa nafsu sehingga “rela dengan kedudukan yang rendah”, berkaitan dengan kondisi kekinian, tentu banyak diantara kita yang ilmu dan akal tidak berkembang sama luasnya, jika mau menengok kebelakang, maka benar adanya perkataan pemimpin besar ulama Tabi’in, Ibnu Ahmad Al-Farahidi:

“Barangsiapa yang akalnya berkembang seluas ilmu yang diberikan Alloh kepadanya, maka diadan umatnya sama-sama mendapatkan karunia yang besar. Barangsiapa yang akalnya tidak berkembang seluas ilmu yang diberikan Alloh kepadanya, maka dia menjadi musibah besar bagi dirinya sendiri dan bagi umat yang mengikutinya” 

Manusia dalam melakukan suatu tindakan, bergantung kepada apa yang telah menjadi pemahamannya, informasi yang tadinya hanya berupa pengetahuan dapat menjadi pemahaman ketika informasi tersebut diafirmasi menjadi sebuah kebenaran. Pemahaman/kesadaran/rasio ini melampaui idealisme Hegel, dimana menekankan kesadaran/rasio sebagai begawan atas relasinya terhadap realitas, pemahaman/kesadaran/rasiomodel seperti ini adalah keliru, karena pemahaman dibentuk salah satunya dari informasi awal yang tentunya informasi awal ini berawal bukan dari makhlukmelalui jalan rasio semata wayang, karena dalam hal ini rasio terbatas setelah dibuktikan dan diketahui sifatnya sebagai makhluk, penyandaran informasi awal yang benar akan menuntun kita kepada kebenaran, harus dipilah dan dipilih ketika menentukan sandaran informasi awal yang berasal dari makhluk atau bukan makhluk yang bersifat azali dalam hal ini Tuhan semesta alam, agar tidak terjebak dalam jurang relativisme yang tidak berujung sehingga alergi dengan kata kebenaran. Perangai seperti ini sering dijumpai dalam khasanah intelektual kita beberapa dekade belakangan.

Dan Ketika sebuah pemikiran telah menjadi pemahaman, maka orang tersebut idealnya,berfikir dan bertindak sesuai dengan apa yang telah menjadi pemahamannya, tidaksaja dalam lingkup pribadi, interaksi ruang lingkup bernegara juga menjadi obyek yang dijustifikasi oleh pemahamannya. Ketika Kapitalisme hari ini yang menjadi Ideologi negara, maka hal ini harus dicermati berdasarkan apa yang telah menjadi pemahamannya, membuat perhitungan terhadap Kapitalisme dengan jalan menumbangkannya atau dibiarkan begitu saja cengkraman Kapitalisme saat ini, kalau kita hadap-hadapkan Islam sebagai Ideology, Islam sebagai sumber pemahaman kita kemudian dihadapkan dengan Kapitalisme, maka hal-hal yang menjadi pokok dan dasar dari logika internal Kapitalisme itu sendiri sejatinya sudah bertentangan dengan Islam, seperti halnya semangat Sekularisme dan Kebebasan berkepemilikan Individu, maka dengan jelas dan kasat mata, Islam datang sebagai patahan radikal terhadap Kapitalisme.

Kini pilihannya terbatas, menyetujui dan berjuang dalam penumbangan Kapitalisme, dalam hal ini mengajukan Islam sebagai solusi bernegara, atau kah justru kita menggugat wahyu-wahyu Tuhan melalui lisan Nabi-Nya dengan jalan menolak Islam sebagaiideologi negara?

Tentu pilihanyang kedua, tidak akan pernah menjadi pilihan muslim yang berakal.Revolutionary start in the mind