Are these times contagious
I’ve never been this bored before
Is this the prize I’ve waited for
Now as the hours passing
There”s nothing left here to mature
I long to find a messenger
Have I got a long way to run (x2)
Yeah, I run (x2) (Run, Collective soul)
Lagu
tersebut baru saja dimainkan di playlist-nya Gih, headset besar
melingkari kepalanya, sekali dua kali kepalanya mengangguk-angguk,
matanya lebih sering tertutup dibanding melek ketika sedang dengarkan
iring-iringan kolektif dari Collective Soul, saat itu, ia sedang
beristirahat di tempat peristirahatannya, ia berbaring di kursi malas,
dekat ruang tamu, letaknya tidak jauh dari pintu masuk kamarnya,
beberapa menit kemudian, playlistnya berganti
Engkau gemilang malam cemerlang
Bagaikan bintang timur sedang mengembang
Tak jemu-jemu mata memandang
Aku namakan dikau juwita malam
Sinar matamu menari-nari
Masuk menembus kedalam jantung kalbu
Aku terpikat masuk perangkap
Apa daya asmara sudah melekat (JuwitaMalam)
Ketika dipertemukan lagu ini, Gih tidak lagi sekali ataupun dua kali menganggukan kepala,
no more head banging,
ia hanya memejamkan mata, menarik dan mengeluarkan nafas secara
teratur, meletakkan kedua tangan saling bersilang dibawah dadanya,
kemudian 1, 2, 3 dan 4.... lelap ia tertidur
.
Memasuki
alam bawah sadarnya, kita dibawa gih bertamasya, berjalan-jalan,
mengunjungi yudi,reni, igo, ipul, sasha, dan lainnya. Ditengah ramai
maupun kesendirian,mimpinya melampaui perjalanan Odisius menuju ithaka
yang hilang di batas -batas horison kehidupan, mimpinya seakan membuka
tabir yang memang sudah terang benderang sedari asalinya...
***
Yudi
baru saja diputus kontraknya oleh perusahaan tambang batu bara, tempat
ia bekerja menahun, tiga dekade lebih, di usianya yang memasuki hampir
kepala 5, yudi dianggap tidak lagi produktif, sementara diwaktu
bersamaan, tenaga-tenaga dari kumpulan sarjana muda se-antero Indonesia
dibidang yang sama dengan yudi, siap menggantikan posisinya dalam
pekerjaan. Baru saja kemarin ia diputus kontraknya, pesangon yang
dijanjikan perusahaan akan turun dalam tempo sebulan sedari kemarin,
masih ia tunggu kepastiannya, tak banyak saldo yang tertera
direkeningnya, gajinya selama ini hanya cukup untuk “hidup”. Uangnya
terus berputar dan diputar untuk membayar kontrakan, bayar makan
sehari-hari,kebutuhan ketiga anaknya yang masih bersekolah, dsb. Dengan
keadaan yang sedemikian itu, maka wajar yudi ketika duduk di ruang tamu
keluarga, terlihat ia mengernyitkan dahi dan menggaruk ubun-ubun
kepalanya,
Post Power Syndrome, begitu sebutan untuk seseorang
yang dulunya sangat berjaya, walaupun bisa bekerja untuk sekedar
‘hidup”, namun bekerja dinegeri ini tetap dipandang hal yang prestisius,
karena saking sulitnya mencari pekerjaan, namun kini, layaknya oposisi
binner dengan keadaannya yang sekarang. Terluntang dan terlantung tidak
berdaya menerima keputusan perusahaan tempat ia bekerja.
Pada
saat hampir bersamaan, Reni menangis, minta dibelikan baju seragam dan
sepatu baru,karena sudah masuk tahun ajaran baru, ia melihat teman-teman
sepermainannya dibelikan sepatu dan baju baru oleh orang tuanya, reni
merengek,
tangisan itu tak jarang menghasilkan jeritan, reni sianak ke-3 itu
bersikeras dan mendesak bapaknya yudi, yudi berusaha menghibur anaknya,
dengan tetap menjanjikan sepatu dan baju baru...
“Nak,
jangan lagi menangis, bapak akan belikan baju dan sepatunya, tapi tidak
sekarang yah nak,karena punya kamu yang sekarang masih bagus dan bisa
dipakai, tapi secepatnya bapak janji...”
Gih
dipertontonkan pandangan yang sedikit dramatis, tentang dinamika,
lika-liku, kesulitan seorang kepala keluarga yang berlokasi di negeri
tempat yang sekarang di tempati Gih,negeri yang konon katanya kaya raya,
namun rakyatnya hidup sengsara, ia menikmati pemandangan tersebut,
dalam mimpi deskripsi itu tervisualkan nyaris sempurna, awal saat
dipecat di kantor hingga
rengekan reni ia bisa saksikan, dalam
mimpi kali itu ia dapat mengunjungi dua tempat di lokasi yang berbeda
tanpa perduli dan harus tergesa-gesa dengan rentetan waktu.
***
Igo
adalah seorang aktivis mahasiswa tadinya, se-dekade yang lalu, ia
dicari-cari rezim,pernah di culik dan jadi tahanan politik, bersama
teman-temannya, sifat yang terlalu kritis menghantarkan dirinya pernah
menjadi musuh dari Rezim berkuasa.
Tapi kini, posisinya
berbeda, keadaan tak lagi sama, ia kini tidak lagi di cari-cari
penguasa, apalagi diculik, igo terlihat duduk manis menghadiri
rapat-rapat kerja di dewan perwakilan rakyat, dengan setelan hari-hari
kemeja dan jas yang match, ia kini masuk lingkaran sistem, ia hadir
sebagai representasi yang sangat amat transenden buat rakyat,
“Saya dipilih oleh rakyat, dan bertugas mewakili rakyat!” begitu klaimnya,
Masuk
periode keduanya di gedung milik rakyat dan hampir habis, ia mengemban
misi untuk bisa selamat mengamankan posisinya lagi duduk di gedung
tersebut, berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan elektabilitasnya
kembali, banyak jalan menuju Roma,banyak cara melanggengkan takhta,
termasuk jalannya adalah membuat buku, ia membuat buku tentang hal-hal
yang heroik berkaitan dengan Revolusi dan dirinya,perubahan mendasar
menuju negara sejahtera yang di cita-citakan. Dan ia merasa pandai untuk
menjelaskan karena pernah menjadi agensi perubahan, Tapi hal ini bagi
sebagian orang bak lelucon garing yang sedang dipertontonkan komedian
sadis dengan melukai lawan mainnya dengan palu dan golok di
tengah-tengah pemirsanya, mengingat apa yang pernah ia suarakan dan
pernah ia lakukan,kemudian dibandingkan dengan apa yang sudah dan baru
saja ia lakukan selama dua dekade bercokol di kursinya, bagaimana
seorang Igo sebenarnya tidak lagi tahu menahu dan tidak ingin ada
sangkut pautnya tentang Revolusi , karena Revolusi/perubahan mendasar
berarti banyak hal dan salah satunya dapat mengancam keberadaannya.
Gih
meludah jauh dibelantara hutan beton di alam mimpinya, melihat sang
politisi, ia jijik dengan jualan dan kampanye sang politisi yang dibalut
hal-hal heroik tentang romantisme sejarah perjuangan. Tak tahan melihat
tampang dan wajah sang politisi, gih terbang, pergi menjauh untuk
mengunjungi orang berbeda
***
Ipul
sudah siap memasuki pintu masuk tempat ia memompa semangatnya agar
terus dan terus bekerja dengan giat, dengan tinggi harapan dapat
menghasilkan uang yang banyak, “Investasi masa depan!” ia berucap.
sebelumnya, ia sudah membeli tiket masuk acara yang ia tuju, yakni
Training Motivasi pak Doyong seharga belasan juta, uang itu ia sengaja
kumpulkan selama 1 tahun bekerja di toko Material pasir bagian
accounting.
Pak doyong dengan berjalan perlahan dan badan yang
tegap sudah ada di podium acara, ratusan peserta menyambutnya dengan
tepuk tangan dan senyum lebar-lebar, Pak doyong mengeluarkan
jargon-jargon dan slogan-slogan fenomenal seorang training seperti
biasanya, “Harus Bisa!”, “Harus Semangat!”, “Tidak Boleh menyerah!”, dan
sejenisnya. Jargon- jargon itu selama 4 jam ia mengisi acara selalu
menghiasi dan tidak jarang dilakukan pengulangan.
Gih
melihat bagaimana seorang pak doyong membius peserta dengan retorika dan
slogan yang kerap ia ulang-ulang, gih nyeletuk, “tidak bosan kah mereka
dengan slogan tersebut?” kenapa tidak diganti dengan “Bubur ayam sunda
enak!”, “garam rasanya asin!”, atau “gula rasanya manis”, hal itu adalah
fenomena-fenomena yang lebih realistis karena berdasarkan dari
pencerapan pancaindera ketimbang ucapan pak doyong, begitu ia
berkelakar.
Acara itu berlangsung dilantai 20 gedung pencakar langit dekat bundaran HI, sementara di waktu yang hampir bersamaan, di
basement
gedung tersebut, seorang pemuda yang biasa dipanggil Panjoel, bertugas
menagih harga parkir bagi kendaraan yang keluar-masuk gedung tersebut,
hari-hari ia melakukan triknya, ia memindahkan fakta ke dalam
penginderaan secara keliru, bila tertera tagihan 2 ribu dalam layar
lcd-nya,
ia bilang kepengendara bermotor 3 ribu, hampir setiap pengendara yang
secara gesture tidak begitu perduli dengan permainannya ini, ia
lancarkan sejurus tersebut.
buat nambah – nambah uang rokok!, kalo Cuman ngandelin gajih, mana cukup buat rokok sama jajan!
begitu
ia bicara ke teman-teman satu pekerjaannya, yang secara tak sadar
sedang ia pengaruhi untuk dapat mencapai sebuah elaborasi yang sama dan
menawan dalam melakukan sebuah kecurangan, partner kejahatan.
Lebih
dari dua ratus meter dari gedung tersebut, terdapat sebuah pusat
perbelanjaan, Sasha datang bersama teman-temannya se-angkatan kelas 4
SDN 06 Pagi Cirendeu, ia datang bertiga, sasha diberi mandat untuk jadi
ketua kelompok tersebut, ia kesana bukan untuk berbelanja bersama
teman-temannya, tapi siang itu ada band favoritnya dan teman-temannya
bakalan tampil, co’boi junior, nama bandnya, Sasha dan ketiga temannya
sangat amat begitu menyukai Co’boi Junior, ia bisa dibilang sebagai fans
garis keras co’boi junior, layaknya
ultras Curva Sud dan Curva nord untuk
para fans fanatik sepakbola di Italia yang berada di tribun utara dan
selatan, dimanapun band itu tampil, sasha dan teman-temannya selalu
berupaya menguntil,untuk dapat menyaksikannya.
Fans co’boy Junior Garis Keras!
Gih berucap, melihat fenomena anak SD yang keranjingan artis idolanya.
Dari
beberapa kejadian tadi, Orang-orang tersebut dinilai aneh menurut
perspektifnya gih, tapi tidak bagi perspektif orang yang bersangkutan,
buktinya di alam yang lebih Real dari sebuah mimpi semalam gih, fenomena
– fenomena tersebut bisa kita jumpai.
***
Sore
memasuki senja, matahari bersembunyi di balik awan,sedikit lagi akan
ada peristiwa yang sedang akan berlangsung, ketika gelap menerobos masuk
ke senja secara perlahan. Dan malam menemui momentumnya untuk berganti
dengan siang. Awalnya dari jejeran rumah berkontrak, satu rumah sudah di
amati sejak 2 bulan lamanya, terlihat seseorang mondar-mandir di
lingkungan tersebut, kadang melihat Hp sambil ngerokok sebatang samsu,
kadang celingak celinguk ke area teras di lingkungan tersebut, satu
rumah jadi pusat perhatian orang-orang pendatang yang biasa
mondar-mandir selama 2 bulan itu.
malam ini akan kita eksekusi!,
begitu
bunyi dan perintah atasan yang disegani kepada sekelompok pasukan
khusus. Akhirnya kejadian juga, rumah itu dibombardir senapan, bunyi
pekikan bising dari letupan senjata begitu deras diperdengarkan,
kebanyakan warga sekitar tidak takut, bahkan tidak sedikit yang pergi
menghadiri orkestra pasukan khusus ketika menggerebek remaja-remaja yang
berada dikontrakan tersebut.
“Apa salah
mereka,hingga harus diberondong senjata, apa karena mereka terduga
teroris, jadi bisa diperlakukan seenaknya, mana SOP penangkapan yang
benar yang selalu dijunjung tinggi dan dijadikan alasan ketika
berhadapan dengan media massa oleh jubir aparat”. Begitu suara
hatinya Denny,adik seorang jimmy yang sedang berada dikontrakan yang
tengah di sergap pasukan khusus, sesaat setelah ia melihat kakak dan
teman-temannya diperlakukan sedemikian keji, hatinya merintih, nafasnya
sesak, matanya menatap tajam,sedikit sekali berkedip, ia tidak bisa
menyembunyikan perasaannya yang luka setelah menyaksikan kejadian itu,
sebuah aksi penangkapan teror telah menanamkan benih-benih teror kedalam
jiwa Denny, ia siap untuk membalas, saatnya mengorganisir kekuatan,
kilahnya.
***
Gih,
sekali lagi melihat pemandangan yang tak elok dilihat oleh mata,
mimpinya semalam ini dirasa mengecewakan olehnya karena hampir bisa ia
lihat dalam kehidupan sehari-hari yang Real di tengah-tengah ia berada
dinegeri tempatnya bernaung, padahal ia berharap bisa berada di
belantara awan dan ditemani selir-selir disekelilingnya kemudian
bersenda gurau dengan para selir sembari menyeruput kopi panas dan
menghisap satu batang tembakau berkualitas tinggi, tapi apa boleh buat,
ia tidak bisa memilih mimpi, layaknya memilih audio track semaunya dalam
sebuah Cd, seketika itu masih di dalam mimpi, tiba-tiba ada seorang tua
berperawakan seperti gandalf datang menghampirinya
”Hei
anak muda, badan kamu masih gagah, tubuh kamu kuat, punya paras yang
standar tampan, dan berbicaramu lugas, kamu gandrung terhadap ilmu
pengetahuan, kamu pantas menjadi agensi perubahan yang dibutuhkan
negerimu sekarang, tapi mengapa oh mengapa,kamu masih tertidur!”
Orang
tua berperawakan gandalf dengan kaus kutang itu berujar demikian kepada
gih, setelah mengungkapkan kata-kata itu, orang tua tersebut meludah ke
arah gih, ludah itu layaknya air mancur besar, hingga gih sulit
bernafas dan terbangun dari tidurnya.
Mau dikatakan apalagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana, aku disini
Mesti hatiku memilih.... (Raisa,)
Ketika
terbangun, reffrain ini yang terdengar ditelinganya gih, belum sampai
habis lagu tersebut, gih mencabut headset di handphone-nya, kemudian ia
celingak-celinguk ke arah sekitar rumahnya, sekali lagi, ia masih berada
dikursi malas dan berusaha untuk tidur dan berharap mimpi yang sama
tidak hadir berseri.