Selasa, 06 Desember 2011

Transendentalisme: Kritik Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas

Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas tercatat sebagai salah satu pengkritik yang tajam terhadap gagasan Transendentalisme (Trancendent Unity of Religions).  Bahwa, seolah-olah semua agama memiliki titik temu pada level transenden. Agama-agama hanya berbeda pada level eksoterik dan akan bertemu pada level esoterik. Intelektual Muslim yang menjadi keynote speakerdalam Konferensi Pendidikan Islam Pertama di Mekkah, 1977, ini  tidak asing dengan gagasan titik-temu metafisik agama-agama.
Al-Attas – selain menguasai banyak literatur tentang wacana titik-temu antar agama — juga mengenal secara personal tokoh-tokoh transendentalis seperti Frithjof Schuon, Martin Lings, Seyyed Hossein Nasr dan lainnya. Mereka sebenarnya saling kenal. Bahkan Seyyed Hossein Nasr pernah mengunjunginya di ISTAC, Kuala Lumpur, suatu lembaga pendidikan PascaSarjana dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam, yang didirikan oleh al-Attas.
Inti argumentasi kalangan transendantalisme atau perenialisme sebenarnya berkutat pada pembagian dua dimensi agama, yaitu dimensi esoteris (batin) dan eksoteris (luar). Bagi pendukung teori ini, dimensi esoteris dianggap lebih tinggi dibanding dimensi eksoteris. Istilah esoteris dimaknai sebagai pemahaman Tuhan pada tingkat Esensi. Maksudnya, Tuhan dipersepsikan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna.
Pada tingkat esoteris inilah, kalangan transendentalis menganggap agama-agama menyatu. Dalam pandangan mereka, tingkat esoteris ini dapat diketahui melalui Intelek. Bagi kalangan transendentalis, semua agama bersatu untuk mengakui Tuhan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna.
Al-Attas  mengkritik puncak argumentasi kalangan transendentalis, yaitu konsepsi esoteris. Kritiknya yang tajam, padat dan lugas dapat dibaca dalammagnum opusnya, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).
Menurut Syed Naquib al-Attas, konsep Tuhan pada level esoteris seperti anggapan kalangan transendentalis, adalah konsep yang keliru. Pengakuan akan adanya Tuhan saja tidak cukup. Sebabnya, Iblis juga mengakui Tuhan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna. Jadi, memahami Tuhan hanya sebagai Esensi (Tuhan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna), masih bisa sesat.
Konsep Tuhan dalam Islam bukan hanya mengakui-Nya sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna. Namun, menurut Islam,  pengakuan terhadap-Nya harus juga diikuti sekaligus dengan pengakuan untuk tidak tidak menyekutukan-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui oleh-Nya seperti yang ditunjukkan oleh para rasul yang telah di utus-Nya.
Jika hanya mengakui Tuhan, tetapi mengingkari cara, metode, jalan dan bentuk yang diajarkan oleh Tuhan melalui nabi-Nya, maka  seseorang itu akan disebutkafir. Orang seperti ini  tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya.
Iblis juga mempercayai Tuhan yang satu, mengakui-Nya sebagai pencipta alam semesta, dalam al-Quran, ia masih di sebut kafir. Itu disebabkan pengingkaran kepada perintah-Nya. Jadi, memahami dan mengakui Tuhan,  harus dengan mengikuti perintah, bentuk cara, jalan-Nya. Bahkan, hanya dengan melalui perintah, bentuk cara, jalan-Nya maka Kebenaran akan diketahui. Jadi, kalangan transendentalis keliru ketika menganggap dimensi eksoteris “lebih rendah” dari esoteris. Sebabnya, dimensi eksoteris justru merupakan penentu terhadap kebenaran esoteric.
Menurut al-Attas,  gagasan titik-temu metafisis agama-agama merupakan produk dari pengalaman keagamaan para tokoh transendentalis. Sebagaimana diketahui, Frithjof Schuon adalah Maha Guru bagi kalangan transendentalis. Ia  merupakan pendiri sekaligus pemimpin tarekat al-Maryamiyah, sebuah tarekat rahasia untuk kalangan transendentalis. Konsep titik-temu esoteris agama-agama adalah produk dari pengalaman Sang Guru ketika terlibat dalam kehidupan agama-agama, termasuk ketika aktif dalam Freemason.
Al-Attas juga mengingatkan, bahwa  jika “tansenden” dimaksudkan sebagai pengalaman keagamaan (religious experience) yang hanya dicapai oleh beberapa manusia saja, maka pengalaman keagamaan itu bukanlah agama itu sendiri.  Pengalaman keagamaan semacam itu, menurut mereka,  tidak dapat terjadi pada masyarakat dan seluruh manusia, namun hanya diraih oleh elite tertentu dalam setiap agama. Jadi, yang dimaksudkan adalah titik-temu pada pengalaman keagamaan (transcendent unity of religious experiences). Pengalaman keagamaan ini sangat tidak tepat jika dianggap sebagai akidah kaum Muslimin. Lebih jauh al-Attas mengingatkan: “If ‘transcendent’ is meant to refer to a psychological conditions at the level of experience and consciousness which ‘excels’ or ‘surpasses’ that of the masses among mankind, then the ‘unity’ that is experienced and made conscious of at the level of transcendence is not of religions, but  of religious experience and consciousness, which is arrived at by the relatively few individuals only among mankind.”
Jadi, simpul Syed Muhammad Naquib al-Attas, gagasan para tokoh transendentalis tentang titik temu agama-agama pada level esoteris adalah ‘melampaui’ tingkatan pengalaman keagamaan masyarakat umum. Ini jelas bukan maksud agama yang diturunkan untuk semua manusia. Agama Islam adalah bukan hanya untuk elite tertentu, namun untuk keseluruhan umat.
Ringkasnya, gagasan titik-temu metafisika agama-agama adalah teori – yang meskipun terkesan ilmiah – tetapi keliru.   Gagasan ini muncul dari hasil imajinasi dan spekulasi intelektual dan bukan berdasarkan pada fakta. “Their claim to belief in the transcendent unity of religions is something suggested to them inductively by the imagination and is derived from intellectual speculation and not from actual experience. [Adnin Armas]

Senin, 05 Desember 2011

Yang mereka sebut Tuhan, bukanlah Tuhan!

Diego kami, yang berada di tengah lapangan. Dikuduskanlah kaki kirimu, berikan kami pesonamu. Berilah kami pesonamu setiap hari, maafkanlah orang Inggris, seperti kami mengampuni Mafia Napolitan. Jangan biarkan dirimu terjebak offside dan bebaskan kami dari Havelange dan Pele. Diego
Demikian isi doa ‘Diego Kami’ yang biasa ‘didoakan’ oleh para pemuja Diego Armando Maradona atau yang biasa disebut sebagai Diegorian Brothers (Jemaat Diego).

Tanggal 22 Juni, 1986 di Estadio Azteca, Mexico City. Ketika gocekan Maradona melewati 5 orang pemain Inggris lalu di umpan sampai bola melambung ke atas. Maradona pun menyambut dengan tangannya. Saat itulah bola masuk ke gawang Inggris. Gol ini terjadi di menit 51, gol ini jualah yang disebut sebagai "gol tangan Tuhan". Setelah kejadian tersebut pengkultusan yang berlebihan dari penggemar fanatik maradona telah mengantarkan maradona menjadi tuhan bagi penganutnya, tepatnya 12 tahun kemudian pada tanggal 30 oktober 1998, Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona) pun eksis hingga sekarang. Salah satu perintah yang dianut oleh diegorian Brothers adalah keharusan untuk mencantumkan nama Diego kepada anak-anak mereka.
++++ 

Setelah melihat fakta di atas, kita sebagai manusia yang dikaruniai akal tentu akan bertanya-tanya, Kegilaan apalagi ini???

Kegilaan yang seperti ini lumrah-lumrah saja dinegeri asalnya, Argentina menganut system demokrasi liberal yang kurang atau lebihnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, didalam system demokrasi ada kesepemahaman umum tentang kebebasan beragama, seseorang memiliki kebebasan untuk memilih agama(murtad), membuat agama baru atau pun memilih untuk tidak beragama. Hak-hak seseorang didalam menjalankan kebebasan beragama dilindungi betul oleh negara Demokrasi. Inilah bukti betapa mademan laws (hukum buatan Manusia) sudah tidak sesuai dengan Fitrah manusia dan menghinakan akal.  Penulis katakan menghinakan akal karena Tuhan bukanlah makhluk, Melalui jalan akal kita dapat dengan mudah menemukan bahwasanya maradona tidak layak disebut sebagai Tuhan, Tuhan tidak lemah, tidak terbatas, dan tidak membutuhkan sesuatu apa pun. Maradona sebagai manusia mempunyai sifat dasar yang lemah, bukti kelemahannya adalah maradona masih melakukan aktivitas makan, minum, buang air besar dan buang air kecil, apabila maradona tidak melakukan aktivitas tersebut maka maradona akan pusing disertai sakit karena menahan lapar dan haus, kemudian sakit bertambah parah karena tidak bisa buang air besar, dan tidak lama setelahnya dia akan mati. Maradona juga mempunyai  keterbatasan sebagai manusia, bukti keterbatasannya adalah dia tidak lagi bisa secara konsisten disetiap pertandingan untuk berlari 80-100 mil/ jam seperti ketika dulu masih aktif sebagai pemain bola, karena usianya telah lanjut dan perutnya mulai membuncit, maradona juga membutuhkan sesuatu yang lain, dia tidak bisa menciptakan seorang anak dengan sendirinya, oleh karena itu dia menjalin hubungan suami isteri untuk memperoleh keturunan.

***

pada hakikatnya Naluri beragama (ghariizat ut tadayyun) secara fithrah ada pada diri manusia. Fitrah ini mendorong manusia bertanya tentang pencipta alam, manusia, dan kehidupan serta tentang kehidupan setelah mati. Ghariizah at tadayyun yang fitrah ini menuntun manusia menuju keimanan akan keberadaan pencipta dari alam semesta ini. Namun manusia, pada sebagian besar masa, telah salah kaprah dalam memahami hakikat Pencipta (al khaaliq) ini. Mereka menggambarkan bahwa al khaaliq tersebut berupa matahari, api, patung berhala, maradona atau makhluq lainnya. Itulah sebabnya, maka Allah mengutus para rasul untuk memberi petunjuk kepada manusia akan hakikat al khaaliq yang sebenarnya yang tidak ada sesuatupun yang menyerupainya, disamping bahwa penciptaan semua makhluq yang ada tergantung kepada-Nya.


***

Didalam system yang bobrok hasil dari buatan manusia seperti yang hari ini diterapkan, Umat Islam telah kehilangan Identitasnya sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Untuk itu saatnya kita lantang teriak Revolusi, Ganti system-ganti rezim! Selamatkan dengan Islam. Wallahu a'lam.

Minggu, 04 Desember 2011

gak bisa di pause!

Memutar kaset radio zamannya nike ardila booming, ketika ada lirik lagu yang tidak ingin kita lewatkan dan ingin di dengar berulang-ulang, maka ada tombol backward yang bisa kita pergunakan untuk mensetting bagian lagu yang kita ingin dengar berulang-ulang, begitu pun ketika kita sedang memutar Film dengan perangkat DVD,  ada adegan yang penulis suka putar berulang-ulang di Film “Fighting", yaitu ketika channing Tatum yang saat itu tengah sangat marah kemudian memukul keras sebuah pintu yang tidak terbuat dari kayu dan berlalu begitu saja, dingin abis!


menyenangkan bisa mengembalikan atau mem-pause bagian-bagian yang tidak ingin kita lewatkan, namun In a Fact kehidupan tidak semua hal bisa di backward atau di pause, misalnya saja ketika penulis dan beberapa kawan mendaki gunung pangrango pertengahan tahun yang lalu, sesampainya sore hari di kandang badak untuk berkemah, malam harinya penulis ditemani oleh dua orang teman yang ketika itu masih terjaga dari tidurnya,  satu sama lain saling bercerita dan saling berebut untuk memecahkan masalahnya masing-masing sembari berkelakar. tawa yang hebat malam itu cukup untuk menghangatkan jari-jari kaki yang agak membeku dikipas angin dari luar tenda. why does tonight, have to end? why don't we hit restart, and pause it at our favorite parts.


sungguh lemah dan terbatasnya kita sebagai manusia.

***

saat tengah dirasuki Amarah ganas disebabkan permasalahan yang remeh temeh bin sepele, lalu kemudian mulai memaki siapa saja orang disekeliling kita yang tidak pantas untuk dimaki, setelahnya kita sadar dan merasa malu dengan tindakan yang baru saja dilakukan, namun sayangnya kita tidak bisa membackward peristiwa tersebut. ternyata ada hal yang tidak bisa di backward dan di pause, dia adalah waktu, waktu yang terus bergulir detik demi detiknya tidak bisa kita kembalikan. Waktu akan menggilas tanpa jeda.

waktu bagi orang kapitalis adalah uang, maka mereka akan terus diburu waktu untuk mendapatkan uang dan menghabiskan waktunya dengan hanya mencari uang. Sedangkan bagi umat Islam waktu adalah pedang, waktu bisa membunuh siapa saja yang menyia-nyiakannya, Seorang muslim yang menyadari bahwasanya dia itu di ciptakan dan setiap perbuatan di dunia akan dipertanggunjawabkan maka dia akan terus menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah, beribadah tidak hanya sebatas ibadah Ritual, karena Islam bukan hanya sekedar agama ritual belaka, bukan pula sekedar ide-ide teologi atau kepasturan. Akan tetapi Islam adalah suatu metode kehidupan tertentu, di mana setiap muslim dan seluruh kaum muslimin wajib menjalani kehidupannya sesuai dengan metode ini. seorang muslim yang taat akan sekuat tenaga menjauhi Riba, menjauhi zina, benci terhadap aturan buatan manusia dan rindu di atur oleh hukum-hukum Allah secara menyeluruh di dalam kehidupan.


Ditengah kehidupan yang sekuleristik seperti sekarang, aturan Allah telah dijauhkan kepada pemeluknya, maka sebagai muslim yang taat dan meyakini hanya Islam yang patut di jadikan sebagai The way of life, memperjuangkan tegaknya hukum Allah di bumi Allah menjadi pilihan yang wajib harus diperjuangkan, dalam naungan Institusi Umat islam Khilafah hukum-hukum Allah akan diterapkan secara Kaffah, maka gunakan waktu kita untuk berjuang dan bergabung dalam barisan orang-orang yang menyeru kepada penegakkan Institusi pemersatu Umat Islam Khilfah Islamiyah. Wallahu a’lam.