Istilah atau pengertian pendakian menurut kamus besar bahasa indonesia adalah pemanjatan, perbuatan mendaki- gunung akhir-akhir ini banyak dilakukan para remaja -, tempat yg menanjak, tanjakan atau dakian. Dari pengertian tersebut jelas bahwasanya perbuatan pendakian identik dengan naik gunung dan remaja. Kalau ukuran dikatakan sebagai remaja itu sebelum mencapai umur 30-an, maka saya terkategori sebagai remaja. Bukan sekedar ikut-ikutan trend naik gunung. Saya pribadi pada awalnya tidak interest terhadap kegiatan satu ini, namun ketika teman satu perguruan (Universitas) menceritakan pengalamannya mendaki gunung yang telah dia lakukan tidak hanya sekali tetapi lebih dari puluhan kali, membuat sontak saya. Sepertinya ada sesuatu di dalam pendakian yang membuat dia ingin, ingin dan ingin lagi mendaki gunung setelah turun gunung untuk kesekian kalinya. Akhirnya kesempatan itu ada, saat itu bulan juni atau juli saya lupa, kami berempat melakukan pendakian ke gunung lawu, gunung yang penuh dengan aroma mistik karena terdapat beberapa makam yang konon katanya di jadikan sebagai tempat pesugihan oleh beberapa orang yang masih mempercayai hal itu, namun tujuan kita kesana bukan untuk ikut pesugihan, terkutuklah perbuatan pesugihan. Karena yang sudah seharusnya sebagai muslim adalah tempat meminta dan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT bukan kepada yang lain. Back to the story, seperti biasa para pemula biasanya tidak tahu aturan main dasar di setiap permainan, oleh karena itu para pemula sudah seharusnya mengikuti instruksi yang sudah berpengalaman. begitu juga saya karena banyak menghiraukan aturan main maka saya juga harus menanggung akibatnya. Misalnya saja selama pendakian tersebut saya menggunakan sepatu skets yang biasa saya gunakan sehari-hari untuk kuliah, tentunya sepatu itu bukan di ciptakan khusus untuk kegiatan pendakian. Licin dan terpeleset sudah menjadi resiko yang siap dan senantiasa membayang-bayangi saya. Selain itu saya juga tidak membawa sarung tangan dan jaket pelindung untuk tidur di malam hari. ini berarti saya sudah menantang dinginnya malam di pegunungan,well akhirnya malam itu saya tidak bisa tidur. Kami akhirnya sampai di puncak gunung, puncak teratas, ada lempengan besi bertuliskan “Lawu 3265’, ini bukan merek Hp, mungkin maksud dari tulisan di lempengan tadi adalah lawu berketinggian 3265 diatas permukaan laut. Perasaan letih dari lamanya perjalanan sepertinya telah terbayarkan. Dari pendakian tersebut akhirnya saya bisa mengambil pelajaran dari seorang pendaki gunung. Pelajaran yang pertama adalah, seorang pendaki sejati seharusnya menjadi seorang yang bijaksana, ketika selama pendakian watak asli seseorang bisa di lihat, apakah kita seorang yang suka berkeluh kesah, seorang yang sangat pemarah, seorang yang lebih banyak diam karena memendam perasaan, atau kah kita merupakan orang yang bijaksana. itu merupakan pilihan –pilihan yang memasukan diri kita pada kategori yang mana. Ya seorang pendaki yang sering menaiki gunung seharusnya menjadi orang yang bijaksana karena ia telah berlatih mengontrol diri untuk kesekian kalinya selama pendakian. Pelajaran yang kedua, seorang pendaki dalam melakukan pendakian tidak melihat jauh ke atas melainkan tertunduk, betapa hebatnya cara yang di ajarkan oleh seorang pendaki, mereka dalam melakukan pendakian sampai puncak gunung tertinggi tidak melihat jauh ke atas, namun mereka tertunduk menapaki jalan menanjak setapak demi setapak hingga sampai pada tujuan tertinggi. Ini jua lah seharusnya yang di lakukan oleh seorang ketika dia ingin sukses atau ingin meraih pencapaian-pencapaiannya dalam kehidupan, jangan lihat jauh dan sulitnya untuk mencapai hal tersebut, tapi bagaimana pentingnya sebuah aksi walaupun merupakan langkah kecil agar dapat terus mengarah kepada pencapaian yang tertinggi. Pelajaran ketiga adalah, seorang pendaki merupakan seorang yang ahli dalam segi managing dan perencanaan, seorang pendaki harus bisa menghitung berapa jam lamanya perjalanan, agar bisa mengatur waktu istirahat secara benar selama pendakian. Ia juga harus memperhitungkan persediaan makanan yang harus di bawa selama beberapa hari yang di tentukan. Karena ada pendapat beberapa pendaki yang mengatakan “ kadang-kadang yang membuat kita betah berada di atas puncak adalah makanannya”, kalau konsumsi kurang memadai sebelum sampai puncak, ini merupakan masalah besar, selain tidak betah hal ini juga mengurangi daya tahan tubuh seorang pendaki.belum lagi harus melakukan perjalanan turun gunung tanpa konsumsi yang memadai. Oleh karena itu managing dan perencanaan harus tepat. Itulah beberapa pelajaran yang bisa di ambil dari seorang pendaki setelah saya terlibat melakukan pendakian, selain hal-hal yang di atas tadi saya juga ingin menambahkan terkadang proses panjang yang di lewati sewaktu pendakian, seperti keletihan, berjalan menanjak atau menurun di derasnya hujan, menantang fisik dan sebagainya yang merupakan hal yang tidak menyenangkan, namun menjadi lebih menyenangkan bagi saya. Tanya kenapa ?? Di antara pelajaran-pelajaran tadi namun tetap satu saran saya, jangan terlena dengan sesuatu yang menjadi hobi kita, termasuk pendakian ini, kalau hanya membuat kita lupa terhadap misi tujuan penciptaan kita di dunia, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, lebih baik kita berhenti dari hobi kita. Wallahu a’lam |