Jumat, 29 Juli 2011

"Kutipan kali ini"

"Saat engkau tiba di simpang jalan, kau bimbang tentukan arah tujuan, Jalan gelap yang kau pilih, penuh lubang dan mendaki"(Iwan fals)

"Mr. Franz I think careers are a 20th century invention and I don't want one (pak franz saya pikir karir adalah penemuan abad ke-20 dan saya tidak ingin hal itu)"( Alexander Supertramp)

"I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies. If the American people ever allow private banks to control the issue of their currency, first by inflation, then by deflation, the banks and corporations that will grow up around [the banks] will deprive the people of all property until their children wake-up homeless on the continent their fathers conquered. The issuing power should be taken from the banks and restored to the people, to whom it properly belongs. (saya percaya bahwa, institusi-institusi perbankan adalah jauh lebih berbahaya daripada pasukan perang, jika rakyat Amerika sampai membiarkan bank-bank swasta mengendalikan percetakan  mata uang maka bank-bank serta korporasi yang berkembang di sekelilingnya akan mengambil semua hak-hak milik masyarakat, hingga anak-anak mereka tidak mempunya tempat tinggal di benua yang pernah di kuasai oleh ayah -ayah mereka)."  (Thomas Jefferson)

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat di ungkapkan air kepada hujan, yang menjadikannya tiada... aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat di ungkapkan kayu kepada api, yang menjadikannya tiada."  (seorang penyair besar)

Selasa, 26 Juli 2011

Pendakian

Istilah atau pengertian pendakian menurut kamus besar bahasa indonesia adalah pemanjatan, perbuatan mendaki- gunung akhir-akhir ini banyak dilakukan para remaja -, tempat yg menanjak, tanjakan atau dakian.  Dari pengertian tersebut jelas bahwasanya perbuatan pendakian identik dengan naik gunung dan remaja. Kalau ukuran dikatakan sebagai remaja itu sebelum mencapai umur 30-an, maka saya terkategori sebagai remaja.
Bukan sekedar ikut-ikutan trend naik gunung. Saya pribadi pada awalnya  tidak interest terhadap kegiatan satu ini, namun ketika teman satu perguruan (Universitas)  menceritakan pengalamannya mendaki gunung yang telah dia lakukan tidak hanya sekali tetapi lebih dari puluhan kali, membuat sontak saya. Sepertinya ada sesuatu di dalam pendakian yang membuat dia ingin, ingin dan ingin lagi mendaki gunung setelah turun gunung untuk kesekian kalinya. 
Akhirnya kesempatan itu ada, saat itu bulan juni atau juli saya lupa, kami berempat melakukan pendakian ke gunung lawu, gunung yang penuh dengan aroma mistik karena terdapat beberapa makam yang konon katanya  di jadikan sebagai tempat pesugihan oleh beberapa orang yang masih mempercayai hal itu, namun tujuan kita kesana bukan untuk ikut pesugihan, terkutuklah  perbuatan pesugihan. Karena yang sudah seharusnya sebagai muslim adalah tempat meminta dan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT bukan kepada yang lain.
Back to the story, seperti biasa para pemula biasanya tidak tahu aturan main dasar di setiap permainan, oleh karena itu para pemula sudah seharusnya mengikuti instruksi  yang sudah berpengalaman. begitu juga saya  karena banyak menghiraukan aturan main maka saya juga harus menanggung akibatnya. Misalnya saja selama pendakian tersebut saya menggunakan sepatu skets yang biasa saya gunakan sehari-hari untuk kuliah, tentunya sepatu itu bukan di ciptakan khusus untuk kegiatan pendakian. Licin dan terpeleset sudah menjadi resiko yang siap dan senantiasa membayang-bayangi  saya. Selain itu saya juga tidak membawa sarung tangan dan jaket pelindung untuk tidur di malam hari. ini berarti saya sudah menantang dinginnya malam di pegunungan,well akhirnya malam itu saya tidak bisa tidur.
Kami akhirnya sampai di puncak gunung, puncak teratas, ada lempengan besi  bertuliskan “Lawu 3265’, ini bukan merek Hp, mungkin maksud dari tulisan di lempengan tadi adalah lawu berketinggian 3265 diatas permukaan laut. Perasaan  letih dari lamanya perjalanan sepertinya telah terbayarkan.
 Dari pendakian tersebut akhirnya saya bisa mengambil pelajaran dari seorang pendaki gunung.  Pelajaran yang pertama adalah, seorang pendaki sejati seharusnya menjadi seorang yang bijaksana, ketika selama pendakian watak  asli seseorang bisa di lihat, apakah kita seorang yang suka berkeluh kesah, seorang yang sangat pemarah, seorang yang lebih banyak diam karena memendam perasaan, atau kah kita merupakan orang yang bijaksana. itu merupakan pilihan –pilihan yang memasukan diri kita pada kategori yang mana. Ya seorang pendaki yang sering menaiki gunung seharusnya menjadi orang yang bijaksana karena ia telah berlatih mengontrol diri untuk kesekian kalinya selama pendakian.
Pelajaran yang kedua, seorang pendaki dalam melakukan pendakian tidak melihat jauh ke atas melainkan  tertunduk, betapa hebatnya cara yang di ajarkan oleh seorang pendaki, mereka dalam melakukan pendakian sampai puncak gunung tertinggi tidak melihat jauh ke atas, namun mereka tertunduk menapaki jalan menanjak setapak demi setapak hingga sampai pada tujuan tertinggi. Ini jua lah seharusnya yang di lakukan oleh seorang ketika dia ingin sukses atau ingin meraih pencapaian-pencapaiannya dalam kehidupan, jangan lihat jauh dan sulitnya untuk mencapai hal tersebut, tapi  bagaimana pentingnya sebuah aksi walaupun merupakan langkah kecil agar dapat terus mengarah kepada pencapaian yang tertinggi.
Pelajaran ketiga adalah, seorang pendaki merupakan seorang yang ahli dalam segi managing dan perencanaan, seorang pendaki harus bisa menghitung berapa jam lamanya perjalanan, agar bisa mengatur waktu istirahat secara benar selama pendakian. Ia juga harus memperhitungkan persediaan makanan yang harus di bawa selama beberapa hari yang di tentukan. Karena ada pendapat beberapa  pendaki yang mengatakan “ kadang-kadang yang membuat kita betah berada di atas puncak adalah makanannya”, kalau konsumsi kurang memadai sebelum sampai puncak, ini merupakan masalah besar, selain tidak betah hal ini juga mengurangi daya tahan tubuh seorang pendaki.belum lagi harus melakukan perjalanan turun gunung tanpa konsumsi yang memadai.  Oleh karena itu managing dan perencanaan harus tepat.
Itulah beberapa pelajaran yang bisa di ambil dari seorang pendaki setelah saya terlibat melakukan pendakian, selain hal-hal yang di atas tadi  saya juga ingin menambahkan terkadang proses panjang yang di lewati sewaktu pendakian, seperti keletihan, berjalan menanjak atau menurun di derasnya hujan, menantang fisik dan sebagainya yang merupakan hal yang tidak menyenangkan, namun menjadi lebih menyenangkan bagi saya. Tanya kenapa ??
Di antara pelajaran-pelajaran tadi namun tetap satu saran saya, jangan terlena dengan sesuatu yang menjadi hobi  kita, termasuk pendakian ini,  kalau hanya membuat kita lupa terhadap misi tujuan penciptaan kita di dunia,  yakni hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, lebih baik kita berhenti dari hobi kita. Wallahu a’lam

Jumat, 22 Juli 2011

Cermin

Apakah manusia dibiarkan saja berkata kami telah beriman, padahal mereka belum diuji ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka (Al-ankabut : 2-3)

Pada  saat  kita beranggapan kita telah beriman dan tunduk terhadap perintah-Nya, namun pada sisi lain sering kali kita bersebrangan dengan apa yang telah di perintahkan oleh-Nya.  Semakin tinggi pohon semakin tinggi angin yang menghembus, begitu juga tingkat keimanan seseorang. Semakin naik level  keimanan seseorang, maka semakin naik tingkatan ujian yang akan ia hadapi.
Meluruskan niat misalnya, Ikhlas menjadi perkara yang mudah di ucapkan namun pada tataran aplikatif menjadi sulit untuk di terapkan. Seorang ulama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Kita lebih senang dengan pujian dan riho dari manusia, padahal sebagai muslim sejati kesenangannya adalah ridho Allah semata-mata yang menjadi tujuan dalam setiap perbuatan.
Terkait dengan ujian terhadap Iman seseorang, saya Teringat pertanyaan dari seorang guru di sebuah kelompok pengajian, ia menanyakan tentang  perihal sesuatu  “ bagaimana bila kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana kita dipertemukan oleh seorang wanita cantik yang mengajak untuk berbuat  zina ?” beragam jawaban dari orang-orang pada kelompok pengajian tersebut, namun yang paling kental dan menjadi standar jawaban pada saat itu  adalah “ Insya Allah saya akan menolaknya!.”  Saya ketika itu  tidak menjawab dengan serius pertanyaan tersebut, saya mengerti sang guru tentu punya  jawaban yang berbeda. Jadi jawaban dari sang guru yang saya tunggu-tunggu. Lantas kurang dan lebih ia menjawab, “bisa saja saat ini di tempat ini kita menjawab, tidak! saya akan menolak ajakan wanita tersebut dengan yakin. Namun bagaimana kita bisa tahu, apakah kita tolak atau terima ajakan si wanita. Karena saat ini kita belum di posisikan pada kondisi tersebut, mungkin bisa jadi kita malah memungkiri  jawaban kita sendiri bila di hadapkan pada posisi dan kondisi  seperti itu nantinya.” Luar biasa, mungkin benar adanya seperti itu, jangan dulu kepedean kita bisa menolak dan menangkis berbagai rintangan yang menyeret kita pada jeratan maksiat, padahal ujian sebenarnya mungkin belum datang kepada kita.  Maka menjadi tugas kita untuk membentengi diri kita sejak sekarang. Mendekatkan diri kepada Allah, penyerahan total untuk tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan yang berasal dari-Nya, menjadi jalan yang akan menguatkan benteng keimanan manusia seluruhnya.
cermin untuk diri sendiri dan yang lain, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam

Sabtu, 02 Juli 2011

Just Writing...

Seorang akan hilang tenggelam di telan masa & hanya meninggalkan sebuah nama, aku tidak ingin hanya seperti itu, aku ingin menjadi pelaku sejarah, menulis merupakan jalan bagi diriku agar tetap bergolak di pusaran sejarah. Jari – jemari yang terus bergerak untuk mengaitkan satu kata dengan kata yang lain, agar menjadi sebuah frasa yang berorientasi untuk manyampaikan sebuah  “ hakikat Kebenaran”. Jari jemariku jualah yang akan menjadi bagian dari diantara sekian saksi untuk sebuah perbuatan, baik itu maksiat atau kebaikan.

ini bukanlah hal kecil pikirku, namun tetap kuserahkan total kepada Allah SWT yang maha besar yang juga maha mengetahui, Allah yang paling pantas menilai dan memberikan balasan terhadap hal yang telah kulakukan ini.