Lewat dari sepuluh tahun yang lalu, Teringat akan seorang bocah yang tinggal di pemukiman dekat perbatasan Jakarta dan tanggerang, bocah cengeng dan ingusan, bocah yang biasa-biasa saja, bocah yang sama dengan bocah-bocah lainnya. namun bocah tersebut mempunyai semangat yang tinggi ketika dihadapkan oleh hal – hal yang belum di ketahuinya, yang tentu berawal dari rasa penasaran. Suatu ketika bocah itu melihat ada beberapa temannya yang pergi untuk memulung, mengumpulkan kardus, botol aqua, dan barang-barang bekas lainnya. Dengan menggunakan sepeda gerobak anak-anak itu pergi untuk memulung agar hasilnya mendapatkan uang dari bang gendir setelah menjual beberapa barang bekas kepadanya. Hal ini memicu si bocah untuk ikut pergi memulung. Bukan karena ia ingin mendapatkan uang, bukan juga karena menyokong kehidupan keluarga, bukan karena faktor ekonomi atau pun dorongan material semata. Karena apabila di lihat dari latar belakang keluarganya, walaupun tidak tergolong keluarga yang kaya raya bocah ini termasuk dalam keluarga yang cukup dalam sisi financial. sepertinya bocah ini hanya ingin menyalurkan hasrat penasaran yang bergejolak dalam dirinya, yang ia ketahui dari kegiatan teman-tamannya hanyalah naek sepeda gerobak, mengumpulkan barang-barang bekas dan keliling pemukiman kampung. tergambar dalam frame bocah tersebut, hal yang sungguh sangat mengasyikan. Maka dari itu sang bocah dengan penuh semangat meminta kepada teman-temannya untuk ikut pergi memulung barang bekas, namun di sayangkan temannya urung mengabulkan niat sang bocah tersebut untuk ikut, karena mungkin teman-temannya tidak ingin menyusahkan si bocah nantinya, sang bocah sungguh kecewa berat.
Pada akhirnya kesempatan itu ada, bocah itu bisa ikut dengan teman-temannya, namun dengan kegiatan yang berbeda, yakni berjualan pempek, reaksi bocah ini sungguh sangat kegirangan ketika di ajak oleh temannya untuk berjualan pempek, pada awalnya, sang bocah sering tertawa kecil sambil berteriak “PEEEMPEEEEEEK…PEEEEEMMPEEEEK” mengelilingi daerah pemukiman tersebut, namun setelah sudah agak siang, sang bocah merasa jenuh dan bosan, maka terlintas di dalam benaknya untuk meninggalkan barang dagangannya dan di serahkan kepada temannya, sebelum dia pergi si bocah masih menyempatkan untuk menyantap pempek yang jadi barang dagangannya karena tak kuat menahan rasa lapar.
Suatu ketika bocah ini ingin bermain bola, namun sayang ternyata bola blitar yang biasa di pakai untuk bermain sudah usang dan tak layak pakai, maka si bocah dan teman-temannya bersepakat untuk membeli bola blitar yang baru, dengan cara patungan. Ketika uang mereka masing-masing telah terkumpul, ternyata uang tersebut masih kurang. Harga bola blitar ketika itu mencapai 16 ribu sedangkan uang yang terkumpul hanya sekitar 10 ribu. Lalu di lakukan cara lain untuk menutup kekurangan uang tersebut, yakni mengumpulkan sendok untuk dijual kepada warung makan yang mau menadah sendok, maka si bocah dengan penuh semangat lekas kerumah dan mengambil beberapa sendok untuk di jual, ia tidak perduli bagaimana nanti reaksi keluarganya ketika ada jamuan makan atau makan malam bersama, dan di dapati oleh ayah dan ibunya sendok makan telah hilang..
Banyak peristiwa lain yang mengharu biru kehidupan sang bocah "biasa-biasa saja". Kini Bocah itu telah beranjak dewasa, iya,bocah itu adalah saya. Saya teringat beberapa kurun waktu yang lalu, karena baru kemarin saya merasakan semangat bocah itu kembali hadir dalam diri saya. ketika saya mengikuti acara Tarhib Ramadhan, di mana saya dan para peserta tarhib lainnya baik itu pemuda, pelajar, mahasiswa, bapak-bapak dan ibu-ibu yang membawa anaknya berjalan longmarch untuk menyambut bulan ramadhan sambil menyeru kepada warga sekitar akan penerapan Syariah & penegakkan Khilafah. Saya sering tertawa-tertawa kecil ketika itu, persis sama ketika saya kecil dulu, saya begitu bersemangat, padahal ini bukan pertama kali saya mengikuti acara model seperti ini. Semangat bocah hadir lagi dalam diri saya. Namun ada hal yang membedakan dari semangat yang hanya bermodalkan semangat, semangat yang dulu dan semangat yang sekarang, semangat ini penuh dengan pekmaknaan, semangat yang lahir dari sebuah pemikiran rasional yang bersandar kepada Islam dalam menyikapi berbagai permasalahan yang membelenggu kehidupan di negeri ini. Ya semangat itu salah satunya mengalir kedalam bentuk semangat perlawanan! Perlawanan terhadap tuan-tuan pemilik modal yang rakus dan serakah yang telah merampas dan menjarah kekayaan negeri ini, perlawanan terhadap system bobrok & busuk buatan manusia, perlawanan terhadap para penguasa yang menjadi antek-antek para penjajah pengemban ideology busuk, perlawanan terhadap dollar yang menggantikan emas sebagai mata uang, perlawanan terhadap pendistribusian kekayaan yang tidak merata, perlawanan dan perlawanan! Namun tidak hanya cukup sekedar tindakan perlawanan tetapi juga penyeruan agar manusia kembali kepada hukum-hukum Allah, kembali kepada ketaatan sejati dengan penerapan syariah secara total dalam naungan institusi islam yakni Khilafah. Wallahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar