Kamis, 27 Desember 2012

Dungu Ya Dungu


Kaum muslim wajib membentuk satu kepemimpinan bagi seluruh umat Islam di dunia yang bertugas menegakkan Syariah Islam dan menebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru bumi, Maka model negara terbaik sebagai pengatur ditengah rusaknya realitas atas kegagalan Kapitalisme beserta derivatnya adalah khilafah. Sebuah negara yang berasaskan Aqidah Islam dan berhukum kepada Syariah Islam, Maka, menegakkan khilafah adalah kewajiban yang utama. Untuk mendirikan Khilafah tentu mensyaratkan adanya kelompok dakwah yang terorganisir yang mengemban Misi untuk mengembalikan tegaknya Khilafah.  Bergabungnya kita dengan Harokah (organisasi) dakwah yang senantiasa melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar menjadi sebuah jalan yang mulia. Keluarnya seseorang dari harokah dakwah dan berhenti untuk berdakwah adalah jalan yang kontraproduktif dengan jalan yang menghantarkan kepada kemuliaan, karena meninggalkan dakwah berarti kemaksiatan.

Kesimpulan-kesimpulan di atas sudah cukup jelas dan terang benderang, bagi seseorang yang mempunyai jiwa yang tulus, Ikhlas, akal pikiran yang jernih tentu akan secara lapang dada menerima kesimpulan di atas benar adanya. Pada kalimat terakhir kesimpulan dimuka, juga sudah memberikan garis demarkasi yang tegas bahwasanya meninggalkan dakwah adalah kemaksiatan. namun, hal dan imbauan yang cukup tegas ini kadang menjadi hal yang ingin dan mudah dilanggar, tidak jauh berbeda dengan permisalan orang dewasa ketika menghimbau anak kecil agar tidak main lumpur karena kotor, si anak tersebut malah asik-asikan maen lumpur tanpa mengindahkan imbauan orang dewasa tadi, juga sama halnya ketika si orang dewasa melarang si anak untuk mengulum setiap benda yang berada di sekitar anak, tetap juga si anak membandel dan mengulum benda yang dekat dengannya tanpa memperhatikan imbauan orang dewasa tadi. 
 
Saya tidak berbicara dalam konteks setiap peraturan hadir untuk di langgar, tapi lebih kepada bagaimana ketundukan seseorang ketika rule yang sudah jelas, terang benderang dan tegas masih juga dilanggar. Padahal ia tahu resikonya fatal untuk dirinya sendiri. Fenomena seperti ini kita sebut saja sebagai Kedunguan.

Bicara kedunguan, saya teringat tulisan di Journal yang membagi kedunguan menjadi beberapa kategori, inilah kutipannya:

Ada tiga tipe yang dikenal dalam mengkategorikan kedunguan. Yang pertama disebut dengan keidiotan, dimana mereka adalah orang-orang yang paham situasi secara logis, namun secara sederhana mengabaikan konteks aturan yang tersembunyi. Sebagai contoh, ketika saya biasa bersantai di restoran, seorang pelayan menyapa saya, ‘bagaimana hari anda?’ Saya tahu ia sedang berbasa-basi sehingga jawaban saya pun mestinya basa-basi: ‘baik.’ Tapi saya malah menjawab secara jujur (hari ini melelahkan, kerjaan saya di kantor berat sekali, dst…) dan pelayan tersebut melihat saya selayaknya seorang idiot. Pelayan tersebut benar, saya adalah seorang idiot.  Bentuk yang kedua dan bertentangan dengan yang pertama adalah moron. Suatu bentuk kedunguan yang mana memahami secara tepat konteks yang berlaku, namun bersikap eksesif atas konteks tersebut. Contoh dari kedunguan moronic dapat dilihat dari anekdot dimana ketika dalam suatu kondisi yang darurat, seseorang diharuskan untuk menelepon 911. Akan tetapi orang tersebut tidak dapat menelepon 911 dikarenakan tidak ada angka 11 di tubuh telepon. Lalu kedunguan yang ketiga, sekaligus yang paling menarik, adalah apa yang disebut dengan Imbisil. Menurut Wikipedia, imbisil adalah termin medis untuk menjelaskan seseorang secara moderat mengalami keterbelakangan mental. Termin ini berasal dari bahasa latin imbecillus yang berarti lemah, atau lemah-pikir. Imbisil biasa digunakan sebagai kategori untuk menjelaskan orang-orang dengan IQ 26-50, di bawah IQ moron 51-70 dan di atas IQ idiot 0-25. Seorang imbisil adalah mereka yang percaya bahwa aturan kontekstual yang tersembunyi/nalar umum benar adanya, tapi mereka tidak yakin akan keberadaannya. Contoh sederhana dari logika imbisil dapat dilihat dari pernyataan band punk Slovenia, Laibach, ketika mereka berkomentar mengenai keberadaan Tuhan. Mereka menjawab, ‘seperti orang Amerika, kita percaya akan Tuhan; namun tidak seperti orang Amerika, kita tidak yakin dengan Tuhan.’
Diluar benar atau salah, tepat atau tidak pembagian kedunguan di atas, saya ingin bercerita tentang seorang yang sudah aktif dalam Kelompok Dakwah yang terorganisir lalu berfikir untuk mundur dan mencoba mencari jalan dan pemikiran lain di luar harokah dakwah tersebut, padahal ia tahu dan paham meninggalkan dakwah adalah kemaksiatan. ketika ditanya apa maksud dari langkah yang ia ambil tersebut, jawabnya sederhana ia hanya ingin dan penasaran saja, karena seperti Seorang yang Imbisil, Ia percaya dengan kelompok tersebut, namun tidak yakin dengan kelompok tersebut. Pembacaan sebagai seorang yang Imbisil menghantarkannya untuk bersentuhan langsung kepada Realitas yang rusak tanpa adanya Stratified Advice (Nasihat berlapis) dari orang-orang sekitarnya, berbeda ketika dahulu masih aktif di kelompok dakwah yang terorganisir, ungkapan domba yang tersesat serasa mengena untuk orang sepertinya, namun, canggihnya walaupun Imbisil ia menyadari dan mengakui bahwa ia telah salah, mengambil langkah yang keliru dan yang lebih penting tidak malu untuk mengakui keimbisilannya. Karena bisa saja ia mengklaim sedang melakukan kontemplasi demi sebuah kebenaran yang menunda untuk diketemukan, menjadi seorang Arbiter yang Independen dari klaim-klaim kebenaran kelompok dakwah dan pembelaan-pembelaan lain yang menjadikannya seorang aggressor yang defensive apologetic, lalu kemudian tertawa terbahak-bahak sembari menepuk dada keras-keras, lihatlah seorang Imbisil kini mengklaim sebagai seorang pendobrak dan genius. Sungguh lucu!

Dikesempatan yang lain,  Seorang Imbisil yang telah tobat kemudian diajak lagi oleh kawannya untuk kembali berkontemplasi, secara sederhana ia mengatakan kepada kawannya, Kontempasi-mu bisa saja kau maknai sebagai proses pencaharian, tapi untukku, diposisiku yang sekarang, Kontemplasiku berarti pengkhianatan….

FrdSprtrmp, Pinggir Jakarta, 2012  

Minggu, 23 Desember 2012

Arga


de omnibus dubitandum (“meragukan segalanya”)
Ragukanlah segalanya, junjunglah tinggi skeptisisme kepada setiap hal, maka pencaharianmu tidak akan pernah berhenti untuk mengetahui batasan hakikat diri, membawamu sampai di ujung cakrawala hingga hilang dalam horison kehidupan.

Ketika masih bersekolah, lebih dari 10 tahun yang lalu, Arga tidak dimasukan kedalam sekolah-sekolah umum, ia dimasukan oleh orang tuanya di salah satu pesantren di Jawa Timur, ayahnya betujuan setidaknya Arga bisa menjadi penerus Imam Masjid di kampungnya, 6 tahun waktunya di habiskan dipesantren hingga lulus, kemudian tiba waktu kuliah,  ia mengambil Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Swasta terbesar di Jakarta, Arga dikenal sebagai seorang yang aktif berorganisasi ketika berkuliah, kesibukannya di Organisasi Dakwah dan Masjid Kampus, membawanya di percaya sebagai ketua Organ dakwah Kampus di tahun keduanya, hanya melanjutkan tren dan program kerja periode kepemimpinan terdahulu yang banyak berisi agenda-agenda Ritual keagamaan, dan  materi tentang Aqidah, syariah dan Tauhid yang sedikit dan seadanya. Membuat lesu kepemimpinan ketika periodenya dan juga kelesuan secara kelembagaan yang terlihat dari berkurangnya anggota lembaga dakwah kampus tersebut hingga tidak lebih dari 10 orang. 

Arga sadar hal ini tidak bisa dibiarkan, untuk itu ia melakukan terobosan-terobosan terhadap aktivitas dakwahnya dikampus, salah satunya dengan memperluas sasaran targetan dakwah, kali ini bukan hanya orang-orang yang sering nongkrong dan kumpul-kumpul di masjid saja, ia berencana melakukan sowan dan diskusi aktif terhadap lembaga-lembaga lain, intra kampus atau pun ekstra kampus kini menjadi perhatiannya. Seperjalanannya, Beragam respon yang diberikan dan tidak sedikit yang acuh tidak acuh untuk terlibat diskusi aktif, namun ketika masuk ke pintu BEM Fak. Hukum, Arga berpapasan dengan Agis yang merupakan teman sesama pesantrennya terdahulu.

Arga dan Agis terlibat diskusi yang cukup aktif dan panjang, Agis terlihat begitu mendominasi arga dalam sesi percakapan, bila diibaratkan duel permainan bola, Arga di giring hingga setengah lapangan. Percakapan tersebut akhirnya terhenti oleh suara Adzan Ashar yang baru saja memanggil mereka berdua. Arga tampak murung dan menundukan kepalanya ketika perlahan menuju ketempat bersuci, seperti ada yang membekas dan menjadi pikiran Arga dari hasil diskusinya dengan Agis.
Keesokan harinya, secara mengagetkan arga mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua Lembaga Dakwah Kampus, ia kemudian aktif di Bem Universitas hingga tahun keempat kelulusannya, ketika dan selama di BEM Universitas, ia dipertemukan dengan orang-orang yang mempunyai corak pemikiran yang beragam dan berbeda, dari mulai pemikir Islami, Filosofis, Nasionalis, Marxis dll yang kemudian menghantarkan Arga kepada proses dialektik-Filosofis yang cukup ruwet dan melelahkan.    
***

Sebelumnya harus dijelaskan terlebih dahulu dimana posisi teoritik arga saat ini, berbeda halnya dahulu yang masih menyisakan Frame anak Pesantren yang meyakini mutlak aturan yang berasal dari Agamanya adalah yang paling benar, posisi teoritik arga sudah bergeser, ia adalah seorang pencari kebenaran (klaim dirinya), ia mengutuk segala ketidakadilan, penindasan, perampasan hak dsb, ia tidak ingin Individu terkekang dan tidak menjadi manusia yang benar-benar bebas dan merdeka, pengekangan dan ketidakadilan yang tidak sesuai dengan asumsi Rasionya akan ditentang, ia berusaha menggigit akar keyakinan tersebut dalam-dalam di dalam pikirannya.  

Untuk sebuah hal yang ia sebut sebagai kebenaran, Ia terus mencari dan berkelana ke tempat-tempat orang yang ditindas, sampai berhenti dikawasan Industri tempat dimana buruh banyak bersemayam dan diperas tenaganya untuk mencapai targetan-targetan produksi yang kemudian di bayar dengan Upah yang begitu murah, Arga bersimpati terhadap mereka dan komitmen terhadap penghapusan penderitaan mereka, tapi ia bingung harus memulainya dari apa dan bagaimana, karena  ia dari awal sadar tidak punya basis massa, maka tidak ada jalan lain selain melakukan Penetrasi sembari melakukan perekrutan kader-kader awal yang dapat di andalkan untuk mengemban landasan teoritik yang dibawa olehnya. Ia memulai dengan posisi teoritik yang di pegang olehnya…

Ragukanlah segalanya, junjunglah tinggi skeptisisme kepada setiap hal, maka pencaharianmu tidak akan pernah berhenti untuk mengetahui batasan hakikat diri, membawamu sampai di ujung cakrawala hingga hilang dalam horison kehidupan.
Seru Arga kepada kompatriot buruhnya yang tampak dibuat kebingungan oleh kata-katanya barusan.

Dengan kemahiran retorika dan pemilihan diksi yang tepat, dua orang teman sekamar Arga berhasil di ajak dan terlibat diskusi aktif, saat melakukan agitasi, Arga  terus menerus menghadirkan putusan-putusan moral tentang kebengisan system dan kesialan Individu dihadapan system, dua orang kader awal ini terlihat begitu antusias, hingga terus menanyakan berulang kali kepada Arga,
Apa yang harus kita lakukan?
Arga berulang kali juga menjawab dengan jawaban yang kurang lebih sama,
Kita harus percaya dan yakin perjuangan kita tidak akan sia-sia, penentangan kita terhadap penindasan dan niscayanya kemerdekaan Individu akan membawa kita kepada sebuah jalan pembebasan yang membebaskan
Jelasnya Konsep bernegara seperti apa nantinya yang kita emban? Apakah Sosialisme / Komunis? Atau kah ada yang lain, yang tentunya bukan Kapitalisme? bertanya kader pertamanya kepada Arga
Tidak, tentu tidak, Sosialisme/Komunis akan membawa kita kepada Totalitarianisme, itu akan mencipatakan penindasan gaya baru yang bisa saja lebih bengis dari hari ini
Lalu apa?
Ini akan menjadi sebuah Enigma, jalan yang misterius, dan pemecahan teka-teki yang akan berujung nantinya, tapi yakinlah selama kesulitan-kesulitan Individu dihadapan Sistem ini terus kita problematisir terhadap setiap mereka yang ditindas, maka Enigma tersebut dapat dipecahkan hingga menghantarkan kita kepada jalan hidup yang baru
Kedua orang kader awalnya tampak tidak puas dengan analisa terakhir yang diterangkan Arga, namun apa boleh buat mereka seperti disihir dengan kata-kata Arga. Dengan terus-terusan membawa kegalauan Individu dihadapan system, Arga terus memberikan kuliah kepada kedua kader awalnya hingga tak kenal lelah, uang Arga yang merupakan hasil dari pekerjaannya ikut menjadi buruh di habiskan untuk membiayai logistik mereka bertiga selama mereka aktif berdiskusi malam-malam sehabis bekerja.

Namun, Arga mungkin lupa, ketahanan fisiknya tidak sebaik buruh-buruh yang lain, ia pernah di vonis dokter mempunyai penyakit leukemia, saat malam di minggu yang ke-3, dimana ia terus melakukan penetrasi pemikiran dengan dua orang kadernya, ia sudah merasakan gangguan pada penglihatannya, buram dan kunang-kunang tampak berjalan dihadapannya, pola pernapasannya berubah makin abnormal, hingga esok hari, tubuhnya menggigil hebat, ia tidak bisa bergerak dari tikar tempat tidurnya, ia sempat memintakan tolong kepada kedua kadernya agar membawa ke Rumah Sakit terdekat, tapi kedua orang tersebut secara tersirat tidak menggubris keinginan Arga,  keduanya malah lebih memilih untuk masuk kerja dan membiarkan Arga tetap di pembaringannya, Asam lambung yang terus teriak karena kelaparan menjadi alasan utama keduanya untuk masuk kerja dan mengambil jam lembur kerja, bagi mereka berdua yang membuat mereka betah berlama-lama dengan Arga selama ini adalah ketika Arga bersedia dan secara lapang dada memberikan jatah makanan dan minumannya kepada mereka ketika berdiskusi panjang malam-malam, sepertinya slogan-slogan pembebasan dan kegalauan Individu yang dibawa Arga tidak membekas ke dalam kedua orang tersebut sedikit pun.


***

Dalam pembaringannya. Di tikar yang lusuh dan ditemani sarung sebagai pembalutnya, Arga terus menggigil hebat, kamarnya serasa di Siberia dengan tingkat kedinginan -40 derajat celcius,  dengan suhu seperti itu bahkan air panas pun dapat membeku seketika, Arga menatap loteng kamarnya yang tampak reot dan dipenuhi sawang-sawangan, pandangannya menjadi lebih buram dari sebelumnya, kunang-kunang pun tampak tidak terlihat lagi berjalan dan menari-nari di hadapannya, yang ia lihat kegelapan semakin pekat menjemput pandangan kedua matanya……

de omnibus dubitandum, menjadi panji dan slogan yang tidak lagi cocok dengan kondisinya saat ini, ia tidak bisa lagi berasumsi untuk meragukan segalanya, termasuk kematian…..

Frdsprtrmp, Pinggir Jakarta, Desember 2012.