Jumat, 11 Desember 2015

Muhasabah sebelum waktu itu tiba



Mungkin bagi sebagian kita sudah tidak asing mengenal nama-nama artis luar seperti Robin Williams, Marylin Monroe atau pun Michael J. yang meregang nyawa secara memprihatinkan, nama yang saya sebut di awal dengan cara bunuh diri dan dua lainya di duga karena over dosis. Untuk kasus over dosis atau bunuh diri yang masih menjadi perdebatan diamana di antara dua kondisi itu jualah yang telah menewaskan Kurt Cobain, seorang musisi grunge terkenal asal AS.

Padahal kita tahu, untuk urusan keduniaan mereka tergolong ahli di bidangnya masing-masing, Robin W. sudah malang melintang menjadi aktor film dan membintangi beberapa judul film,  filmnya yang terkenal yakni Jumanji. Marylin Monroe adalah bintang/aktris populer di zamannya, bahkan kecantikannya menggoda beberapa politikus ternama di negerinya sehingga terciptalah berbagai spekulasi skandal. Sedangkan untuk Michael Jackson sendiri pernah mendapat julukan “bapaknya musik pop”. Untuk urusan perbendaharaan harta, nama-nama di atas terkenal dengan kekayaan yang banyak. juga urusan popularitas, sudah maklum bahwasanya mereka hampir dikenal seantero penjuru dunia. Lalu pertanyaannya bagaimana bisa mereka meregang nyawa dengan cara yang sedemikian? Padahal bicara ukuran keduniaan yang digaungkan oleh orang-orang kafir barat, seperti harta dan tahta sudah ada didepan pelupuk mata dan mereka nikmati.

Persoalan perspektif

Manusia hari ini banyak kehilangan perspektif (pandangan hidup), bagaimana caranya hidup dan untuk tujuan apa ia hidup sehingga sebagian besar dari mereka meraba-raba arti hidup dengan sudut pandang akal yang lemah juga terbatas, hingga sebagian dari mereka pada titik ekstrim ada yang berpendapat  dunia untuk dunia tidak ada lagi kehidupan setelah dunia (akhirat).

 Maka dari itu ada baiknya kita simak betul firman Allah azza wa jalla:

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (Ar Ruum: 6-7).
Untuk ayat ini penjelasan ulama besar Ibnu katsir “Maksudnya kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan melainkan tentang dunia dan pergulatan serta kesibukannya, juga segala apa yang di dalamnya. Mereka cukup cerdas untuk mencapai dan menggeluti berbagai kesibukan dunia, tetapi mereka lalai terhadap urusan akhirat dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di alam akhirat, seakan-akan seorang dari mereka lalai, tidak berakal dan tidak pula memikirkan (perkara akhiratnya)” (Ibnu Katsir).

Persoalan kesalahan dalam menentukan perspektif hidup akibatnya sangat fatal dan berbahaya, kita akan menjadi manusia-manusia yang kehilangan arah, lihatlah bagaimana ramai manusia saat ini yang berjibaku untuk mencapai pencapaian Qorun dengan berpatokan kebahagiaan dapat lahir setelahnya, saksikanlah ramainya manusia mengganti bentuk ciptaan asal dengan operasi plastik dan yang sejenisnya demi mendapatkan kecantikan/sanjung puji manusia lain. Saksikanlah ribuan orang mengantri dalam ajang pencarian bakat dangdut atau pun pop yang melengak-lengok dihadapan jutaan pemirsa tanpa menutup auratnya. Saksikanlah ramai pemuda berlomba-lomba dalam maksiat ketika melakukan aktivitas pacaran yang sejatinya tidak pernah dikenal dalam Islam. Saksikanlah banyak orang yang menyembah Allah azza wa jalla namun di saat yang bersamaan meninggalkan aturan-Nya dalam persoalan individu hingga bernegara.

Berfikir tentang Kebangkitan
Mengutip dari kitab Nizhomul Islam karya syeikh taqiyudin an-nabhani di paragraph dan bab awal

Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain.(Nizhomul Islam)

Memahami paragraph ini kita akan dibawa kepada pemikiran tentang alam semesta, manusia dan hidup juga tentang Zat yang ada sebelum kehidupan dan apa yang ada sesudahnya. Terkait alam semesta, manusia dan kehidupan maka Terdapat Pencipta yakni Allah azza wa jalla, Pencipta yang menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Kita diciptakan oleh Allah, hidup untuk beribadah kepada Allah (Q.S. Adz-dariyat ayat 56) dan akan kembali lagi kepada Allah.

Ketika kita sudah memahami yang sedemikian, maka penyerahan total terhadap hukum Allah serta tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang dibawa Al-Khaliq adalah konsekuensi dari pengakuan keimanan kita.
Didunia tentunya kita ingin keluar dari segala kesempitan hidup yang melanda karena berpalingnya kita dari peringatan-Nya (Q.S.Taha ayat 124) Dihadapan kita nanti setelah fase kehidupan dunia akan ada hari penghisaban, ingatlah Allah amat teliti tentang apa-apa yang telah kita kerjakan, tentunya kita tidak ingin mendapatkan minumannya penghuni neraka yang di jelaskan oleh Allah melalui firmannya:

Kecuali air mendidih dan air luka (nanah) (Q.S. An Naba ayat 25).

Mudah-mudahan Allah mengaruniakan rahmat-Nya kepada kita, melembutkan juga melunakkan hati kita untuk dapat menerima kebenaran, memasukan kita kedalam jannah-Nya, melimpahkan kesabaran terhadap kita untuk tetap teguh memegang kebenaran, menambahkan petunjuk terhadap kita bahwa yang haq adalah haq yang bathil adalah bathil..Aamiin
Wallahu a’lam

Farid Syahbana, Kaltim 12/12/2015    

Kamis, 14 Agustus 2014

Kritik atas sikap Defensive Apologetic Jomblo


Berawal dari  pembahasan yang terus beredar di media social, tentang fenomena pacaran sebagai buah dari pergaulan system sekular saat ini yang  memank tidak dibenarkan oleh Islam, Persoalan ini begitu menarik khususnya para pemuda, karena salah satunya ialah, fenomena pacaran adalah fenomena yang dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari para pemuda di negeri ini, jadi pembahasan ini memerlukan counter dari sudut dan perspektif Islam.
Di era smartphone saat ini, counter dari ide tersebut lahir bukan hanya pada aras realitas/dunia nyata namun juga menjalar di dunia maya, secara singkat. Dari sinilah tulisan ini berasal dan dibuat, ketika pada aras dunia maya, counter-counter yang dihasilkan oleh para pengemban dakwah yang terkesan unyu-unyu  justru lebih banyak muatan apologetic jomblo.
Dengan pemahaman dasar, Aqidah Islam adalah aqidah yang paripurna, memuat dan mengatur segala urusan manusia secara komprehensif, maka interaksi antar lelaki dan perempuan juga merupakan bagian yang di hukumi dan di atur oleh Islam. Dengan catatan, persoalan dan fenomena ini bukanlah semata-mata hal yang di atur oleh Islam, namun banyak persoalan lain juga di atur oleh Islam, sebagaimana masalah Ekonomi, Politik, social masyarakat, system pemerintahan dsb juga serta merta diatur oleh islam.
Admin dalam hal ini, secara berkelanjutan ikut mendiskusikan fenomena ini dengan teman teman dari komunitas anak baek-baek. Sebuah komunitas dengan struktur yang longgar dan keanggotaannya bersifat tertutup yang dibentuk atas dasar kesamaan ide dan visi antar sesama anggotanya. Nanti dalam artikel ini, Akan dipaparkan beberapa pendapat dari anggota dan elit struktur komunitas baek-baek terkait persoalan ini.

Pemenuhan Naluri
Naluri melestarikan jenis yang salah satu penampakannya ialah naluri seksual/ketertarikan dengan lawan jenis hadir bersamaan dengan keberadaan manusia itu sendiri, maka akan didapati kecendrungan dan penampakan-penampakan yang di sandarkan pada naluri seksual tersebut, pemicu dari kehadiran dan pemenuhan naluri ini berasal dari faktor eksternal. Misalkan adanya ketertarikan ketika melihat lawan jenis, berimajinasi mesum dan liar ketika mendapati contain film porno dsj.  Bila dorongan yang ditimbulkan dari naluri ini tidak tersalurkan, maka akan menghadirkan kegelisahan, Sebagai catatan, naluri seksual tidak bisa dihilangkan, dicabut atau dihempaskan (dengan penekanan bahasa yang sedikit didramatisir), tapi bisa dialihkan kepada naluri lain, seperti dengan kegiatan olahraga atau pun menuntut ilmu dan juga beribadah.  perbedaan pemicu yang cukup fundamental dengan dorongan internal yang biasanya berkaitan dengan kebutuhan jasmaniah berupa kebutuhan sandang, pangan dan papan, tapi keduanya yakni antara naluri dan kebutuhan jasmani adalah potensi hidup yang eksistensinya alamiah dalam diri manusia.
Berdasarkan pandangan di atas, dengan mengaitkan fenomena maraknya status-status yang terus di suarakan oleh individu atau kelompok yang menamakan dirinya Jomblo berkualitas atau jomblo mulia yang secara vocal mengikrarkan keistimewaan seorang jomblo, ternyata mengundang polemik, setidaknya buat komunitas baek-baek yang aktif menyoroti peristiwa ini,  Ketua umum dari Komunitas Baek-baek yakni bung Dim berpendapat, “Awalnya kita mungkin bisa saja cuek terhadap apologi yang dilakukan sebagian jomblo, tapi belakangan ini makin massif, dan mulai banyak orang-orang yang terpengaruh, padahal yang namanya naluri harus disalurkan dengan benar”. Titik tekan yang ingin dikritisi oleh ketum adalah, menyudahi previlese yang berlebihan terhadap jomblo hingga melabeli dirinya sendiri dengan berbagai  label semisal High Quality Jomblo, padahal jomblo bukan lah sebuah ruang vakum yang statis, dalam artian tendensi setiap jomblo adalah menikah, ketika menikah maka gugurlah status kejombloan tadi.
Rasulullah saw. Bersabda “wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu untuk menikah, menikahlah, karena menikah itu dapat menundukkan mata dan menjaga kehormatan. Siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab puasa dapat menjadi perisai baginya (HR al – Bukhari dan Muslim).
Dari hadits di atas, kita dapat ketahui, satu-satunya cara yang paling benar dan sesuai tuntunan syar'i dalam menyalurkan naluri seksual adalah melalui jalan pernikahan. Sebab dengan menikah, berarti seseorang telah dapat menyalurkan nalurinya dengan cara yang halal.
Lebih lanjut ketum menambahkan, ketika mengacu kepada pernikahan yang ternyata sulit untuk diwujudkan dalam waktu yang dekat oleh sebagian mereka dengan beragam alasan, akhirnya mereka melegitimasi statusnya yang sekarang sebagai Jomblo berkualitas, lalu ketum menganalisis setidaknya ada 4 variabel yang biasanya dijadikan apologetik para jomblo, yang Pertama: Urusan keluarga, padahal kalo untuk keluarga, menurut ketum ini adalah urusan yang mudah, dengan membuat pertanyaan sekaligus pernyataan, “Ente mau nikah sama doi apa sama nyokapnya? Yang perlu ente yakinkan Cuma walinya, kalau walinya udah setuju, mau seluruh dunia kagak setuju kagak ada masalah”. Begitu jelasnya.
Yang Kedua: urusan duit, ini juga menurut ketum banyak gampangnya, yang jelas kita yakin rezeki sudah di atur oleh Alloh Swt. Tinggal bagaimana pada tataran syariat kita juga melaksanakan aturan Alloh dengan berikhtiar dan mencari nafkah. Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seseorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar maruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya, belau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain. Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku, karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”
Yang Ketiga: menghambat gerak/laju dakwah, ketum mengomentari hal ini lebih lanjut,                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    " ini tidak relevan sama sekali, apa hubungannya gerak sama nikah, trus kalo nikah dan istri malah menghambat dakwah gimana? Ya, tinggal cerai dan cari yang laen, saya kira teman-teman harus mengingat kisah Abu Bakar ra. Yang menyuruh anaknya Abdullah untuk menceraikan istrinya karena menganggap melalaikan dari  sholat berjamaah dan cenderung asyik bercengkarama dengan istrinya ketika itu”.
Yang Keempat: Urusan mental, ketum menambahkan “Dari ketiga hal di atas dan beberapa catatan yang ane jelaskan ini semuanya Insya Alloh syar’i, coba nte perhatikan kalo ada yang gak syar’i, tapi mental gak siap, bakal keluar seribu apologetic. Gak enak kalo semua anggota keluarga gak setuju lah, pengen hidup layak juga lah, gak baik kalo nikah terus cerai lah, macem2 pokoknya!”.
Ya pada akhirnya, urusan mental tidak bisa diabaikan begitu saja, siap atau tidaknya mengubah wacana pernikahan menjadi nyata, dalam kesempatan yang lain, Bung musafir yang merupakan salah satu pengurus di dalam komunitas baek-baek ikut memberikan pendapat terhadap fenomena ini, ia khawatir niat yang dapat mudah bergeser dari para pihak yang sering mengikrarkan diri sebagai Jomblo berkualitas, lebih jelasnya ia mengatakan “Jomblo2 harusnya mereka sadar diri, kalau mereka itu jomblo, gak usah di umbar-umbar di public, apalagi sosmed, dengan beragam Istilah yang memprevilesekan diri atau kelompoknya sendiri, itu bisa saja mengundang anggapan Cuma sebatas cari sensasi, biar di kata aku adalah laki-laki yang taat agama dan tidak pacaran,.. ujungnya bisa jadi adalah mencari perhatian lawan jenis”. Mungkin pendapat bung ian dinilai terlalu sinis, kalau pun memang begitu, bung ian setidaknya membuat batasan agar tidak terjebak dalam fitnah dan asumsi macam-macam, untuk itu lebih baik di hindari, juru bicara dari komunitas anak baek-baek juga tidak mau ketinggalan, hal yang juga senada dan satu tarikan nafas dengan bung ian, ia mengatakan “Jomblo ya gak usah banyak pembenaran, jomblo ya jomblo ajah, tandanya nte blum dapat jodoh, gak usah curhat atau bertahan dengan pembenaran yang semakin buat nte terpojok di sudut ring pertarungan para pencela, karena sikap reaktif dan defensive yang kian memposisikan pada posisi tertuduh dan bersalah (Defensive Apologetik)”.
Kritik membelai
Ya akhirnya dikesempatan ini, mungkin kita dari komunitas baek-baek adakan sedikit pemakluman terhadap perilaku Jomblo defensive apologetic, dalam hal ini, motifnya mungkin yang bisa dimaklumi, berawal dari konflik psikologis individu, hidup di alam kapitalisme secular yang menghasilkan pergaulan  dan seks bebas, telah memicu gejolak syahwat  para pemuda yang masih dalam status kesendiriannya untuk segera diadakan represi ketika setiap kali syahwat itu muncul, tapi sayangnya teman-teman penanganannya kami pandang kontraproduktif, kenapa bisa begitu? Ya, dengan berangkat dari argument awal, bahwasanya naluri seksual dipicu oleh factor eksternal, kita sendiri jangan coba-coba untuk sering menghadirkan status-status yang isinya tentang ketertarikan lawan jenis dan satrianya seorang jomblo, karena itu sama saja ingin membuang sebrang satu sisi mata koin, teriak-teriak jomblo berkualitas dan cukup tangguh pertahanannya, tapi di sisi yang lain terlihat rapuh karena seringnya status seperti itu hadir dalam kesehariannya.
Maksud kami adalah memberi masukan dan sedikitpun tidak ada niat menghalang-halangi, membumikan suatu opini tentang pergaulan yang sesuai dengan aturan syar’i sangatlah mulia, namun jangan pernah lupa dan mereduksi aturan Islam, dimana bukan saja persoalan individu dan konflik psikologisnya, Islam juga mengatur hubungan bermasyarakat dan bernegara.
Ketika kita menyuarakan persoalan Jomblo yang berkualitas di permukaan hingga berhasil dibumikan karena menjadi opini yang cukup massif, lebih baik kita jangan berhenti sampai disana, persoalan lain perlu di opinikan juga secara massif, sebagaimana persoalan kepemilikan sumber-sumber daya alam yang kini di kuasai asing, sebagaimana persoalan ekonomi kapitalisme yang menenkankan kepada fundamentalisme pasar dan individualisme Method membawa kepada penderitaan rakyat luas, sebagaimana persoalan khianatnya para penguasa yang justru jadi kepanjangan tangannya asing, sebagaimana juga persoalan perlunya system kekhilafahan yang menjadi kepemimpinan umat Islam. Dan sebagaimana persoalan dan problematika umat manusia yang telah secara komprehensif di atur oleh Islam.


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

Sabtu, 03 Mei 2014

Ketika Reff bicara dengan dirinya sendiri

Sudah terhitung sekian hari berlalu di tanah rantau orang, tanah tempat berpijak yang bukan tanah kelahiran seorang Reff, banyak pengalaman, pemikiran hingga perasaan yang berkecamuk di hati dan pikiran reff setelah hari berlalu untuk kesekian kalinya. pengalaman, pemikiran dan perasaan  yang hadir dan terlahir dari peristiwa keseharian Reff menunggu untuk diresapi, diterima namun sayangnya minim upaya kritis, dimulai dengan idiom yang berkembang secara general melalui sinema sinema di TV,   ”sungguh menyakitkan rasanya bila merindukan seseorang”,  dengan penuh kecurigaan setelah membaca idiom tersebut, Reff tidak rundung percaya, mungkin benar adanya, mungkin juga tidak, terdengar subyektif, tapi memank begitu adanya, seperti pandangan dirinya yang berbeda tapi tetap tidak meninggalkan tekstur dan kontur subyek, “akan lebih menyakitkan bila tidak ada satu orang pun yang kita rindukan”.  Kemudian ia menambahkan “karenanya, coba saja anda berani bayangkan bila kita tak pernah merindukan seseorang, kerinduan telah tergerus oleh rutinitas keseharian yang berhasil memalingkan kita dari kerinduan itu sendiri dan berkata,mulai sekarang,  jangan pernah merindukan orang lain!”
***

Subyek tetaplah subyek, pandangan subyek kerap berubah ubah, tak menentu, bergerak ulang alik dan berputar kembali, sembari melupakan titik berangkat awal, dengan paradigma subyektif, seseorang seperti halnya reff berhak untuk mengatakan apapun sesuai dengan konteks waktu dan tempat yang di gagas oleh akal dan juga perasaan,  memaknai konsteks sesuai dengan suasana hati, betapa nikmatnya buat seorang subyek berkehendak bebas, kebebasan dalam hal ini, yakni  mempunyai hak dan kebebasan untuk menafsir realitas.

Padahal kita patut kritis juga curiga terhadap pemikiran kita sendiri yang berasal dari berbagai informasi mainstream di tengah tengah masyarakat, kultur umum masyarakat yang di bentuk oleh system kapitalisme yang memberi penekanan lebih kepada individualisme, yakni paham yang memberikan jaminan dan previlese berlebihan kepada Individu, hingga lahir berbagai macam kebebasan individu yang menyesatkan, telah membuat banyak dari kita terjebak dalam jurang subyektivisme,  namun bagi Reff, Boro-boro untuk di Rehab, Reff tidak sempat untuk curiga terhadap pemikirannya sendiri, salah satunya tentang pengalaman pribadi yang berkesimpulan tidak perlunya ia merindukan seseorang, siapapun itu.
***

Ketika hari sudah mulai gelap, tembok kamar ber cat putih masam ikutan gelap, suara sekeliling pun mulai senyap, di wilayah tersebut listrik padam sedari sejam yang lalu, walau cukup kelelahan, Reff tidak dapat memejamkan mata setelah seharian menjalani rutinitas, saat itu dengan perlahan, imajinasi dan bayangan masa lalu hadir, kebersamaan dengan orang orang terdekat, keluarga dan sahabat karib. Lingkar senyum dan tawa hadir dalam satu frame dengan ragam peristiwa yang berbeda. Gambaran tersebut mengobok-obok keras perasaan hingga tak sadar matanya sudah lelah berkaca-kaca setelah disekat berulang. Masih Membawanya jalan-jalan memutar balik ke peristiwa tersebut, sebuah ragam peristiwa yang mempunyai kedalaman kesan bagi Reff. Kemudian menghentak dan memukul keras dirinya. “hei, sedang apa kamu ini!, tega betul kamu mengingkari ungkapan kamu sendiri, kamu tidak perlu merindukan orang lain, tidak perlu!” 

Dramatis sekaligus dilematis, pemikiran subyeknya kali ini berbentur dengan sesuatu yang sulit di atasi olehnya, ya kali ini pemikiran subyeknya harus berbenturan dengan realitas obyektif,  di satu sisi ia acuhkan dan membenci untuk rindu kepada orang lain, di sisi yang lain, mentalnya mendapat ujian ketika berbenturan dengan realitas obyektif, menunggu untuk dipenuhi agar kegelisahan karena perasaan merindukan orang lain bisa segera diakhiri. fenomena seperti ini yang kemudian melatarbelakangi banyak kalangan keranjingan berteriak, ini zamannya postmo bung!
***
Narasi di atas baru bercerita tentang putusan akan pengalaman pribadi reff yang terjebak relativisme, ditempat lain dengan menggunakan paradigma universalitas, putusan dan klaim “hanya ada orang baik Vs orang jahat di dunia ini”  juga menarik untuk disimak, yang paling sederhana adalah mencari dasar dan asumsi putusan tersebut, bagaimana meletakan kebaikan dan kejahatan sesuai dengan porsi paling mendasar hingga berhasil membedakan  manusia itu disebut baik, dan manusia yang lain disebut jahat.  Keseringannya Paham universal yang  di lirik sebagai pemecah kebuntuan dalam mencari dan mencapai pondasi mendasar tersebut, asumsi yang lahir salah satunya adalah, Rasio manusia sesuai dengan konteks waktu dan tempat akan mendapatkan bentuknya sendiri yang Universe, kemudian titik keseimbangan akan lahir apabila rasio individu satu dengan yang lain bertemu dan diperadukan.
 
Putusan atau asumsi di atas, apabila sekali lagi membenturkannya dengan realitas obyektif akan menemukan kelemahannya, seperti yang kita ketahui Rasio tanpa pondasi, akan membuat rasio bergerak bebas tak menentu hingga mudah dirayu dan masuk jebakan relativisme, titik keseimbangan yang diasumsikan juga meleset jauh, individu yang kuat, dalam hal ini mempunyai modal capital dan akses di dalam kekuasaan, seringnya melakukan eksploitasi kepada yang lemah, meng-hegemonik dan mendeterminasi.  Seperti yang kita persaksikan hari hari ini, dimana segelintir Individu mempunyai kekayaan yang cenderung bombastis, namun di sisi yang lain kemiskinan mendapat porsi yang lebih besar di planet yang kita tinggali, khususnya di koordinat Negara dunia ketiga.

Hemmm, reff pun meyakini demikian adanya, sebuah paham universalitas dari rasio Universal yang dapat mempersatukan logika kebenaran dan kesalahan dalam kehidupan manusia

kebenaran selalu terdapat blind spot, tidak ada yang bisa memonopoli kebenaran, karena semua paham meyakini kebenarannya masing-masing, maka relativisme adalah sebuah keniscayaan!

Yaa dengan mudah dan sederhana mayoritas dari kita masih berfikiran seperti di atas, sehingga subyektivisme yang di dapat, padahal manusia secara hakiki butuh pegangan dan sandaran, agar kelabilan Universal bisa segera di atasi, dengan melihat dan membaca narasi di atas, sudah waktunya bagi kita untuk curiga dan menyudahi logika universal yang gandrung terhadap Relativisme dan subyektivisme, absolutisitas yang niscaya. Meletakan rasio dibawah pemilik akal dan manusia yakni Tuhan semesta alam, melalui tuntutan wahyu yang berisi aturan-aturan kehidupan untuk manusia.

Kamis, 16 Januari 2014

Reaksioner?

pada 17 Desember 2010, karena polisi merusak dan menggaruk dagangannya, seorang pedagang sayuran di Tunisia Muhammed Bouazizi  nekat melakukan aksi bakar diri. Bouazizi yang meninggal beberapa minggu setelah itu, kemudian menjadi martir bagi para mahasiswa dan para penganggur yang memprotes kondisi kehidupan rakyat mereka yang miskin.

Tidak jauh berbeda, peristiwa bakar diri merembet di beberapa negara tetangganya. Sebagaimana yang terjadi di Mesir dan Aljazair, fenomena bakar diri juga sempat menjadi perhatian di negeri ini ketika seorang  Sondang Hutagalung, melancarkan aksi bakar diri di depan Istana Negara, penyebabnya di duga adalah refleksi kekecewaan yang sudah memuncak atas berbagai penyimpangan dan tirani penguasa, hal ini dapat terlihat dari sepucuk surat yang ditinggalkan dari si mahasiswa yang berisikan kekecewaan terhadap kondisi masyarakat yang masih berkutat kepada kemiskinan dan mengutuk kezaliman si penguasa jahat.

Kekecewaan yang mendalam tentu menjadi alasan mendasar bagi mereka yang melancarkan aksi-aksi spontanitas seperti itu, dalam khazanah analisis Intelektual, tindakan seperti di atas dijustifikasi sebagai tindakan Reaksioner, dalam istilah Lenin juga disebut sebagai Ekonomisme—yakni perlawanan yang dilakukan tanpa pengorganisasian, tak terpimpin, dan lebih peduli pada ujung-ujung persoalan yang mendesak dan harus terselesaikan sekarang. Artinya, bergerak begitu saja yang penting tuntutan terdekat tercapai.

Contoh lain dari tindakan reaksioner lainnya adalah ketika Anak-anak belia dari keluarga berada (kaum desembris). Yang merupakan perwira-perwira seumur kencur, muak dengan kondisi Rusia. kemudian mereka ingin tampil sebagai pembebas demi rakyat jelata. Namun  harus pasrah dan menyerah diberondong meriam tentara Tsar Aleksander pada 14 Desember 1825.

Kaum reaksioner mungkin telah sampai pada tingkat kemarahan yang memuncak dan mendidih, ingin segera dan harus tersalurkan, karena pada pokoknya mereka tidak terlalu yakin dengan kekuatan massa terorganisir yang telah menemukan pakemnya dalam gagasan dan metode, lebih memilih menjadi seorang pemantik perubahan atas setiap tindakan yang dipandang “heroik”,  seperti yang terdeksripsikan dari ucapan Chun Tae-il, buruh pabrik garmen di kota Seoul, ketika membakar diri di depan aksi. sesaat sebelum api menjilat tubuhnya.

‘Stop eksploitasi buruh! Jangan biarkan kematianku sia-sia!’

Namun kemudian yang terjadi keseringannya adalah mereka kaum reaksioner menjadi martir-martir yang terlupakan dibalik nisan. Melihat fenomena tersebut Objectively, maka tidak ada harapan dan begitu memprihatinkan ketika menjadikan metode reaksioner sebagai metode perubahan yang pejal lagi baku.


Sebagai seorang Muslim kita diikat dengan aturan Islam dalam setiap aktivitas kita di dunia, termasuk dalam menganut sebuah gagasan dan metode perubahan, dalam menganut sebuah metode perubahan kita  harus mengacu pada metode yang benar-benar shahih, yakni metode dakwahnya Rasulullah Saw, berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di atas, timbul pertanyaan, apakah Rasul seorang yang reaksioner? Dengan mudah kita dapat menjawabnya, Apabila Rasul seorang yang Reaksioner dalam artian sempit yakni fokus kepada tujuan-tujuan terdekat tanpa sebuah konsepsi yang jelas dan baku, tentu tawaran dari pihak dan tokoh Quraisy akan di terima, yakni ketika Rasulullah dirayu harta dan ajakan Kekuasaan bersama orang-orang Quraisy.  Tapi karena mempunyai visi Ukhrowi dan di tuntun oleh wahyu, maka Rasul menolaknya. Kemudian lahirlah tahapan-tahapan yang menjadi gagasan dan metode dalam perjuangan menggusur ide, pemikiran dan kekuasaan Kufur hingga Daulah Islam tegak di Madinah, gagasan dan metode itu begitu pejal dan baku, gagasan dan metode tersebut menjadi explanatory factor (factor penjelas)  bagi gerakan sesudahnya yang mengupayakan kebangkitan tegaknya Daulah kembali setelah dihancurkan. Disinilah dituntut untuk se-Link & Match dengan metode dakwahnya Rasul. Karena keketatan pada metode menghantarkan sebuah gerakan kepada tujuan dan kemenangan yang di cita-citakan. wallahu a'lam

Mimpi Gih

Are these times contagious
I’ve never been this bored before
Is this the prize I’ve waited for
Now as the hours passing
There”s nothing left here to mature
I long to find a messenger
Have I got a long way to run (x2)
Yeah, I run (x2)  (Run, Collective soul)

Lagu tersebut baru saja dimainkan di playlist-nya Gih, headset besar melingkari kepalanya, sekali dua kali kepalanya mengangguk-angguk, matanya lebih sering tertutup dibanding melek ketika sedang dengarkan iring-iringan kolektif dari Collective Soul,  saat itu, ia sedang beristirahat di tempat peristirahatannya, ia berbaring di kursi malas, dekat ruang tamu, letaknya tidak jauh dari pintu masuk kamarnya,  beberapa menit kemudian, playlistnya berganti

Engkau gemilang malam cemerlang
Bagaikan bintang timur sedang mengembang
Tak jemu-jemu mata memandang
Aku namakan dikau juwita malam
Sinar matamu menari-nari
Masuk menembus kedalam jantung kalbu
Aku terpikat masuk perangkap
Apa daya asmara sudah melekat (JuwitaMalam)

Ketika dipertemukan lagu ini, Gih tidak lagi sekali ataupun dua kali menganggukan kepala, no more head banging, ia hanya memejamkan mata, menarik dan mengeluarkan nafas secara teratur, meletakkan kedua tangan saling bersilang dibawah dadanya, kemudian 1, 2, 3 dan 4.... lelap ia tertidur.

Memasuki alam bawah sadarnya, kita dibawa gih bertamasya, berjalan-jalan, mengunjungi yudi,reni, igo, ipul, sasha, dan lainnya. Ditengah ramai maupun kesendirian,mimpinya melampaui perjalanan Odisius menuju ithaka yang hilang di batas -batas horison kehidupan, mimpinya seakan membuka tabir yang memang sudah terang benderang sedari asalinya...

                                                                           ***

Yudi baru saja diputus kontraknya oleh perusahaan tambang batu bara, tempat ia bekerja menahun, tiga dekade lebih, di usianya yang memasuki hampir kepala 5, yudi dianggap tidak lagi produktif, sementara diwaktu bersamaan, tenaga-tenaga dari kumpulan sarjana muda  se-antero Indonesia dibidang yang sama dengan yudi, siap menggantikan posisinya dalam pekerjaan. Baru saja kemarin ia diputus kontraknya, pesangon yang dijanjikan perusahaan akan turun dalam tempo sebulan sedari kemarin, masih ia tunggu kepastiannya, tak banyak saldo yang tertera direkeningnya, gajinya selama ini hanya cukup untuk “hidup”. Uangnya terus berputar dan diputar untuk membayar kontrakan,  bayar makan sehari-hari,kebutuhan ketiga anaknya yang masih bersekolah, dsb. Dengan keadaan yang sedemikian itu, maka wajar yudi ketika duduk di ruang tamu keluarga, terlihat ia mengernyitkan dahi dan menggaruk ubun-ubun kepalanya, Post Power Syndrome, begitu sebutan untuk seseorang yang dulunya sangat berjaya, walaupun bisa bekerja untuk sekedar ‘hidup”, namun bekerja dinegeri ini tetap dipandang hal yang prestisius, karena saking sulitnya mencari pekerjaan,  namun kini, layaknya oposisi binner dengan keadaannya yang sekarang. Terluntang dan terlantung tidak berdaya menerima keputusan perusahaan tempat ia bekerja.

Pada saat hampir bersamaan, Reni menangis, minta dibelikan baju seragam dan sepatu baru,karena sudah masuk tahun ajaran baru, ia melihat teman-teman sepermainannya dibelikan sepatu dan baju baru oleh orang tuanya, reni merengek, tangisan itu tak jarang menghasilkan jeritan, reni sianak ke-3 itu bersikeras dan mendesak bapaknya yudi, yudi berusaha menghibur anaknya, dengan tetap menjanjikan sepatu dan baju baru...

“Nak, jangan lagi menangis, bapak akan belikan baju dan sepatunya, tapi tidak sekarang yah nak,karena punya kamu yang sekarang masih bagus dan bisa dipakai, tapi secepatnya bapak janji...”

Gih dipertontonkan pandangan yang sedikit dramatis, tentang dinamika, lika-liku, kesulitan seorang kepala keluarga yang berlokasi di negeri tempat yang sekarang di tempati Gih,negeri yang konon katanya kaya raya, namun rakyatnya hidup sengsara, ia menikmati pemandangan tersebut, dalam mimpi deskripsi itu tervisualkan nyaris sempurna, awal saat dipecat di kantor hingga rengekan reni ia bisa saksikan, dalam mimpi kali itu ia dapat mengunjungi dua tempat di lokasi yang berbeda tanpa perduli dan harus tergesa-gesa dengan rentetan waktu.

                                                                           ***

Igo adalah seorang aktivis mahasiswa tadinya, se-dekade yang lalu, ia dicari-cari rezim,pernah di culik dan jadi tahanan politik, bersama teman-temannya, sifat yang terlalu kritis menghantarkan dirinya pernah menjadi musuh dari Rezim berkuasa.

Tapi kini, posisinya berbeda, keadaan tak lagi sama, ia kini tidak lagi di cari-cari penguasa, apalagi diculik, igo terlihat duduk manis menghadiri rapat-rapat kerja di dewan perwakilan rakyat, dengan setelan hari-hari kemeja dan jas yang match, ia kini masuk lingkaran sistem, ia hadir sebagai representasi yang sangat amat transenden buat rakyat, “Saya dipilih oleh rakyat, dan bertugas mewakili rakyat!” begitu klaimnya,

Masuk periode keduanya di gedung milik rakyat dan hampir habis, ia mengemban misi untuk bisa selamat mengamankan posisinya lagi duduk di gedung tersebut, berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan elektabilitasnya kembali, banyak jalan menuju Roma,banyak cara melanggengkan takhta, termasuk jalannya adalah membuat buku, ia membuat buku tentang hal-hal yang heroik berkaitan dengan Revolusi dan dirinya,perubahan mendasar menuju negara sejahtera yang di cita-citakan. Dan ia merasa pandai untuk menjelaskan karena pernah menjadi agensi perubahan, Tapi hal ini bagi sebagian orang bak lelucon garing yang sedang dipertontonkan komedian sadis dengan melukai lawan mainnya dengan palu dan golok di tengah-tengah pemirsanya, mengingat apa yang pernah ia suarakan dan pernah ia lakukan,kemudian dibandingkan dengan apa yang sudah dan baru saja ia lakukan selama dua dekade bercokol di kursinya, bagaimana seorang Igo sebenarnya tidak lagi tahu menahu dan tidak ingin ada sangkut pautnya tentang Revolusi , karena Revolusi/perubahan mendasar berarti banyak hal dan salah satunya dapat mengancam keberadaannya.

Gih meludah jauh dibelantara hutan beton di alam mimpinya, melihat sang politisi, ia jijik dengan jualan dan kampanye sang politisi yang dibalut hal-hal heroik tentang romantisme sejarah perjuangan. Tak tahan melihat tampang dan wajah sang politisi, gih terbang, pergi menjauh untuk mengunjungi orang berbeda

                                                                            ***

Ipul sudah siap memasuki pintu masuk tempat ia memompa semangatnya agar terus dan terus bekerja dengan giat, dengan tinggi harapan dapat menghasilkan uang yang banyak, “Investasi masa depan!”  ia berucap. sebelumnya,  ia sudah membeli tiket masuk acara yang ia tuju, yakni Training Motivasi pak Doyong seharga belasan juta, uang itu ia sengaja kumpulkan selama 1 tahun bekerja di toko Material pasir bagian accounting.
Pak doyong dengan berjalan perlahan dan badan yang tegap sudah ada di podium acara, ratusan peserta menyambutnya dengan tepuk tangan dan senyum lebar-lebar, Pak doyong mengeluarkan jargon-jargon dan slogan-slogan fenomenal seorang training seperti biasanya, “Harus Bisa!”, “Harus Semangat!”, “Tidak Boleh menyerah!”, dan sejenisnya. Jargon- jargon itu selama 4 jam ia mengisi acara selalu menghiasi dan tidak jarang dilakukan pengulangan.

Gih melihat bagaimana seorang pak doyong membius peserta dengan retorika dan slogan yang kerap ia ulang-ulang, gih nyeletuk, “tidak bosan kah mereka dengan slogan tersebut?” kenapa tidak diganti dengan “Bubur ayam sunda enak!”, “garam rasanya asin!”, atau “gula rasanya manis”, hal itu adalah fenomena-fenomena yang lebih realistis karena berdasarkan dari pencerapan pancaindera ketimbang ucapan pak doyong, begitu ia berkelakar.

Acara itu berlangsung dilantai 20 gedung pencakar langit dekat bundaran HI, sementara di waktu yang hampir bersamaan, di basement gedung tersebut, seorang pemuda yang biasa dipanggil Panjoel, bertugas menagih harga parkir bagi kendaraan yang keluar-masuk gedung tersebut, hari-hari ia melakukan triknya, ia memindahkan fakta ke dalam penginderaan secara keliru, bila tertera tagihan 2 ribu dalam layar lcd-nya, ia bilang kepengendara bermotor 3 ribu, hampir setiap pengendara yang secara gesture tidak begitu perduli dengan permainannya ini, ia lancarkan sejurus tersebut.

buat nambah – nambah uang rokok!, kalo Cuman ngandelin gajih, mana cukup buat rokok sama jajan!

begitu ia bicara ke teman-teman satu pekerjaannya, yang secara tak sadar sedang ia pengaruhi untuk dapat mencapai sebuah elaborasi yang sama dan menawan dalam melakukan sebuah kecurangan, partner kejahatan.

Lebih dari dua ratus meter dari gedung tersebut, terdapat sebuah pusat perbelanjaan,  Sasha datang bersama teman-temannya se-angkatan kelas 4 SDN 06 Pagi Cirendeu, ia datang bertiga, sasha diberi mandat untuk jadi ketua kelompok tersebut, ia kesana bukan untuk berbelanja bersama teman-temannya, tapi siang itu ada band favoritnya dan teman-temannya bakalan tampil, co’boi junior, nama bandnya, Sasha dan ketiga temannya sangat amat begitu menyukai Co’boi Junior, ia bisa dibilang sebagai fans garis keras co’boi junior, layaknya  ultras Curva Sud dan Curva nord untuk para fans fanatik sepakbola di Italia yang berada di tribun utara dan selatan, dimanapun band itu tampil, sasha dan teman-temannya selalu berupaya menguntil,untuk dapat menyaksikannya.

Fans co’boy Junior Garis Keras!

Gih berucap, melihat fenomena anak SD yang keranjingan artis idolanya.

Dari beberapa kejadian tadi, Orang-orang tersebut dinilai aneh menurut perspektifnya gih, tapi tidak bagi perspektif orang yang bersangkutan, buktinya di alam yang lebih Real dari sebuah mimpi semalam gih, fenomena – fenomena tersebut bisa kita jumpai.

                                                                           ***

Sore memasuki senja, matahari bersembunyi di balik awan,sedikit lagi akan ada peristiwa yang sedang akan berlangsung, ketika gelap menerobos masuk ke senja secara perlahan. Dan malam menemui momentumnya untuk berganti dengan siang. Awalnya dari jejeran rumah berkontrak, satu rumah sudah di amati sejak 2 bulan lamanya, terlihat seseorang mondar-mandir di lingkungan tersebut, kadang melihat Hp sambil ngerokok sebatang samsu, kadang celingak celinguk ke area teras di lingkungan tersebut, satu rumah jadi pusat perhatian orang-orang pendatang yang biasa mondar-mandir selama 2 bulan itu.

malam ini akan kita eksekusi!,

begitu bunyi dan perintah atasan yang disegani kepada sekelompok pasukan khusus. Akhirnya kejadian juga, rumah itu dibombardir senapan, bunyi pekikan bising dari letupan senjata begitu deras diperdengarkan, kebanyakan warga sekitar tidak takut, bahkan tidak sedikit yang pergi menghadiri orkestra pasukan khusus ketika menggerebek remaja-remaja yang berada dikontrakan tersebut.

“Apa salah mereka,hingga harus diberondong senjata, apa karena mereka terduga teroris, jadi bisa diperlakukan seenaknya, mana SOP penangkapan yang benar yang selalu dijunjung tinggi dan dijadikan alasan ketika berhadapan dengan media massa oleh jubir aparat”.  Begitu suara hatinya Denny,adik seorang jimmy yang sedang berada dikontrakan yang tengah di sergap pasukan khusus, sesaat setelah ia melihat kakak dan teman-temannya diperlakukan sedemikian keji, hatinya merintih, nafasnya sesak, matanya menatap tajam,sedikit sekali berkedip, ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang luka setelah menyaksikan kejadian itu, sebuah aksi penangkapan teror telah menanamkan benih-benih teror kedalam jiwa Denny, ia siap untuk membalas, saatnya mengorganisir kekuatan, kilahnya.

                                                                         ***

Gih, sekali lagi melihat pemandangan yang tak elok dilihat oleh mata, mimpinya semalam ini dirasa mengecewakan olehnya karena hampir bisa ia lihat dalam kehidupan sehari-hari yang Real di tengah-tengah ia berada dinegeri tempatnya bernaung, padahal ia berharap bisa berada di belantara awan dan ditemani selir-selir disekelilingnya kemudian bersenda gurau dengan para selir sembari menyeruput kopi panas dan menghisap satu batang tembakau berkualitas tinggi, tapi apa boleh buat, ia tidak bisa memilih mimpi, layaknya memilih audio track semaunya dalam sebuah Cd, seketika itu masih di dalam mimpi, tiba-tiba ada seorang tua berperawakan seperti gandalf datang menghampirinya

”Hei anak muda, badan kamu masih gagah, tubuh kamu kuat, punya paras yang standar tampan, dan berbicaramu lugas, kamu gandrung terhadap ilmu pengetahuan, kamu pantas menjadi agensi perubahan yang dibutuhkan negerimu sekarang, tapi mengapa oh mengapa,kamu masih tertidur!”

Orang tua berperawakan gandalf dengan kaus kutang itu berujar demikian kepada gih, setelah mengungkapkan kata-kata itu, orang tua tersebut meludah ke arah gih, ludah itu layaknya air mancur besar, hingga gih sulit bernafas dan terbangun dari tidurnya.

Mau dikatakan apalagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana, aku disini
Mesti hatiku memilih.... (Raisa,)

Ketika terbangun, reffrain ini yang terdengar ditelinganya gih, belum sampai habis lagu tersebut, gih mencabut headset di handphone-nya, kemudian ia celingak-celinguk ke arah sekitar rumahnya, sekali lagi, ia masih berada dikursi malas dan berusaha untuk tidur dan berharap mimpi yang sama tidak hadir berseri.