Senin, 01 Oktober 2012
Aku
-->
Banyak berbicara tentang diri sendiri memank
menyenangkan, mulai dari pengalaman pribadi, aktivitas pribadi, kesukaan pribadi, ketidaksukaan Pribadi dan setiap
hal yang berkaitan dengan diri sendiri (pribadi). Ketika kita melihat segala
sesuatu dari perspektif pribadi (Individu) maka kekhawatirannya yang ada “tidak ada selain aku”, dengan perspektif
seperti begitu kita diposisikan sebagai raja dalam menentukan kebenaran yang
tertuduh dan didakwa relative. Maka meremehkan
kemampuan “yang lain selain aku” adalah keniscayaan, tidak ada yang lebih hebat
dari pisau analisis “aku”, pada core-nya seseorang yang menekankan Individu
sebagai corong dan titik sentral kerap terjebak dalam Filsafat silopsisme, mengembara tak tentu arah seperti Odisius
menuju Ithaka yang selalu hilang dari ujung cakrawala. Inilah salah satu bentuk
filsafat galau yang banyak menjangkiti kaum Intelektual.
Dalam hubungannya dengan realitas kehidupan
masyarakat, ke-aku-an ini yang kemudian menjelma dan menghasilkan paham Humanisme
Universal, dengan pijakan teori “membiarkan yang lain tampil dalam
keberagamannya” maka setiap yang lain berlomba-lomba dalam ke-aku-annya, namun
yang membuat teori tersebut menjadi jenaka adalah asumsi tentang bagaimana manusia bisa dipersatukan dengan rasio dalam
menentukan kebenaran yang universe, sedangkan di satu sisi mereka meyakini
kebenaran itu tidak bisa di vonis absolute. Maka pertanyaannya, Rasio siapakah
yang bisa mempersatukan manusia? Rasio plato kah? Rasio Aristoteles kah? Rasio Hegel
kah ? rasio Marx kah? Atau Rasio milik Hitler ? pertanyaan ini tidak bisa
dijawab, karena bisa saja kaum Humanisme Universal ini kemudian ngeles dengan menyatakan kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang bisa
didiskusikan dan sebuah forma yang terbuka, yang masih memberi celah untuk
kebenaran-kebenaran yang lain masuk sesuai dengan ruang dan waktu. Dengan situasi
yang tak terdamaikan seperti itu, maka wajar asumsi manusia dapat dipersatukan
dengan rasio sudah batal dengan sendirinya karena cenderung hanya menghasilkan
utopia. Utopia politik, ekonomi, social, budaya dll. Pada tataran praktis
Humanisme Universal kerap dijadikan sebagai topeng bagi Kapitalisme yang antagonistik
untuk tampil dalam kelembutannya agar tetap bisa menghisap dibalik
jargon-jargon utopis Humanisme Universal.
Di hadapan hegemoni Kapitalisme Paham Humanisme
Universal terus terpelihara, hal ini bukan tanpa maksud, karena Kapitalisme
yang menilai masyarakat terdiri dari Individu-individu dan menekankan
kepemilikan Individu sembari berharap-harap cemas Individu memberi kebaikan
terhadap Individu lain sesuai dengan corak dan warna Humanisme Universal.
Maka pointnya adalah bagaimana memandang masyarakat
secara benar dan menyeluruh, tidak lagi dipandang sebagai kumpulan Individu, karena
pada hakikatnya masyarakat terdiri dari pemikiran, perasaan dan peraturan yang
sama. Bila pemikiran, perasaan dan aturan yang ada dalam masyarakat diubah maka
berubah jua lah realitas masyarakat, disinilah letak dan kebutuhan seperangkat
peraturan yang lahir dari kebenaran yang pasti. Kebenaran yang membuat manusia
tidak boleh tidak harus patuh dan terikat dengan kebenaran tersebut. Aturan dan
kebenaran yang dimaksud adalah Aqidah rasional yang dari sanalah terpancar system
aturan. Aturan yang berasal dari Ideologi langit yakni Islam. Fungsi akal
hanyalah untuk memahami Hukum syara’ dan tunduk terhadap syara’.
Sebagai seorang muslim kita terikat dengan identitas
keIslam-an kita, dengan begitu pencampakan pemikiran dan peraturan di luar
Islam adalah keniscayaan, aturan Islam berlaku universal dan tidak surut dalam
ruang dan waktu. Maka ekspresi umat Islam yang urgent adalah hidup dalam kehidupan
Islam, dibawah naungan Khilafah Islamiyah.
Banyak berbicara tentang diri sendiri memank
menyenangkan, mulai dari pengalaman pribadi, aktivitas pribadi, kesukaan pribadi, ketidaksukaan Pribadi dan setiap
hal yang berkaitan dengan diri sendiri (pribadi). Ketika kita melihat segala
sesuatu dari perspektif pribadi (Individu) maka kekhawatirannya yang ada “tidak ada selain aku”, dengan perspektif
seperti begitu kita diposisikan sebagai raja dalam menentukan kebenaran yang
tertuduh dan didakwa relative. Maka meremehkan
kemampuan “yang lain selain aku” adalah keniscayaan, tidak ada yang lebih hebat
dari pisau analisis “aku”, pada core-nya seseorang yang menekankan Individu
sebagai corong dan titik sentral kerap terjebak dalam Filsafat silopsisme, mengembara tak tentu arah seperti Odisius
menuju Ithaka yang selalu hilang dari ujung cakrawala. Inilah salah satu bentuk
filsafat galau yang banyak menjangkiti kaum Intelektual.
Dalam hubungannya dengan realitas kehidupan
masyarakat, ke-aku-an ini yang kemudian menjelma dan menghasilkan paham Humanisme
Universal, dengan pijakan teori “membiarkan yang lain tampil dalam
keberagamannya” maka setiap yang lain berlomba-lomba dalam ke-aku-annya, namun
yang membuat teori tersebut menjadi jenaka adalah asumsi tentang bagaimana manusia bisa dipersatukan dengan rasio dalam
menentukan kebenaran yang universe, sedangkan di satu sisi mereka meyakini
kebenaran itu tidak bisa di vonis absolute. Maka pertanyaannya, Rasio siapakah
yang bisa mempersatukan manusia? Rasio plato kah? Rasio Aristoteles kah? Rasio Hegel
kah ? rasio Marx kah? Atau Rasio milik Hitler ? pertanyaan ini tidak bisa
dijawab, karena bisa saja kaum Humanisme Universal ini kemudian ngeles dengan menyatakan kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang bisa
didiskusikan dan sebuah forma yang terbuka, yang masih memberi celah untuk
kebenaran-kebenaran yang lain masuk sesuai dengan ruang dan waktu. Dengan situasi
yang tak terdamaikan seperti itu, maka wajar asumsi manusia dapat dipersatukan
dengan rasio sudah batal dengan sendirinya karena cenderung hanya menghasilkan
utopia. Utopia politik, ekonomi, social, budaya dll. Pada tataran praktis
Humanisme Universal kerap dijadikan sebagai topeng bagi Kapitalisme yang antagonistik
untuk tampil dalam kelembutannya agar tetap bisa menghisap dibalik
jargon-jargon utopis Humanisme Universal.
Di hadapan hegemoni Kapitalisme Paham Humanisme
Universal terus terpelihara, hal ini bukan tanpa maksud, karena Kapitalisme
yang menilai masyarakat terdiri dari Individu-individu dan menekankan
kepemilikan Individu sembari berharap-harap cemas Individu memberi kebaikan
terhadap Individu lain sesuai dengan corak dan warna Humanisme Universal.
Maka pointnya adalah bagaimana memandang masyarakat
secara benar dan menyeluruh, tidak lagi dipandang sebagai kumpulan Individu, karena
pada hakikatnya masyarakat terdiri dari pemikiran, perasaan dan peraturan yang
sama. Bila pemikiran, perasaan dan aturan yang ada dalam masyarakat diubah maka
berubah jua lah realitas masyarakat, disinilah letak dan kebutuhan seperangkat
peraturan yang lahir dari kebenaran yang pasti. Kebenaran yang membuat manusia
tidak boleh tidak harus patuh dan terikat dengan kebenaran tersebut. Aturan dan
kebenaran yang dimaksud adalah Aqidah rasional yang dari sanalah terpancar system
aturan. Aturan yang berasal dari Ideologi langit yakni Islam. Fungsi akal
hanyalah untuk memahami Hukum syara’ dan tunduk terhadap syara’.
Sebagai seorang muslim kita terikat dengan identitas
keIslam-an kita, dengan begitu pencampakan pemikiran dan peraturan di luar
Islam adalah keniscayaan, aturan Islam berlaku universal dan tidak surut dalam
ruang dan waktu. Maka ekspresi umat Islam yang urgent adalah hidup dalam kehidupan
Islam, dibawah naungan Khilafah Islamiyah.
Langganan:
Komentar (Atom)