Kamis, 06 Oktober 2011

PERGESERAN


Pergeseran, kata-kata ini seolah-olah kian membius, untuk coba menyelami setiap gerak pikiran dan jiwa yang kian terbiasa dengan kata  “Pergeseran”.
bagiku tanpa mempertimbangkan para pendapat pakar atau pun ahli dalam memberikan definisi tentang pergeseran, dengan memahami fakta adanya, saya mencoba mengambil kesimpulan tentang apa itu pergeseran.  pergeseran adalah peralihan atau berpindahnya objek dari tempat semula ke tempat lainnya. Objek ini apabila dipahami lebih luas bisa saja berupa materi atau pun non-materi-seperti ide atau pemikiran.

***

Hari ini kupersaksikan bagaimana kumengalami pergeseran perspektif yang juga nantinya mempengaruhi pola sikapku, masih ingat kemarin begitu sakralnya pemahamanku tentang demokrasi, demokrasi adalah system ideal tanpa reserve, pemahaman ini terlahir dari banyaknya informasi yang masuk, mulai dari buku-buku pelajaran, literature-literatur sejarah, di media-media Komunikasi massa dsb. Semua hampir seragam mensakralkan Democracy, karena demokrasi adalah system dari, oleh dan untuk rakyat. Namun hari ini setelah melihat banyaknya fakta yang bergelimpangan dan ikut diskusi-diskusi keislaman, pantas bila kukatakan demokrasi tidak lebih dari ide murahan yang lahir dari manusia yang congkak.

Bagaimana bisa rakyat yang berdaulat lalu  diejawantahkan melalui pembuatan Undang-Undang oleh para representasi rakyat? Padahal wakil rakyat yang duduk diparlemen-perlemen tidak lain hanya seorang manusia seperti manusia-manusia lainnya yang mempunyai sifat dasar yang terbatas, lemah, dan saling membutuhkan. Jadi terlalu naïf bahkan sombong bila manusia yang terbatas, lemah dan saling membutuhkan, membuat aturan sendiri untuk mengatur hidupnya, padahal jelas kadar akal mereka pun terbatas dan lemah, ketika akal menjadi sandaran, standar kebenaran pun berubah-ubah sesuai dengan kehendak akal, apa yang dikatakan akal itu baik hari ini, namun akal bisa saja mengatakan itu tidak baik keesokan harinya. Jadi wajar saja bila produk hukum yang dihasilkan akal banyak pertentangan didalamnya, banyaknya aturan yang tumpang tindih, ketidakjelasan tujuan, dan munculnya aturan yang memenuhi syahwat kekuasaan.
 Fakta kehidupan hari ini juga berbicara lebih nyata dari pada jargon demokrasi, dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat, berganti menjadi dari rakyat oleh penguasa untuk pengusaha, terjadilah kolaborasi yang begitu picik antara penguasa dan pengusaha yang bergerak atas nama rakyat. Ongkos menjadi penguasa di dalam system demokrasi sangat mahal, untuk mendongkrak citranya politik uang menjadi sesuatu yang tidak dapat di hindari. Oleh karena itu mitra kerja penguasa dan pengusaha di butuhkan, Ketika penguasa terpilih, maka pilihannya adalah, ia  harus mengembalikan ongkos dan modal yang telah dihabiskan sewaktu kampanye. Dan aturan yang dihasilkan pun memihak kepada pengusaha. Jadi Rakyat jangan  KEPEDEAN akan diperhatikan oleh penguasa, yang ada justru rakyat kian terpinggirkan oleh para penguasa yang memainkan politik transaksional macam begini. sekali lagi, Inilah system demokrasi!

***

Pergesaran lainnya pun terjadi, dulu sewaktu usia belia hingga menginjak remaja, aku tidak pernah merasa bersaudara dengan muslim yang ada di Malaysia, Pakistan, Palestina, Irak, dan muslim2 seluruh dunia. Namun kini berbeda, Umat Islam itu bagaikan satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang terluka tentu semua juga akan merasa ikut terluka. Umat Islam di ikat dengan Ikatan Aqidah, bukan dengan ikatan kesukuan, golongan, atau pun Nation state. atas dasar Ikatan la ilaha ilaallah Muhamadur Rasulullah umat Islam di ikat. Pemahaman ikatan emosional yang di tentukan oleh garis batas khayal nasionalisme sudah lagi Usang. Nation state telah membutakan penglihatan umat Islam.  Padahal apa bedanya umat Islam di Indonesia dengan umat islam di belahan penjuru dunia lainnya, sama-sama mengimani tuhan yang satu yakni Allah Ta a’la, Rasul yang membawa risalah Islam pun satu yakni Muhammad SAW, Kitab sucinya pun satu yakni Al Qur’an. Untuk itulah bersatunya umat Islam di bawah Institusi yang satu yakni Khilafah menjadi jalan yang harus diperjuangkan oleh umat islam seluruh dunia bukan malah terpecah belah menjadi negeri-negeri kecil tidak berdaya.

***

Pergeseran juga hadir dalam caraku memandang wanita, dahulu ku memandang wanita layaknya barang  hanya dari segi fisik,  wanita yang gempal dan berisi dengan pakaian yang ketat-ketat terasa punya “taste”, namun berbanding terbalik sekarang “taste” yang lama telah hilang, setelah segala sesuatunya disandarkan kepada Ideologi yang benar yakni Islam, maka Wanita sholehah adalah cita rasa terindah, dia adalah sebaik-baik perhiasan. wallahu a'lam