Pesawat telpon berwarna biru itu
berdering saat saya asik menatap layar
laptop To hiba, waktu itu hampir maghrib, suara kresek-kresek awalnya terdengar
ketika saya angkat gagang telpon,bersamaan dengan itu ibu lantas berteriak dari
kejauhan
“De, de, ? ini DD apa AA?”
“iya, kenapa?” tanpa menjawab
pertanyaannya.
“DD ap AA?”
“iya, kenapa ma?”
“Jempeut ibu yah, lagi dirumah bi
Cucu,”
“jangan sekarang ya, habis
maghrib aj”
“kalo habis maghrib nanti ibu gk
keburu shalat tarawih”
“ok, kalo gitu habis maghrib”
sahut saya.
***
Saya pikir tidak akan lama
kerumah bi cucu yang berjarak kurang lebih 4 KM dari rumah, benar saja tidak
sampai habis Isya saya sudah sampai disana, pulang dari sana juga pas waktu
Isya, Ibu langsung setel Tv sambil bergumam.
“puasanya jadi hari apa y? Tadi subuh
ustadz mansur bilang tanggal 20 juli, berarti besok”
Channel televisi yang dimainkan
ketika itu adalah TV Oone, Sidang Itsbat sudah dimulai dan dinyatakan bahwasanya mayoritas team ru’yat hilal tidak
dapat melihat hilal hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan begitu maka di
ambil hari sabtu tanggal 21 Juli 2012 sebagai
awal Ramadhan dan puasa, setelah pendapat dan keputusan pemerintah disampaikan,
giliran pendapat dari berbagai ormas Islam yang di undang bergiliran menyatakan
pendapatnya.
Sempat ada pertentangan masalah
penetapan awal puasa, karena dinyatakan team ru’yat hilal yang di daerah cakung
jakarta timur telah melihat hilal pada pukul 17.53 sampai 17.56. sontak saja
ada ormas yang berpuasa mulai pada esok harinya yakni Jum’at tanggal 20 Juli
2012, berbeda dengan keputusan pemerintah.
Saat itu Ibu dan saya ikut
menyimak tontonan tersebut, tidak biasanya kami dipertemukan di channel yang
sama, saya mulai berkomentar banyak tentang hal tersebut dan berulang kali
menyampaikan ke mama tentang urgensi Khilafah dengan hadirnya seorang Khalifah
sebagai pemimpin yang akan menghapus perbedaan di antara umat tentang penetapan
awal ramadhan.
Selama acara tersebut saya terus
berkomentar dan manyatakan hal yang berulang-ulang , tiba-tiba Ibu berucap
“DD banyak Omong”
Saya terdiam kemudian tersenyum,
sembari mengingat-ingat, tidak biasanya saya seperti ini, di satu sisi ada
benarnya justifikasi Ibu kalau saya terlalu banyak bicara karena background
Fakultas Hukum yang pernah saya tempuh adalah kuliah yang mengajarkan akan
pentingnya berbicara (banyak bacot), di sisi lainnya adalah tugas yang paling
mendasar untuk merubah pemikiran seseorang agar sejalan dengan apa yang kita
yakini yakni dengan terus-menerus membicarakannya hingga syukur-syukur dapat
tercipta kesadaran dan terbangunnya opini umum tentang pentingnya melanjutkan
kehidupan Islam melalui penerapan syariah dalam naungan Khilafah.
Cara mendasar dan yang paling
mungkin dilakukan adalah dengan Lisan (banyak omong).
:D
