Kamis, 19 Juli 2012

Still Talking

Pesawat telpon berwarna biru itu berdering  saat saya asik menatap layar laptop To hiba, waktu itu hampir maghrib, suara kresek-kresek awalnya terdengar ketika saya angkat gagang telpon,bersamaan dengan itu ibu lantas berteriak dari kejauhan

“De, de, ? ini DD apa AA?”
“iya, kenapa?” tanpa menjawab pertanyaannya.
“DD ap AA?”
“iya, kenapa ma?”
“Jempeut ibu yah, lagi dirumah bi Cucu,”
“jangan sekarang ya, habis maghrib aj”
“kalo habis maghrib nanti ibu gk keburu shalat tarawih”
“ok, kalo gitu habis maghrib” sahut saya.

                                                ***
Saya pikir tidak akan lama kerumah bi cucu yang berjarak kurang lebih 4 KM dari rumah, benar saja tidak sampai habis Isya saya sudah sampai disana, pulang dari sana juga pas waktu Isya, Ibu langsung setel Tv sambil bergumam.
“puasanya jadi hari apa y? Tadi subuh ustadz mansur bilang tanggal 20 juli, berarti besok”
Channel televisi yang dimainkan ketika itu adalah TV Oone, Sidang Itsbat sudah dimulai dan dinyatakan  bahwasanya mayoritas team ru’yat hilal tidak dapat melihat hilal hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan begitu maka di ambil hari sabtu  tanggal 21 Juli 2012 sebagai awal Ramadhan dan puasa, setelah pendapat dan keputusan pemerintah disampaikan, giliran pendapat dari berbagai ormas Islam yang di undang bergiliran menyatakan pendapatnya.
Sempat ada pertentangan masalah penetapan awal puasa, karena dinyatakan team ru’yat hilal yang di daerah cakung jakarta timur telah melihat hilal pada pukul 17.53 sampai 17.56. sontak saja ada ormas yang berpuasa mulai pada esok harinya yakni Jum’at tanggal 20 Juli 2012, berbeda dengan keputusan pemerintah.
Saat itu Ibu dan saya ikut menyimak tontonan tersebut, tidak biasanya kami dipertemukan di channel yang sama, saya mulai berkomentar banyak tentang hal tersebut dan berulang kali menyampaikan ke mama tentang urgensi Khilafah dengan hadirnya seorang Khalifah sebagai pemimpin yang akan menghapus perbedaan di antara umat tentang penetapan awal ramadhan.
Selama acara tersebut saya terus berkomentar dan manyatakan hal yang berulang-ulang , tiba-tiba Ibu berucap

“DD banyak Omong”

Saya terdiam kemudian tersenyum, sembari mengingat-ingat, tidak biasanya saya seperti ini, di satu sisi ada benarnya justifikasi Ibu kalau saya terlalu banyak bicara karena background Fakultas Hukum yang pernah saya tempuh adalah kuliah yang mengajarkan akan pentingnya berbicara (banyak bacot), di sisi lainnya adalah tugas yang paling mendasar untuk merubah pemikiran seseorang agar sejalan dengan apa yang kita yakini yakni dengan terus-menerus membicarakannya hingga syukur-syukur dapat tercipta kesadaran dan terbangunnya opini umum tentang pentingnya melanjutkan kehidupan Islam melalui penerapan syariah dalam naungan Khilafah.
Cara mendasar dan yang paling mungkin dilakukan adalah dengan Lisan (banyak omong).
:D





Selasa, 10 Juli 2012

Sekali lagi, Pemerintah ber-Khianat!

Sekali lagi rakyat dibuat dongkol oleh kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, baru saja kejadian yang menggelikan sekaligus menjijikan terpampang secara jelas di depan mata kita, pemerintah melakukan suntikan pembiayaan kepada IMF yang sedang sekarat dengan jumlah dana mencapai 1 milyar dolar yang apabila dirupiahkan lebih dari 9 Triliun, dana tersebut sungguh sangatlah besar, mengingat makin hebatnya problem kesenjangan si kaya dan si miskin dinegeri ini yang tak kunjung usai. Yang lebih Ironis lagi adalah ucapan pemerintah melalui kementriannya dengan enteng dan tanpa perasaan bersalah manyatakan dana 1 milyar yang dikeluarkan tidak akan membebani APBN.
Padahal masih hangat diingatan kita ketika pemerintah pada awal april lalu yang berencana menaikkan harga BBM, pihak pemerintah beralasan subsidi yang selama ini diberikan untuk bahan bakar minyak Membebani APBN!

Apabila dirunut lebih mendalam, pengguna BBM di negeri ini tidak hanya kalangan atas (orang kaya), orang miskin juga banyak yang bergantung pada BBM dalam menjalankan aktivitas kegiatannya sehari-hari, dengan melepas harga BBM kepasar dengan dalih membebani APBN, adalah langkah praktis pemerintah untk melepas tanggungjawab terhadap urusan rakyatnya.

Dengan melihat kecendrungan-kecendrungan di atas,  maka timbul pertanyaan, adakah negara yang benar-benar tidak memihak kepada rakyatnya? Jawabnya ada, negara itu adalah Indonesia. Rasanya juga semakin tidak pantas apabila kritik yang diberikan terhadap perilaku pemerintah yang berkhianat dengan sindiran halus seperti  tidak pro rakyat, tidak cerdas, tidak bijaksana dsb. Ungkapan bodoh, dungu, goblog dan tolol rasanya lebih mengena kepada pemerintah yang telah melakukan pengkhianatan terhadap ratusan juta rakyat Indonesia!

Melihat kompleksnya permasalahan negeri ini, fakta di atas hanyalah secuil dari keseluruhan bagian permasalahan yang menimpa dan melanda negeri ini, untuk itu perubahan total perlu dan sangat mendesak bagi kelangsungan negeri ini, Ideologi kapitalisme yang bercokol dan menghegemoni adalah titik pangkal dari setiap permasalahan yang ada, maka mencampakkan dan membuang Kapitalisme dan menggantinya dengan Islam melalui institusi Khilafah adalah solusi total dan keniscayaan yang harus diperjuangkan bagi orang yang terbuka mata hati dan pikirannya.

Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam!





Selasa, 03 Juli 2012

Lagu

Lagu yang normal dan berarus mainstream selalu mengawalinya dengan Intro dan berulang pada Reffrain, tahapan tersebut tidak jauh berbeda dengan beRetorika dan juga tidak begitu jauh dengan menulis, seperti yang anda dan saya persaksikan ketika membaca tulisan ini, gaya menulis yang mengekor pada metodologis berarus mainstream, itulah yang saya pikirkan dan lakukan ketika menelurkan tulisan.
Yang paling membedakan dan membuatnya makin menggigit adalah lirik, suara dan isi sebuah lagu, retorika, atau tulisan yang dihasilkan, substansi mengalahkan rima yang berirama, isi yang padat berisikan persepsi-persepsi tentang kehidupan Ideal dan berbagai upaya untuk mengajak manusia mengumbar tentang kerusakan realitas yang ada saat ini akan lebih mengggigit dan mengakar.
Ketika  propaganda terus dilakukan melalui sebuah sarana yang memadai untuk menyeret kesadaran mereka kembali  kepada Ideologi yang berasal dari pemilik alam semesta. Maka memperbaharui senjata dan membiasakan untuk struggle dalam lingkaran perjuangan adalah substansi dengan rima terindah.
Bila setiap lagu yang diperdengarkan akan kembali mengingatkan pada moment-moment tertentu, maka biarkan saya mengorek dan menggali apa lagu yang pantas untuk membuat moment hari kemarin dan sekarang menjadi memoar yang ketika diperdengarkan esok atau lusa kita bisa mengekspresikan mimik wajah kita dengan tertawa, senyuman atau pun tangisan.
Hal di atas akan sulit, karena menyamakan lagu yang sama-sama disukai untuk diperdengarkan terhalang oleh petuah Inlander yang pernah dikutip bob sadino “Selera tidak bisa diperdebatkan”  :D