Jumat, 20 Agustus 2010

Koreksi terhadap Cinta ( bukan artikel cengeng)

Cinta, sulit untuk dijelaskan definisi tentang cinta, karena semua tergantung dari sudut mana cinta itu dipandang, tapi perlu diketahui pada hakekatnya cinta adalah naluri/perasaan yang timbul dari diri seseorang karena adanya dorongan dari factor eksternal dan hal ini bersifat alamiah.
Oleh karena itu cinta dapat menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa , cinta dapat mempengaruhi pemikiran seseorang dan kemudian dapat mempengaruhi jiwa seseorang.
Ini bisa dibuktikan melalui perbedaan perlakuan terhadap seseorang yang dicintai dengan seseorang yang tidak di cintai.
Hanya saja sangat disayangkan, penyaluran terhadap naluri yang satu ini sering sekali salah, bahkan ada yang cenderung siang dan malam hanya memikirkan pemenuhan terhadap naluri yang satu ini.
Bagaimana bisa dikatakan salah ?, siapa yang bisa menentukan standar salah dan benar ?
Untuk menjawab pertanyaan ini tidaklah sulit, penyaluran cinta tersebut bisa dikatakan salah apabila hanya mengikuti hasrat yang menggebu dan menerobos batasan halal dan haram, contohnya adalah berpacaran, sebuah istilah yang berorientasi pada gaya hidup Barat . Kini menjamur dalam kehidupan pemuda di negeri ini, inilah kemudian yang dinamakan Westoxciation ( peracunan Barat).kecenderungan ini menghasilkan Demoralisasi bagi para pemuda di negeri ini, mulai dari berdua-duan, perzinahan, hamil di luar nikah, aborsi dsb .
Lalu siapa yang dapat menentukan standar salah dan benar? Ya hanya dari yang Maha Benar, yakni Allah Swt. Yang telah menciptakan manusia beserta naluri yang ada pada dirinya. Allah Swt telah menurunkan Al-Qur’an dan Hadits kepada umat Islam agar tidak tersesat, dalam Islam Cinta kepada Allah dan Rasulnya sangat dianjurkan dan menjadi prioritas yang paling utama, lalu bagaimana dengan adab berpacaran, Islam tidak mengenal Istilah berpacaran, yang ada dalam Islam adalah ta’aruf, khitbah (peminangan) lalu nikah. Itulah aturan yang diberikan sang pencipta kehidupan kepada manusia, karena manusia butuh aturan berbeda halnya dengan binatang yang hidup tanpa aturan.
pada hakekatnya setiap perbuatan manusia terikat dengan aturan-Nya, sikap penyerahan total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala yang datang dari sisi-Nya mutlak harus ada pada diri setiap kaum muslim, karena perbuatan manusia akan di pertanggungjawbkan di mahkamahnya. ingatlah saudaraku Allah Subhanahu wata'ala Maha Keras Siksanya . wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar