“Apakah manusia dibiarkan saja berkata kami telah beriman, padahal mereka belum diuji ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka (Al-ankabut : 2-3″)
Pada saat kita beranggapan kita telah beriman dan tunduk terhadap perintah-Nya, namun pada sisi lain sering kali kita bersebrangan dengan apa yang telah di perintahkan oleh-Nya. Semakin tinggi pohon semakin tinggi angin yang menghembus, begitu juga tingkat keimanan seseorang. Semakin naik level keimanan seseorang, maka semakin naik tingkatan ujian yang akan ia hadapi.
Meluruskan niat misalnya, Ikhlas menjadi perkara yang mudah di ucapkan namun pada tataran aplikatif menjadi sulit untuk di terapkan. Seorang ulama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Kita lebih senang dengan pujian dan riho dari manusia, padahal sebagai muslim sejati kesenangannya adalah ridho Allah semata-mata yang menjadi tujuan dalam setiap perbuatan.
Terkait dengan ujian terhadap Iman seseorang, saya Teringat pertanyaan dari seorang guru di sebuah kelompok pengajian, ia menanyakan tentang perihal sesuatu “ bagaimana bila kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana kita dipertemukan oleh seorang wanita cantik yang mengajak untuk berbuat zina ?” beragam jawaban dari orang-orang pada kelompok pengajian tersebut, namun yang paling kental dan menjadi standar jawaban pada saat itu adalah “ Insya Allah saya akan menolaknya!.” Saya ketika itu tidak menjawab dengan serius pertanyaan tersebut, saya mengerti sang guru tentu punya jawaban yang berbeda. Jadi jawaban dari sang guru yang saya tunggu-tunggu. Lantas kurang dan lebih ia menjawab, “bisa saja saat ini di tempat ini kita menjawab, tidak! saya akan menolak ajakan wanita tersebut dengan yakin. Namun bagaimana kita bisa tahu, apakah kita tolak atau terima ajakan si wanita. Karena saat ini kita belum di posisikan pada kondisi tersebut, mungkin bisa jadi kita malah memungkiri jawaban kita sendiri bila di hadapkan pada posisi dan kondisi seperti itu nantinya.” Luar biasa, mungkin benar adanya seperti itu, jangan dulu kepedean kita bisa menolak dan menangkis berbagai rintangan yang menyeret kita pada jeratan maksiat, padahal ujian sebenarnya mungkin belum datang kepada kita. Maka menjadi tugas kita untuk membentengi diri kita sejak sekarang. Mendekatkan diri kepada Allah, penyerahan total untuk tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan yang berasal dari-Nya, menjadi jalan yang akan menguatkan benteng keimanan manusia seluruhnya.
cermin untuk diri sendiri dan yang lain, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam
cermin untuk diri sendiri dan yang lain, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar