Minggu, 26 Februari 2012

macam betul saya

Dia bukanlah MUSUH, namun teman satu Ideologi yang juga tergabung dalam barisan perjuangan. Dia merasionalisasikan jawabannya dengan suara yang sedikit lirih, namun pandai dalam penggunaan Kata-kata dan memainkan tempo yang tepat ketika berbicara. Mungkin bagi orang awam yang tidak biasa memperbincangkan Revolusi terdengar sedikit lambat dan membosankan, tapi jujur saja saya malah menjadi makin terang. Sepulang dari tempat itu, saya urung tidur, Perasaan semakin mix bak diaduk-aduk linggis besi berkarat, risau dan sesak makin dalam dibuatnya. Ketika saya sadar, hanya bisa Mengutuk dalam hati,
“makan kau! dasar orang sok pintar!”
padahal masih hangat dalam ingatan, di forum kemarin saya begitu gagah perkasa, melebihi cerita pandawa yang melawan para kurawa dalam perang baratayuda. Begitu mudahnya orang lain menerima argument saya, dengan logat retorika ala mahasiswa tukang demo yang senang berdiskusi dan mewacanakan Perubahan. Mereka mengangguk-angguk tanda menerima. setan membisikan bahwa saya sudah harus diperhitungkan dan diakui dengan bersikap songong! Kemudian bergumam.
“Sudah hebat betul saya”

 ****

Namun Setelah bertemu dengannya, ada ibrah yang dipetik, dia mengajarkan agar saya jangan terlalu  jumawa dan puas terhadap apa yang saya miliki.
"Banyak-banyak baca buku kau dik, jangan dulu puas ketika hanya pernah menamatkan satu-dua buah buku, lantas menganggap kau orang paling Pintar!"

Mungkin begitu, Kalau boleh saya menebak-nebak, secara tersirat dia ingin mengucapkan kalimat itu. Kuliah 4 tahun tidak cukup, jalanan ternyata lebih kompleks dan rumit, sementara waktu saya tidak ingin pisau analisis menjadi kian tumpul karena tidak pernah dipergunakan. namun satu hal yang pasti dan menggigit, kenyataan tadi lebih nampol bila dibandingkan tampolan Manny pacquaio.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar