Kamis, 14 Juni 2012

Kembang Api


Bukan perayaannya yang menjadi concern saya, tapi lihat bagaimana kembang api malam hari ketika menyambut tahun baru begitu bercahaya seolah-olah menghantarkan pesan yang membius, euphoria! Kembang api yang silih berganti di langit pada waktu tengah malam membuat perbedaan yang nyata dengan malam yang lain. Awal tahun baru 2012 Di london dengan durasi 14 menit (lihat youtube) begitu terasa gemerlap yang dihasilkan kembang api. Namun kemudian hal yang mafhum adalah nyala kembang api tidak akan bertahan lama, akan redup dan mati, maka bila masih ingin larut nyalakan kembang api yang baru.
Kita juga sering lihat kembang api ukuran kecil yang panjangnya seperti penggaris dan sebagiannya terisi mercon beku, ketika api memantik dan mengarah kembang api dengan serta merta penggaris berlapis mercon beku tersebut nyala dengan durasi yang singkat dan setelahnya akan redup.
Akhir-akhir ini saya sepertinya  terjangkit syndrom kembang api, passion/semangat yang kadang muncul melahirkan lesatan progressive yang luar biasa, namun diwaktu tertentu semangat itu seperti berhenti bergerak, sesak (sedikit mendapat Oksigen), dan pada akhirnya tidak produktif.

***
Pilihan-pilihan yang ada kedepan memberikan visualisasi yang tidak terlalu samar di satu sisi, namun disisi lain bukan malah membuat saya lega tapi justru melahirkan kebingungan yang menyenyakkan.
Pada saat-saat seperti sekarang memang penting untuk melakukan pembiasaan dan pemaksaan terhadap kungkungan dari pembiasaan yang buruk, menghancurkan tembok dan dinding-dinding beton tidak cukup dengna palu atau pun linggis namun dengan senjata yang tepat. Pembiasaan untuk tidur tepat waktu, pembiasaan untuk makan tepat waktu, pembiasaan untuk ibadah tepat waktu, pembiasaan untuk tidak tidur setelah shubuh, pembiasaan untuk selalu siap ketika ada penggilan perjuangan, pembiasaan untuk manut dengan nasihat orang tua,pembiasaan untuk giat menuntut Ilmu, pembiasaan untuk menghadirkan senyuman kebanyak orang, pembiasaan untuk tidak jumawa, pembiasaan untuk tidak mengharapkan puja-pujian manusia, pembiasaan untuk tidak selalu mengutamakan diri sendiri, pembiasaan untuk membaca Al-Qur’an sehabis shalat fardhu dan pembiasaan-pembiasaan lain yang akan membebaskan dari kungkungan berbagai virus penyakit secara maknawi kembang api syndrome).
Butuh kerja ekstra dan konsistensi untuk melakukan itu semua secara kontinyu, syndrom kembang api yang saat ini saya idap adalah bagian dari proses, semakin banyak waktu yang dihabiskan dengan berbagai persoalan yang turut serta mengikuti maka akan semakin menguji saya dan mengajarkan banyak hal, seberapa seringkah kembang api itu muncul kembali ke-depan-nya? Jujur, saya juga tidak begitu mengetahuinya , akan tetapi dengan senjata “Pembiasaan”, kembang api akan terkikis dan dipaksa untuk tetap menghasilkan cahaya walau mercon beku sebagai amunisi sudah habis. Ketika itu maka tidak layak cahaya gemerlap itu disebut kembang api, walau awal nyalanya teridentifikasi sebagai kembang api.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar