Bukan perayaannya yang menjadi concern saya, tapi lihat
bagaimana kembang api malam hari ketika menyambut tahun baru begitu bercahaya
seolah-olah menghantarkan pesan yang membius, euphoria! Kembang api yang silih
berganti di langit pada waktu tengah malam membuat perbedaan yang nyata dengan
malam yang lain. Awal tahun baru 2012 Di london dengan durasi 14 menit (lihat
youtube) begitu terasa gemerlap yang dihasilkan kembang api. Namun kemudian hal
yang mafhum adalah nyala kembang api tidak akan bertahan lama, akan redup dan
mati, maka bila masih ingin larut nyalakan kembang api yang baru.
Kita juga sering lihat kembang api ukuran kecil yang
panjangnya seperti penggaris dan sebagiannya terisi mercon beku, ketika api
memantik dan mengarah kembang api dengan serta merta penggaris berlapis mercon
beku tersebut nyala dengan durasi yang singkat dan setelahnya akan redup.
Akhir-akhir ini saya sepertinya terjangkit syndrom kembang api, passion/semangat
yang kadang muncul melahirkan lesatan progressive yang luar biasa, namun
diwaktu tertentu semangat itu seperti berhenti bergerak, sesak (sedikit
mendapat Oksigen), dan pada akhirnya tidak produktif.
***
Pilihan-pilihan yang ada kedepan memberikan visualisasi yang
tidak terlalu samar di satu sisi, namun disisi lain bukan malah membuat saya
lega tapi justru melahirkan kebingungan yang menyenyakkan.
Pada saat-saat seperti sekarang memang penting untuk
melakukan pembiasaan dan pemaksaan terhadap kungkungan dari pembiasaan yang
buruk, menghancurkan tembok dan dinding-dinding beton tidak cukup dengna palu
atau pun linggis namun dengan senjata yang tepat. Pembiasaan untuk tidur tepat
waktu, pembiasaan untuk makan tepat waktu, pembiasaan untuk ibadah tepat waktu,
pembiasaan untuk tidak tidur setelah shubuh, pembiasaan untuk selalu siap
ketika ada penggilan perjuangan, pembiasaan untuk manut dengan nasihat orang
tua,pembiasaan untuk giat menuntut Ilmu, pembiasaan untuk menghadirkan senyuman
kebanyak orang, pembiasaan untuk tidak jumawa, pembiasaan untuk tidak
mengharapkan puja-pujian manusia, pembiasaan untuk tidak selalu mengutamakan
diri sendiri, pembiasaan untuk membaca Al-Qur’an sehabis shalat fardhu dan pembiasaan-pembiasaan
lain yang akan membebaskan dari kungkungan berbagai virus penyakit secara
maknawi kembang api syndrome).
Butuh kerja ekstra dan konsistensi untuk melakukan itu semua
secara kontinyu, syndrom kembang api yang saat ini saya idap adalah bagian dari
proses, semakin banyak waktu yang dihabiskan dengan berbagai persoalan yang
turut serta mengikuti maka akan semakin menguji saya dan mengajarkan banyak
hal, seberapa seringkah kembang api itu muncul kembali ke-depan-nya? Jujur,
saya juga tidak begitu mengetahuinya , akan tetapi dengan senjata “Pembiasaan”,
kembang api akan terkikis dan dipaksa untuk tetap menghasilkan cahaya walau
mercon beku sebagai amunisi sudah habis. Ketika itu maka tidak layak cahaya gemerlap
itu disebut kembang api, walau awal nyalanya teridentifikasi sebagai kembang
api.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar