de omnibus dubitandum (“meragukan segalanya”)Ragukanlah segalanya, junjunglah tinggi skeptisisme kepada setiap hal, maka pencaharianmu tidak akan pernah berhenti untuk mengetahui batasan hakikat diri, membawamu sampai di ujung cakrawala hingga hilang dalam horison kehidupan.
Ketika masih bersekolah, lebih
dari 10 tahun yang lalu, Arga tidak dimasukan kedalam sekolah-sekolah umum, ia
dimasukan oleh orang tuanya di salah satu pesantren di Jawa Timur, ayahnya
betujuan setidaknya Arga bisa menjadi penerus Imam Masjid di kampungnya, 6
tahun waktunya di habiskan dipesantren hingga lulus, kemudian tiba waktu
kuliah, ia mengambil Jurusan Ilmu
Komunikasi di salah satu Universitas Swasta terbesar di Jakarta, Arga dikenal
sebagai seorang yang aktif berorganisasi ketika berkuliah, kesibukannya di
Organisasi Dakwah dan Masjid Kampus, membawanya di percaya sebagai ketua Organ
dakwah Kampus di tahun keduanya, hanya melanjutkan tren dan program kerja
periode kepemimpinan terdahulu yang banyak berisi agenda-agenda Ritual
keagamaan, dan materi tentang Aqidah,
syariah dan Tauhid yang sedikit dan seadanya. Membuat lesu kepemimpinan ketika
periodenya dan juga kelesuan secara kelembagaan yang terlihat dari berkurangnya
anggota lembaga dakwah kampus tersebut hingga tidak lebih dari 10 orang.
Arga sadar hal ini tidak bisa dibiarkan, untuk itu ia melakukan terobosan-terobosan terhadap aktivitas dakwahnya dikampus, salah satunya dengan memperluas sasaran targetan dakwah, kali ini bukan hanya orang-orang yang sering nongkrong dan kumpul-kumpul di masjid saja, ia berencana melakukan sowan dan diskusi aktif terhadap lembaga-lembaga lain, intra kampus atau pun ekstra kampus kini menjadi perhatiannya. Seperjalanannya, Beragam respon yang diberikan dan tidak sedikit yang acuh tidak acuh untuk terlibat diskusi aktif, namun ketika masuk ke pintu BEM Fak. Hukum, Arga berpapasan dengan Agis yang merupakan teman sesama pesantrennya terdahulu.
Arga sadar hal ini tidak bisa dibiarkan, untuk itu ia melakukan terobosan-terobosan terhadap aktivitas dakwahnya dikampus, salah satunya dengan memperluas sasaran targetan dakwah, kali ini bukan hanya orang-orang yang sering nongkrong dan kumpul-kumpul di masjid saja, ia berencana melakukan sowan dan diskusi aktif terhadap lembaga-lembaga lain, intra kampus atau pun ekstra kampus kini menjadi perhatiannya. Seperjalanannya, Beragam respon yang diberikan dan tidak sedikit yang acuh tidak acuh untuk terlibat diskusi aktif, namun ketika masuk ke pintu BEM Fak. Hukum, Arga berpapasan dengan Agis yang merupakan teman sesama pesantrennya terdahulu.
Arga dan Agis terlibat diskusi
yang cukup aktif dan panjang, Agis terlihat begitu mendominasi arga dalam sesi
percakapan, bila diibaratkan duel permainan bola, Arga di giring hingga
setengah lapangan. Percakapan tersebut akhirnya terhenti oleh suara Adzan Ashar
yang baru saja memanggil mereka berdua. Arga tampak murung dan menundukan
kepalanya ketika perlahan menuju ketempat bersuci, seperti ada yang membekas
dan menjadi pikiran Arga dari hasil diskusinya dengan Agis.
Keesokan harinya, secara
mengagetkan arga mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua Lembaga Dakwah
Kampus, ia kemudian aktif di Bem Universitas hingga tahun keempat kelulusannya,
ketika dan selama di BEM Universitas, ia dipertemukan dengan orang-orang yang
mempunyai corak pemikiran yang beragam dan berbeda, dari mulai pemikir Islami,
Filosofis, Nasionalis, Marxis dll yang kemudian menghantarkan Arga kepada
proses dialektik-Filosofis yang cukup ruwet dan melelahkan.
***
Sebelumnya harus dijelaskan
terlebih dahulu dimana posisi teoritik arga saat ini, berbeda halnya dahulu
yang masih menyisakan Frame anak Pesantren yang meyakini mutlak aturan yang
berasal dari Agamanya adalah yang paling benar, posisi teoritik arga sudah
bergeser, ia adalah seorang pencari kebenaran (klaim dirinya), ia mengutuk
segala ketidakadilan, penindasan, perampasan hak dsb, ia tidak ingin Individu
terkekang dan tidak menjadi manusia yang benar-benar bebas dan merdeka,
pengekangan dan ketidakadilan yang tidak sesuai dengan asumsi Rasionya akan
ditentang, ia berusaha menggigit akar keyakinan tersebut dalam-dalam di dalam pikirannya.
Untuk sebuah hal yang ia sebut
sebagai kebenaran, Ia terus mencari dan berkelana ke tempat-tempat orang yang
ditindas, sampai berhenti dikawasan Industri tempat dimana buruh banyak
bersemayam dan diperas tenaganya untuk mencapai targetan-targetan produksi yang
kemudian di bayar dengan Upah yang begitu murah, Arga bersimpati terhadap
mereka dan komitmen terhadap penghapusan penderitaan mereka, tapi ia bingung
harus memulainya dari apa dan bagaimana, karena ia dari awal sadar tidak punya basis massa,
maka tidak ada jalan lain selain melakukan Penetrasi sembari melakukan
perekrutan kader-kader awal yang dapat di andalkan untuk mengemban landasan
teoritik yang dibawa olehnya. Ia memulai dengan posisi teoritik yang di pegang
olehnya…
Seru Arga kepada kompatriot buruhnya yang tampak dibuat kebingungan oleh kata-katanya barusan.Ragukanlah segalanya, junjunglah tinggi skeptisisme kepada setiap hal, maka pencaharianmu tidak akan pernah berhenti untuk mengetahui batasan hakikat diri, membawamu sampai di ujung cakrawala hingga hilang dalam horison kehidupan.
Dengan kemahiran retorika dan
pemilihan diksi yang tepat, dua orang teman sekamar Arga berhasil di ajak dan
terlibat diskusi aktif, saat melakukan agitasi, Arga terus menerus menghadirkan putusan-putusan
moral tentang kebengisan system dan kesialan Individu dihadapan system, dua
orang kader awal ini terlihat begitu antusias, hingga terus menanyakan berulang
kali kepada Arga,
Apa yang harus kita lakukan?
Arga berulang kali juga menjawab
dengan jawaban yang kurang lebih sama,
Kita harus percaya dan yakin perjuangan kita tidak akan sia-sia, penentangan kita terhadap penindasan dan niscayanya kemerdekaan Individu akan membawa kita kepada sebuah jalan pembebasan yang membebaskan
Jelasnya Konsep bernegara seperti apa nantinya yang kita emban? Apakah Sosialisme / Komunis? Atau kah ada yang lain, yang tentunya bukan Kapitalisme? bertanya kader pertamanya kepada Arga
Tidak, tentu tidak, Sosialisme/Komunis akan membawa kita kepada Totalitarianisme, itu akan mencipatakan penindasan gaya baru yang bisa saja lebih bengis dari hari ini
Lalu apa?
Ini akan menjadi sebuah Enigma, jalan yang misterius, dan pemecahan teka-teki yang akan berujung nantinya, tapi yakinlah selama kesulitan-kesulitan Individu dihadapan Sistem ini terus kita problematisir terhadap setiap mereka yang ditindas, maka Enigma tersebut dapat dipecahkan hingga menghantarkan kita kepada jalan hidup yang baru
Kedua orang kader awalnya tampak
tidak puas dengan analisa terakhir yang diterangkan Arga, namun apa boleh buat
mereka seperti disihir dengan kata-kata Arga. Dengan terus-terusan membawa
kegalauan Individu dihadapan system, Arga terus memberikan kuliah kepada kedua
kader awalnya hingga tak kenal lelah, uang Arga yang merupakan hasil dari pekerjaannya ikut menjadi buruh di habiskan untuk
membiayai logistik mereka bertiga selama mereka aktif berdiskusi malam-malam sehabis
bekerja.
Namun, Arga mungkin lupa, ketahanan
fisiknya tidak sebaik buruh-buruh yang lain, ia pernah di vonis dokter
mempunyai penyakit leukemia, saat malam di minggu yang ke-3, dimana ia terus
melakukan penetrasi pemikiran dengan dua orang kadernya, ia sudah merasakan
gangguan pada penglihatannya, buram dan kunang-kunang tampak berjalan
dihadapannya, pola pernapasannya berubah makin abnormal, hingga esok hari,
tubuhnya menggigil hebat, ia tidak bisa bergerak dari tikar tempat tidurnya, ia
sempat memintakan tolong kepada kedua kadernya agar membawa ke Rumah Sakit
terdekat, tapi kedua orang tersebut secara tersirat tidak menggubris keinginan
Arga, keduanya malah lebih memilih untuk
masuk kerja dan membiarkan Arga tetap di pembaringannya, Asam lambung yang
terus teriak karena kelaparan menjadi alasan utama keduanya untuk masuk kerja
dan mengambil jam lembur kerja, bagi mereka berdua yang membuat mereka betah
berlama-lama dengan Arga selama ini adalah ketika Arga bersedia dan secara
lapang dada memberikan jatah makanan dan minumannya kepada mereka ketika
berdiskusi panjang malam-malam, sepertinya slogan-slogan pembebasan dan
kegalauan Individu yang dibawa Arga tidak membekas ke dalam kedua orang
tersebut sedikit pun.
***
Dalam pembaringannya. Di tikar
yang lusuh dan ditemani sarung sebagai pembalutnya, Arga terus menggigil hebat,
kamarnya serasa di Siberia dengan tingkat kedinginan -40 derajat celcius, dengan suhu seperti itu bahkan air panas pun dapat
membeku seketika, Arga menatap loteng kamarnya yang tampak reot dan dipenuhi
sawang-sawangan, pandangannya menjadi lebih buram dari sebelumnya,
kunang-kunang pun tampak tidak terlihat lagi berjalan dan menari-nari di
hadapannya, yang ia lihat kegelapan semakin pekat menjemput pandangan kedua
matanya……
de omnibus dubitandum, menjadi panji dan slogan yang tidak lagi cocok dengan kondisinya saat ini, ia tidak bisa lagi berasumsi untuk meragukan segalanya, termasuk kematian…..
Frdsprtrmp, Pinggir Jakarta,
Desember 2012.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar