Barang siapa yang tergoda hawa nafsunya untuk merasakan suatu kenikmatan yang diharamkan,hendaklah ia memikirkan akibat perbuatannya itu. Hendaklah ia mendengarkan suara akal yang memanggil, “Janganlah engkau lakukan!, jika engkau lakukan dosa itu, engkau akan terhenti dan jatuh ke jurang kehinaan.” Akal akan memanggilnya“kokohkanlah dirimu.” Jika yang menguasai jiwanya saat itu adalah nafsunya,pasti ia tidak akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh akal tadi. Orang seperti itu laksana anjing yang berkata kepada singa, “Wahai raja segala binatang buas , gantilah namaku, karena namaku sangat buruk.” Singa berkata,“Tak mungkin karena engkau adalah pengkhianat dan tak ada yang cocok untukmu kecuali nama itu.”
Anjing berkata“Coba saja!” setelah itu sang anjing diberi sepotong daging dan singa berkata kepadanya, “jagalah daging ini sampai esok hari, baru akan aku ganti namamu!.”Saat menunggu itulah sang anjing merasa lapar, namun ia bertahan sabar. Akan tetapi, tatkala laparnya betul-betul memuncak dan hawa nafsunya menaklukannya,ia bergumam, “Apa artinya namaku, nama anjing toh juga baik.” Akhirnya, anjingitu pun memakan potongan daging yang dititipkan kepadanya. Demikian pula orang-orang yang lemah semangatnya dan rela dengan kedudukan yang rendah; merekalebih mendahulukan hawa nafsu daripada hal-hal yang utama.
Berhati-hatilah terhadap hawa nafsu tatkala ia berkobar-kobar. Carilah jalan untuk menaklukannya. Mungkin saja ketergelinciran pada hal-hal kecil akan menjerumuskan seseorang ke dalam jurang yang sangat dalam. Ingatlah bahwa yang lalu tak akan pernah kembali. Jauhilah sebab-sebab fitnah, sebab mendekatinya sama dengan mendekati fitnah. Sangat jarang mereka yang mendekati fitnah akanterselamatkan (Imam ibnu Al-Jauziy , Shaidul khatir)
Semoga saja kutipandi atas setidaknya bisa mengingatkan kita, tentang pentingnya untuk selalu mengupayakan langkah-langkah antisipatif agar tidak gampang tunduk terhadap hawa nafsu sehingga “rela dengan kedudukan yang rendah”, berkaitan dengan kondisi kekinian, tentu banyak diantara kita yang ilmu dan akal tidak berkembang sama luasnya, jika mau menengok kebelakang, maka benar adanya perkataan pemimpin besar ulama Tabi’in, Ibnu Ahmad Al-Farahidi:
“Barangsiapa yang akalnya berkembang seluas ilmu yang diberikan Alloh kepadanya, maka diadan umatnya sama-sama mendapatkan karunia yang besar. Barangsiapa yang akalnya tidak berkembang seluas ilmu yang diberikan Alloh kepadanya, maka dia menjadi musibah besar bagi dirinya sendiri dan bagi umat yang mengikutinya”
Manusia dalam melakukan suatu tindakan, bergantung kepada apa yang telah menjadi pemahamannya, informasi yang tadinya hanya berupa pengetahuan dapat menjadi pemahaman ketika informasi tersebut diafirmasi menjadi sebuah kebenaran. Pemahaman/kesadaran/rasio ini melampaui idealisme Hegel, dimana menekankan kesadaran/rasio sebagai begawan atas relasinya terhadap realitas, pemahaman/kesadaran/rasiomodel seperti ini adalah keliru, karena pemahaman dibentuk salah satunya dari informasi awal yang tentunya informasi awal ini berawal bukan dari makhlukmelalui jalan rasio semata wayang, karena dalam hal ini rasio terbatas setelah dibuktikan dan diketahui sifatnya sebagai makhluk, penyandaran informasi awal yang benar akan menuntun kita kepada kebenaran, harus dipilah dan dipilih ketika menentukan sandaran informasi awal yang berasal dari makhluk atau bukan makhluk yang bersifat azali dalam hal ini Tuhan semesta alam, agar tidak terjebak dalam jurang relativisme yang tidak berujung sehingga alergi dengan kata kebenaran. Perangai seperti ini sering dijumpai dalam khasanah intelektual kita beberapa dekade belakangan.
Dan Ketika sebuah pemikiran telah menjadi pemahaman, maka orang tersebut idealnya,berfikir dan bertindak sesuai dengan apa yang telah menjadi pemahamannya, tidaksaja dalam lingkup pribadi, interaksi ruang lingkup bernegara juga menjadi obyek yang dijustifikasi oleh pemahamannya. Ketika Kapitalisme hari ini yang menjadi Ideologi negara, maka hal ini harus dicermati berdasarkan apa yang telah menjadi pemahamannya, membuat perhitungan terhadap Kapitalisme dengan jalan menumbangkannya atau dibiarkan begitu saja cengkraman Kapitalisme saat ini, kalau kita hadap-hadapkan Islam sebagai Ideology, Islam sebagai sumber pemahaman kita kemudian dihadapkan dengan Kapitalisme, maka hal-hal yang menjadi pokok dan dasar dari logika internal Kapitalisme itu sendiri sejatinya sudah bertentangan dengan Islam, seperti halnya semangat Sekularisme dan Kebebasan berkepemilikan Individu, maka dengan jelas dan kasat mata, Islam datang sebagai patahan radikal terhadap Kapitalisme.
Kini pilihannya terbatas, menyetujui dan berjuang dalam penumbangan Kapitalisme, dalam hal ini mengajukan Islam sebagai solusi bernegara, atau kah justru kita menggugat wahyu-wahyu Tuhan melalui lisan Nabi-Nya dengan jalan menolak Islam sebagaiideologi negara?
Tentu pilihanyang kedua, tidak akan pernah menjadi pilihan muslim yang berakal.Revolutionary start in the mind
Tidak ada komentar:
Posting Komentar