Berawal dari pembahasan yang terus beredar di media
social, tentang fenomena pacaran sebagai buah dari pergaulan system sekular
saat ini yang memank tidak dibenarkan
oleh Islam, Persoalan ini begitu menarik khususnya para pemuda, karena salah
satunya ialah, fenomena pacaran adalah fenomena yang dekat sekali dengan
kehidupan sehari-hari para pemuda di negeri ini, jadi pembahasan ini memerlukan
counter dari sudut dan perspektif Islam.
Di era smartphone saat
ini, counter dari ide tersebut lahir bukan hanya pada aras realitas/dunia nyata
namun juga menjalar di dunia maya, secara singkat. Dari sinilah tulisan ini
berasal dan dibuat, ketika pada aras dunia maya, counter-counter yang
dihasilkan oleh para pengemban dakwah yang terkesan unyu-unyu justru lebih banyak muatan apologetic jomblo.
Dengan pemahaman dasar,
Aqidah Islam adalah aqidah yang paripurna, memuat dan mengatur segala urusan
manusia secara komprehensif, maka interaksi antar lelaki dan perempuan juga
merupakan bagian yang di hukumi dan di atur oleh Islam. Dengan catatan,
persoalan dan fenomena ini bukanlah semata-mata hal yang di atur oleh Islam,
namun banyak persoalan lain juga di atur oleh Islam, sebagaimana masalah
Ekonomi, Politik, social masyarakat, system pemerintahan dsb juga serta merta
diatur oleh islam.
Admin dalam hal ini,
secara berkelanjutan ikut mendiskusikan fenomena ini dengan teman teman dari
komunitas anak baek-baek. Sebuah komunitas dengan struktur yang longgar dan keanggotaannya
bersifat tertutup yang dibentuk atas dasar kesamaan ide dan visi antar sesama
anggotanya. Nanti dalam artikel ini, Akan dipaparkan beberapa pendapat dari
anggota dan elit struktur komunitas baek-baek terkait persoalan ini.
Pemenuhan Naluri
Naluri melestarikan
jenis yang salah satu penampakannya ialah naluri seksual/ketertarikan dengan
lawan jenis hadir bersamaan dengan keberadaan manusia itu sendiri, maka akan
didapati kecendrungan dan penampakan-penampakan yang di sandarkan pada naluri
seksual tersebut, pemicu dari kehadiran dan pemenuhan naluri ini berasal dari
faktor eksternal. Misalkan adanya ketertarikan ketika melihat lawan jenis, berimajinasi
mesum dan liar ketika mendapati contain film porno dsj. Bila dorongan yang ditimbulkan dari naluri ini
tidak tersalurkan, maka akan menghadirkan kegelisahan, Sebagai catatan, naluri
seksual tidak bisa dihilangkan, dicabut atau dihempaskan (dengan penekanan bahasa yang sedikit didramatisir),
tapi bisa dialihkan kepada naluri lain, seperti dengan kegiatan olahraga atau
pun menuntut ilmu dan juga beribadah.
perbedaan pemicu yang cukup fundamental dengan dorongan internal yang biasanya
berkaitan dengan kebutuhan jasmaniah berupa kebutuhan sandang, pangan dan papan,
tapi keduanya yakni antara naluri dan kebutuhan jasmani adalah potensi hidup
yang eksistensinya alamiah dalam diri manusia.
Berdasarkan pandangan
di atas, dengan mengaitkan fenomena maraknya status-status yang terus di
suarakan oleh individu atau kelompok yang menamakan dirinya Jomblo berkualitas
atau jomblo mulia yang secara vocal mengikrarkan keistimewaan seorang jomblo, ternyata
mengundang polemik, setidaknya buat komunitas baek-baek yang aktif menyoroti
peristiwa ini, Ketua umum dari Komunitas
Baek-baek yakni bung Dim berpendapat, “Awalnya
kita mungkin bisa saja cuek terhadap apologi yang dilakukan sebagian jomblo,
tapi belakangan ini makin massif, dan mulai banyak orang-orang yang terpengaruh,
padahal yang namanya naluri harus disalurkan dengan benar”. Titik tekan
yang ingin dikritisi oleh ketum adalah, menyudahi previlese yang berlebihan
terhadap jomblo hingga melabeli dirinya sendiri dengan berbagai label semisal High Quality Jomblo, padahal
jomblo bukan lah sebuah ruang vakum yang
statis, dalam artian tendensi setiap jomblo adalah menikah, ketika menikah
maka gugurlah status kejombloan tadi.
Rasulullah saw.
Bersabda “wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu untuk
menikah, menikahlah, karena menikah itu dapat menundukkan mata dan menjaga
kehormatan. Siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab puasa
dapat menjadi perisai baginya (HR al – Bukhari dan Muslim).
Dari hadits di atas,
kita dapat ketahui, satu-satunya cara yang paling benar dan sesuai tuntunan syar'i dalam menyalurkan naluri seksual adalah melalui jalan pernikahan. Sebab
dengan menikah, berarti seseorang telah dapat menyalurkan nalurinya dengan cara
yang halal.
Lebih lanjut ketum menambahkan,
ketika mengacu kepada pernikahan yang ternyata sulit untuk diwujudkan dalam
waktu yang dekat oleh sebagian mereka dengan beragam alasan, akhirnya mereka
melegitimasi statusnya yang sekarang sebagai Jomblo berkualitas, lalu ketum
menganalisis setidaknya ada 4 variabel yang biasanya dijadikan apologetik para
jomblo, yang Pertama: Urusan keluarga,
padahal kalo untuk keluarga, menurut ketum ini adalah urusan yang mudah,
dengan membuat pertanyaan sekaligus pernyataan, “Ente mau nikah sama doi apa sama nyokapnya? Yang perlu ente yakinkan
Cuma walinya, kalau walinya udah setuju, mau seluruh dunia kagak setuju kagak
ada masalah”. Begitu jelasnya.
Yang Kedua:
urusan duit, ini juga menurut ketum banyak gampangnya, yang jelas kita yakin
rezeki sudah di atur oleh Alloh Swt. Tinggal bagaimana pada tataran syariat
kita juga melaksanakan aturan Alloh dengan berikhtiar dan mencari nafkah.
Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seseorang tidak akan
tersibukkan dengan dunia, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar
maruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah
ditanya tentang rahasia zuhudnya, belau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan
bisa diambil orang lain. Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku
tidak akan bisa dilakukan oleh selainku, karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku
tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas
kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan
bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”
Yang Ketiga:
menghambat gerak/laju dakwah, ketum mengomentari hal ini lebih lanjut, " ini tidak relevan sama sekali, apa
hubungannya gerak sama nikah, trus kalo nikah dan istri malah menghambat dakwah
gimana? Ya, tinggal cerai dan cari yang laen, saya kira teman-teman harus
mengingat kisah Abu Bakar ra. Yang menyuruh anaknya Abdullah untuk menceraikan
istrinya karena menganggap melalaikan dari
sholat berjamaah dan cenderung asyik bercengkarama dengan istrinya
ketika itu”.
Yang Keempat:
Urusan mental, ketum menambahkan “Dari
ketiga hal di atas dan beberapa catatan yang ane jelaskan ini semuanya Insya
Alloh syar’i, coba nte perhatikan kalo ada yang gak syar’i, tapi mental gak
siap, bakal keluar seribu apologetic. Gak enak kalo semua anggota keluarga gak
setuju lah, pengen hidup layak juga lah, gak baik kalo nikah terus cerai lah,
macem2 pokoknya!”.
Ya pada akhirnya, urusan
mental tidak bisa diabaikan begitu saja, siap atau tidaknya mengubah wacana
pernikahan menjadi nyata, dalam kesempatan yang lain, Bung musafir yang
merupakan salah satu pengurus di dalam komunitas baek-baek ikut memberikan
pendapat terhadap fenomena ini, ia khawatir niat yang dapat mudah bergeser dari
para pihak yang sering mengikrarkan diri sebagai Jomblo berkualitas, lebih
jelasnya ia mengatakan “Jomblo2 harusnya
mereka sadar diri, kalau mereka itu jomblo, gak usah di umbar-umbar di public,
apalagi sosmed, dengan beragam Istilah yang memprevilesekan diri atau
kelompoknya sendiri, itu bisa saja mengundang anggapan Cuma sebatas cari
sensasi, biar di kata aku adalah laki-laki yang taat agama dan tidak pacaran,..
ujungnya bisa jadi adalah mencari perhatian lawan jenis”. Mungkin pendapat bung ian dinilai terlalu sinis, kalau
pun memang begitu, bung ian setidaknya membuat batasan agar tidak terjebak
dalam fitnah dan asumsi macam-macam, untuk itu lebih baik di hindari, juru
bicara dari komunitas anak baek-baek juga tidak mau ketinggalan, hal yang juga
senada dan satu tarikan nafas dengan bung ian, ia mengatakan “Jomblo ya gak
usah banyak pembenaran, jomblo ya jomblo ajah, tandanya nte blum dapat jodoh,
gak usah curhat atau bertahan dengan pembenaran yang semakin buat nte terpojok
di sudut ring pertarungan para pencela, karena sikap reaktif dan defensive yang
kian memposisikan pada posisi tertuduh dan bersalah (Defensive Apologetik)”.
Kritik membelai
Ya akhirnya
dikesempatan ini, mungkin kita dari komunitas baek-baek adakan sedikit
pemakluman terhadap perilaku Jomblo defensive apologetic, dalam hal ini,
motifnya mungkin yang bisa dimaklumi, berawal dari konflik psikologis individu,
hidup di alam kapitalisme secular yang menghasilkan pergaulan dan seks bebas, telah memicu gejolak
syahwat para pemuda yang masih dalam
status kesendiriannya untuk segera diadakan represi ketika setiap kali syahwat
itu muncul, tapi sayangnya teman-teman penanganannya kami pandang
kontraproduktif, kenapa bisa begitu? Ya, dengan berangkat dari argument awal,
bahwasanya naluri seksual dipicu oleh factor eksternal, kita sendiri jangan
coba-coba untuk sering menghadirkan status-status yang isinya tentang
ketertarikan lawan jenis dan satrianya seorang jomblo, karena itu sama saja
ingin membuang sebrang satu sisi mata koin, teriak-teriak jomblo berkualitas
dan cukup tangguh pertahanannya, tapi di sisi yang lain terlihat rapuh karena
seringnya status seperti itu hadir dalam kesehariannya.
Maksud kami adalah
memberi masukan dan sedikitpun tidak ada niat menghalang-halangi, membumikan
suatu opini tentang pergaulan yang sesuai dengan aturan syar’i sangatlah mulia,
namun jangan pernah lupa dan mereduksi aturan Islam, dimana bukan saja persoalan
individu dan konflik psikologisnya, Islam juga mengatur hubungan bermasyarakat
dan bernegara.
Ketika kita menyuarakan
persoalan Jomblo yang berkualitas di permukaan hingga berhasil dibumikan karena
menjadi opini yang cukup massif, lebih baik kita jangan berhenti sampai disana,
persoalan lain perlu di opinikan juga secara massif, sebagaimana persoalan
kepemilikan sumber-sumber daya alam yang kini di kuasai asing, sebagaimana
persoalan ekonomi kapitalisme yang menenkankan kepada fundamentalisme pasar dan
individualisme Method membawa kepada penderitaan rakyat luas, sebagaimana
persoalan khianatnya para penguasa yang justru jadi kepanjangan tangannya
asing, sebagaimana juga persoalan perlunya system kekhilafahan yang menjadi
kepemimpinan umat Islam. Dan sebagaimana persoalan dan problematika umat
manusia yang telah secara komprehensif di atur oleh Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar