Jumat, 11 Desember 2015

Muhasabah sebelum waktu itu tiba



Mungkin bagi sebagian kita sudah tidak asing mengenal nama-nama artis luar seperti Robin Williams, Marylin Monroe atau pun Michael J. yang meregang nyawa secara memprihatinkan, nama yang saya sebut di awal dengan cara bunuh diri dan dua lainya di duga karena over dosis. Untuk kasus over dosis atau bunuh diri yang masih menjadi perdebatan diamana di antara dua kondisi itu jualah yang telah menewaskan Kurt Cobain, seorang musisi grunge terkenal asal AS.

Padahal kita tahu, untuk urusan keduniaan mereka tergolong ahli di bidangnya masing-masing, Robin W. sudah malang melintang menjadi aktor film dan membintangi beberapa judul film,  filmnya yang terkenal yakni Jumanji. Marylin Monroe adalah bintang/aktris populer di zamannya, bahkan kecantikannya menggoda beberapa politikus ternama di negerinya sehingga terciptalah berbagai spekulasi skandal. Sedangkan untuk Michael Jackson sendiri pernah mendapat julukan “bapaknya musik pop”. Untuk urusan perbendaharaan harta, nama-nama di atas terkenal dengan kekayaan yang banyak. juga urusan popularitas, sudah maklum bahwasanya mereka hampir dikenal seantero penjuru dunia. Lalu pertanyaannya bagaimana bisa mereka meregang nyawa dengan cara yang sedemikian? Padahal bicara ukuran keduniaan yang digaungkan oleh orang-orang kafir barat, seperti harta dan tahta sudah ada didepan pelupuk mata dan mereka nikmati.

Persoalan perspektif

Manusia hari ini banyak kehilangan perspektif (pandangan hidup), bagaimana caranya hidup dan untuk tujuan apa ia hidup sehingga sebagian besar dari mereka meraba-raba arti hidup dengan sudut pandang akal yang lemah juga terbatas, hingga sebagian dari mereka pada titik ekstrim ada yang berpendapat  dunia untuk dunia tidak ada lagi kehidupan setelah dunia (akhirat).

 Maka dari itu ada baiknya kita simak betul firman Allah azza wa jalla:

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (Ar Ruum: 6-7).
Untuk ayat ini penjelasan ulama besar Ibnu katsir “Maksudnya kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan melainkan tentang dunia dan pergulatan serta kesibukannya, juga segala apa yang di dalamnya. Mereka cukup cerdas untuk mencapai dan menggeluti berbagai kesibukan dunia, tetapi mereka lalai terhadap urusan akhirat dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di alam akhirat, seakan-akan seorang dari mereka lalai, tidak berakal dan tidak pula memikirkan (perkara akhiratnya)” (Ibnu Katsir).

Persoalan kesalahan dalam menentukan perspektif hidup akibatnya sangat fatal dan berbahaya, kita akan menjadi manusia-manusia yang kehilangan arah, lihatlah bagaimana ramai manusia saat ini yang berjibaku untuk mencapai pencapaian Qorun dengan berpatokan kebahagiaan dapat lahir setelahnya, saksikanlah ramainya manusia mengganti bentuk ciptaan asal dengan operasi plastik dan yang sejenisnya demi mendapatkan kecantikan/sanjung puji manusia lain. Saksikanlah ribuan orang mengantri dalam ajang pencarian bakat dangdut atau pun pop yang melengak-lengok dihadapan jutaan pemirsa tanpa menutup auratnya. Saksikanlah ramai pemuda berlomba-lomba dalam maksiat ketika melakukan aktivitas pacaran yang sejatinya tidak pernah dikenal dalam Islam. Saksikanlah banyak orang yang menyembah Allah azza wa jalla namun di saat yang bersamaan meninggalkan aturan-Nya dalam persoalan individu hingga bernegara.

Berfikir tentang Kebangkitan
Mengutip dari kitab Nizhomul Islam karya syeikh taqiyudin an-nabhani di paragraph dan bab awal

Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain.(Nizhomul Islam)

Memahami paragraph ini kita akan dibawa kepada pemikiran tentang alam semesta, manusia dan hidup juga tentang Zat yang ada sebelum kehidupan dan apa yang ada sesudahnya. Terkait alam semesta, manusia dan kehidupan maka Terdapat Pencipta yakni Allah azza wa jalla, Pencipta yang menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Kita diciptakan oleh Allah, hidup untuk beribadah kepada Allah (Q.S. Adz-dariyat ayat 56) dan akan kembali lagi kepada Allah.

Ketika kita sudah memahami yang sedemikian, maka penyerahan total terhadap hukum Allah serta tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang dibawa Al-Khaliq adalah konsekuensi dari pengakuan keimanan kita.
Didunia tentunya kita ingin keluar dari segala kesempitan hidup yang melanda karena berpalingnya kita dari peringatan-Nya (Q.S.Taha ayat 124) Dihadapan kita nanti setelah fase kehidupan dunia akan ada hari penghisaban, ingatlah Allah amat teliti tentang apa-apa yang telah kita kerjakan, tentunya kita tidak ingin mendapatkan minumannya penghuni neraka yang di jelaskan oleh Allah melalui firmannya:

Kecuali air mendidih dan air luka (nanah) (Q.S. An Naba ayat 25).

Mudah-mudahan Allah mengaruniakan rahmat-Nya kepada kita, melembutkan juga melunakkan hati kita untuk dapat menerima kebenaran, memasukan kita kedalam jannah-Nya, melimpahkan kesabaran terhadap kita untuk tetap teguh memegang kebenaran, menambahkan petunjuk terhadap kita bahwa yang haq adalah haq yang bathil adalah bathil..Aamiin
Wallahu a’lam

Farid Syahbana, Kaltim 12/12/2015    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar