Mungkin bagi sebagian
kita sudah tidak asing mengenal nama-nama artis luar seperti Robin Williams,
Marylin Monroe atau pun Michael J. yang meregang nyawa secara memprihatinkan,
nama yang saya sebut di awal dengan cara bunuh diri dan dua lainya di duga
karena over dosis. Untuk kasus over dosis atau bunuh diri yang masih menjadi
perdebatan diamana di antara dua kondisi itu jualah yang telah menewaskan Kurt
Cobain, seorang musisi grunge terkenal asal AS.
Padahal kita tahu,
untuk urusan keduniaan mereka tergolong ahli di bidangnya masing-masing, Robin
W. sudah malang melintang menjadi aktor film dan membintangi beberapa judul
film, filmnya yang terkenal yakni Jumanji.
Marylin Monroe adalah bintang/aktris populer di zamannya, bahkan kecantikannya
menggoda beberapa politikus ternama di negerinya sehingga terciptalah berbagai
spekulasi skandal. Sedangkan untuk Michael Jackson sendiri pernah mendapat
julukan “bapaknya musik pop”. Untuk
urusan perbendaharaan harta, nama-nama di atas terkenal dengan kekayaan yang
banyak. juga urusan popularitas, sudah maklum bahwasanya mereka hampir dikenal
seantero penjuru dunia. Lalu pertanyaannya bagaimana bisa mereka meregang nyawa
dengan cara yang sedemikian? Padahal bicara ukuran keduniaan yang digaungkan
oleh orang-orang kafir barat, seperti harta dan tahta sudah ada didepan pelupuk
mata dan mereka nikmati.
Persoalan
perspektif
Manusia hari ini banyak
kehilangan perspektif (pandangan hidup), bagaimana caranya hidup dan untuk tujuan
apa ia hidup sehingga sebagian besar dari mereka meraba-raba arti hidup dengan
sudut pandang akal yang lemah juga terbatas, hingga sebagian dari mereka pada
titik ekstrim ada yang berpendapat dunia untuk dunia tidak ada lagi kehidupan
setelah dunia (akhirat).
Maka dari itu ada baiknya kita simak betul
firman Allah azza wa jalla:
“Tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja)
dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”
(Ar Ruum: 6-7).
Untuk ayat ini
penjelasan ulama besar Ibnu katsir “Maksudnya
kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan melainkan tentang dunia dan
pergulatan serta kesibukannya, juga segala apa yang di dalamnya. Mereka cukup
cerdas untuk mencapai dan menggeluti berbagai kesibukan dunia, tetapi mereka
lalai terhadap urusan akhirat dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di
alam akhirat, seakan-akan seorang dari mereka lalai, tidak berakal dan tidak
pula memikirkan (perkara akhiratnya)” (Ibnu Katsir).
Persoalan kesalahan
dalam menentukan perspektif hidup akibatnya sangat fatal dan berbahaya, kita
akan menjadi manusia-manusia yang kehilangan arah, lihatlah bagaimana ramai
manusia saat ini yang berjibaku untuk mencapai pencapaian Qorun dengan
berpatokan kebahagiaan dapat lahir setelahnya, saksikanlah ramainya manusia
mengganti bentuk ciptaan asal dengan operasi plastik dan yang sejenisnya demi
mendapatkan kecantikan/sanjung puji manusia lain. Saksikanlah ribuan orang
mengantri dalam ajang pencarian bakat dangdut atau pun pop yang melengak-lengok
dihadapan jutaan pemirsa tanpa menutup auratnya. Saksikanlah ramai pemuda
berlomba-lomba dalam maksiat ketika melakukan aktivitas pacaran yang sejatinya
tidak pernah dikenal dalam Islam. Saksikanlah banyak orang yang menyembah Allah
azza wa jalla namun di saat yang bersamaan meninggalkan aturan-Nya dalam
persoalan individu hingga bernegara.
Berfikir tentang Kebangkitan
Mengutip dari kitab
Nizhomul Islam karya syeikh taqiyudin an-nabhani di paragraph dan bab awal
Bangkitnya
manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia,
serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan
yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar
dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti
dengan pemikiran lain.(Nizhomul Islam)
Memahami paragraph ini
kita akan dibawa kepada pemikiran tentang alam semesta, manusia dan hidup juga
tentang Zat yang ada sebelum kehidupan dan apa yang ada sesudahnya. Terkait
alam semesta, manusia dan kehidupan maka Terdapat Pencipta yakni Allah azza wa
jalla, Pencipta yang menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Kita
diciptakan oleh Allah, hidup untuk beribadah kepada Allah (Q.S. Adz-dariyat ayat 56)
dan akan kembali lagi kepada Allah.
Ketika kita sudah
memahami yang sedemikian, maka penyerahan total terhadap hukum Allah serta
tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang dibawa Al-Khaliq adalah
konsekuensi dari pengakuan keimanan kita.
Didunia tentunya kita
ingin keluar dari segala kesempitan hidup yang melanda karena berpalingnya kita
dari peringatan-Nya (Q.S.Taha ayat 124) Dihadapan kita nanti setelah fase kehidupan
dunia akan ada hari penghisaban, ingatlah Allah amat teliti tentang apa-apa
yang telah kita kerjakan, tentunya kita tidak ingin mendapatkan minumannya
penghuni neraka yang di jelaskan oleh Allah melalui firmannya:
Kecuali
air mendidih dan air luka (nanah) (Q.S. An Naba ayat 25).
Mudah-mudahan Allah
mengaruniakan rahmat-Nya kepada kita, melembutkan juga melunakkan hati kita
untuk dapat menerima kebenaran, memasukan kita kedalam jannah-Nya, melimpahkan
kesabaran terhadap kita untuk tetap teguh memegang kebenaran, menambahkan
petunjuk terhadap kita bahwa yang haq adalah haq yang bathil adalah
bathil..Aamiin
Wallahu a’lam
Farid Syahbana, Kaltim 12/12/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar