Dipelataran belakang masjid kami terlibat diskusi yang cukup panjang, ia adalah Aktivis di gerakan mahasiswa yang corak Ideologinya bernuansa Sekuler, ketika saya menanyakan tentang bagaimana hasil Pertemuan Nasional Mahasiswa, ia dengan nada yang cukup tinggi menjawab “kita berhasil mengumpulkan 128 kampus dan bersepakat tentang tujuan kita” tujuan yang dimaksud adalah menjatuhkan Rezim SBY, karena fakta kebohongan dan kezaliman rezim telah mengakibatkan rakyat semakin melarat disebabkan himpitan ekonomi dan beban hidup yang bertambah, bahkan tidak jarang bagi yang tipis Iman harus meregang nyawa,karena memilih untuk bunuh diri.
Kemudian saya tanyakan “mw ngapain setelah itu?” walaupun tidak sevulgar itu kalimat pertanyaan yang meluncur, karena sebuah budaya dan etika gerakan maka sedikit berputar-putar dan rasionalisasi pernyataan terasa penting bagi seorang aktivis gerakan seperti dirinya.
“Setiap induk rancangan besar (Master Plan) harus ada peta jalan (roadmap), apa induk rancangan besar yang kawan-kawan tawarkan? Bagaimana peta jalan menuju kesana? Kalau tidak ada, Apakah kita harus kembali mengulang romantika pergerakan mahasiswa 98?”
Kemudian ia menyela,
“Pertanyaan ini sudah sering ditanyakan ratusan kali bahkan ribuan kali, kita terlalu sombong bung!, bicara tentang konsep, sementara waktu rakyat banyak yang mati!, biarkan konsep2 itu para professor yang menjawabnya, kita ini mahasiswa, kita bukan superman, kita akan tetap jadi oposisi permanent ketika siapa pun rezim yang berkuasa melakukan kejahatan terhadap rakyat, maka kita gugat dan ganti!”
Dari pernyataannya makin terang buat saya, bahwa kebutuhan gerakannya adalah kebutuhan yang taktis, karena Goalnya adalah kejatuhan Rezim, kerangka berfikirnya pun sangat liar, seorang mahasiswa tidaklah tabu ketika berbicara tentang konsep, karena konsep yang jelas dan terpadu akan menjadi pemandu arah bagi Mahasiswa untuk bagaimana seharusnya bertindak, kenapa hal itu hanya untuk kalangan Profesor saja? Apakah Mahasiswa tidak cukup cerdas untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk dan otoritas siapa yang harus ditaati? Lalu apa gunanya stempel kaum Intelektual, beserta peran strategis dan peran politis Mahasiswa di dalam masyarakat.
***
Saya mengorek kembali persitiwa Reformasi 98, karena Mereka yang dulu begitu bersemangat dalam menjatuhkan Rezim, kemudian nyenyak dalam lamunan kekuasaan yang “dihadiahkan” setelah peristiwa tersebut. Rakyat juga mendapat “hadiah” berupa kado pahit yakni fakta negara gagal disebabkan ketidakbecusan pemerintah yang diwakili oleh manusia khianat yang tidak amanah dan system yang secara faktual terbukti bobrok yakni kapitalisme-Demokrasi.
Lalu kemudian sedikit saya paparkan tentang Tahapan yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa kedepan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam mambangun negara Islam di Madinah, beberapa tahapan yang dilakukan yaitu : Pertama, tahap pembinaan dan pengkaderan, yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang mempercayai pemikiran dan metode pergerakan yang akan dijalankan dalam rangka melakukan perubahan. Para kader inilah yang akan menyampaikan Islam kepada masyarakat pada umumnya dan mahasiswa khususnya, mendorong mereka untuk mengemban Islam serta membentuk kesadaran atas dasar ide-ide dan hukum-hukum Islam. Disamping itu juga meluruskan kekeliruan pemahaman masyarakat terhadap Syariat Islam, kerena opini negatif yang selama ini dibangun oleh musuh-musuh Islam seperti dikatakan syariat Islam itu kejam, kuno, memecah belah bangsa, menindas non muslim dan sebagainya. Padahal Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Bukankah Alloh swt telah berfirman:
“Dan tiadalah Kami utus engkau (ya Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (TQS. AL Anbiya 107).
Kedua, tahapan berinteraksi dengan masyarakat secara langsung dan kontinyu, pada tahapan ini yang dilakukan ialah aktivitas pergolakan pemikiran dan perjuangan politik. Pergolakan pemikiran dilakukan dalam rangka menentang kepercayaan, ideologi, aturan, dan pemikiran-pemikiran kufur yang bukan dari Islam; menentang segala bentuk akidah yang rusak, pemikiran yang keliru seperti ide demokrasi, serta persepsi yang salah dan tersesat. Caranya adalah dengan mengungkapkan kepalsuan, kekeliruan, dan pertentangannya dengan Islam; sekaligus membersihkan umat dari segala bentuk pengaruh dan bekas-bekasnya. Sebab Islam adalah agama dan ideologi yang sempurna sehingga tidak memerlukan sistem yang lain untuk mengatur negara ini. Sedangkan perjuangan politik dilakukan dalam rangka menghadapi makar negara-negara barat imperialis yang menguasai negeri ini; menghadapi segala bentuk penjajahan, baik berupa pemikiran, politik, ekonomi, maupun militer; mengungkapkan taktik dan strategi persekongkolan negara-negara barat untuk membebaskan bangsa ini dari kekuasaan dan pengaruhnya. Perjuangan politik juga dilakukan dengan cara menentang secara terus-menerus para penguasa yang tidak memihak rakyat, mengungkapkan kejahatan mereka, mengadakan nasihat dan kritik buat mereka, sekaligus berusaha mengubah tingkah laku mereka setiap kali mereka merampas dan menghilangkan hak-hak rakyat, tidak melaksanakan kewajibannya terhadap rakyat dan melalaikan urusan rakyat. Dakwah ini juga ditujukan kepada pemilik kekuatan dan simpul-simpul umat seperti pihak militer, tokoh-tokoh masyarakat, alim ulama, cendikiawan dan lainnya. Dengan begitu, seluruh komponen masyarakat tersebut telah menjadikan Islam sebagai pemikiran mereka yang akan mendorong mereka untuk mewujudkannya dalam kehidupan. Sehingga mereka bersama-sama yang menuntut perubahan revolusi tadi, yakni revolusi Islam tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah kerena berangkat dari wujud kesadaran yang sempurna. Jika telah demikian halnya siapa lagi yang akan mampu manghalangi untuk tegaknya Islam di negara ini, Insya Alloh.
Ketiga, tahapan menerima penyerahan kekuasaan, yaitu pada saat masyarakat sudah mempunyai kesadaran akan kebobrokan sistem Kapitalisme-demokrasi yang diterapkan dan tidak amanahnya penguasa yang memimpin mereka selama ini, pada saat itulah masyarakat akan mempercayakan kepemimpinannya kepada gerakan yang selama ini telah menyadarkan mereka. Ketika kekuasaan telah diperoleh dan sistemnya pun sudah diganti dengan sistem pemerintahan Islam, maka pada saat itulah syariat Islam dapat diterapkan secara menyeluruh yang akan mensejahterakan negeri ini.
***
Melihat peranannya yang cukup besar sudah saatnya gerakan Mahasiswa lebih bermartabat dan mampu menghasilkan perubahan yang menuju kemulian dan kebangkitan hakiki, tidak lagi mendasarkan tujuan gerakannya pada kebutuhan yang bersifat taktis, apalagi ditunggangi para pemangku kepentingan didalamnya, sehingga gerakan Mahasiswa tidak ada harganya dimata masyarakat.
Kemuliaan dan kesejahteraan hanya akan hadir dengan sistem yang adil. Itulah syariah Islam yang berasal dari Sang Pencipta bumi dan seisinya yang diterapkan dalam bingkai Khilafah Rasyidah ala minhajin Nubuwah. Wallahu’alam bis showab.[]
Kita menghendaki kebangkitan yang tidak terbatas pada ibadah dan perbuatan mandub saja. Akan tetapi, kita menghendaki kebangkitan atas hukum-hukum Islam keseluruhan baik dalam pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, hubungan luar negeri, tsaqafah dan pendidikan, politik dalam negeri dan luar negeri dan dalam seluruh urusan umat, baik secara individu, kelompok maupun negara.
BalasHapussaya sepakat dan setuju dengan anda!
BalasHapus