Selasa, 03 Juli 2012

Lagu

Lagu yang normal dan berarus mainstream selalu mengawalinya dengan Intro dan berulang pada Reffrain, tahapan tersebut tidak jauh berbeda dengan beRetorika dan juga tidak begitu jauh dengan menulis, seperti yang anda dan saya persaksikan ketika membaca tulisan ini, gaya menulis yang mengekor pada metodologis berarus mainstream, itulah yang saya pikirkan dan lakukan ketika menelurkan tulisan.
Yang paling membedakan dan membuatnya makin menggigit adalah lirik, suara dan isi sebuah lagu, retorika, atau tulisan yang dihasilkan, substansi mengalahkan rima yang berirama, isi yang padat berisikan persepsi-persepsi tentang kehidupan Ideal dan berbagai upaya untuk mengajak manusia mengumbar tentang kerusakan realitas yang ada saat ini akan lebih mengggigit dan mengakar.
Ketika  propaganda terus dilakukan melalui sebuah sarana yang memadai untuk menyeret kesadaran mereka kembali  kepada Ideologi yang berasal dari pemilik alam semesta. Maka memperbaharui senjata dan membiasakan untuk struggle dalam lingkaran perjuangan adalah substansi dengan rima terindah.
Bila setiap lagu yang diperdengarkan akan kembali mengingatkan pada moment-moment tertentu, maka biarkan saya mengorek dan menggali apa lagu yang pantas untuk membuat moment hari kemarin dan sekarang menjadi memoar yang ketika diperdengarkan esok atau lusa kita bisa mengekspresikan mimik wajah kita dengan tertawa, senyuman atau pun tangisan.
Hal di atas akan sulit, karena menyamakan lagu yang sama-sama disukai untuk diperdengarkan terhalang oleh petuah Inlander yang pernah dikutip bob sadino “Selera tidak bisa diperdebatkan”  :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar