Lagu yang normal dan berarus
mainstream selalu mengawalinya dengan Intro dan berulang pada Reffrain, tahapan
tersebut tidak jauh berbeda dengan beRetorika dan juga tidak begitu jauh dengan
menulis, seperti yang anda dan saya persaksikan ketika membaca tulisan ini, gaya
menulis yang mengekor pada metodologis berarus mainstream, itulah yang saya
pikirkan dan lakukan ketika menelurkan tulisan.
Yang paling membedakan dan membuatnya
makin menggigit adalah lirik, suara dan isi sebuah lagu, retorika, atau tulisan
yang dihasilkan, substansi mengalahkan rima yang berirama, isi yang padat
berisikan persepsi-persepsi tentang kehidupan Ideal dan berbagai upaya untuk
mengajak manusia mengumbar tentang kerusakan realitas yang ada saat ini akan
lebih mengggigit dan mengakar.
Ketika propaganda terus dilakukan melalui sebuah
sarana yang memadai untuk menyeret kesadaran mereka kembali kepada Ideologi yang berasal dari pemilik alam
semesta. Maka memperbaharui senjata dan membiasakan untuk struggle dalam
lingkaran perjuangan adalah substansi dengan rima terindah.
Bila setiap lagu yang
diperdengarkan akan kembali mengingatkan pada moment-moment tertentu, maka
biarkan saya mengorek dan menggali apa lagu yang pantas untuk membuat moment
hari kemarin dan sekarang menjadi memoar yang ketika diperdengarkan esok atau
lusa kita bisa mengekspresikan mimik wajah kita dengan tertawa, senyuman atau
pun tangisan.
Hal di atas akan sulit, karena
menyamakan lagu yang sama-sama disukai untuk diperdengarkan terhalang oleh
petuah Inlander yang pernah dikutip bob sadino “Selera tidak bisa diperdebatkan”
:D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar