Bukan hanya dirinya seseorang yang berteduh disana, ada belasan kepala yang menemaninya mengemban tugas taktis yang sedang diemban bersama, menunggu hujan reda. Belasan orang tersebut membentuk kelompok masing-masing berdasarkan kedekatan emosional antara individu-individu yang terakumulasi secara strategis berdasarkan ruang dan waktu. Namun mungkin hal ini juga tidak begitu berlaku untuk Rere, ia tidak menjadi agensi apapun dalam kumpulan orang tersebut, ia mengemban tugas sendirian, Single Fighter, pahlawan yang ketika menunggu hujan reda namun tetap kesepian sebelum atau sesudahnya.
Rere berada ditengah-tengah dekat tiang penyangga gedung, menolehkan pandangannya kearah kiri jauh, ia melihat lelaki gagah yang mengenakan seragam Levais mengantungkan kedua tangannya yang saling berkelindan di dadanya, sembari bersenda gurau dengan dua orang teman sebayanya, senyum lelaki itu menganga perlahan dengan gigi putih rapih tersusun secara teratur, tampak kumis tipis tertempel di atas bibir lelaki itu, kulitnya sawo setengah matang, matanya sedang berbinar-binar, rambutnya setengah klimis, mungkin sebagian basah dan mengering sebagai imbas terkena air hujan, pipinya tirus, tidak ada lesung pipit, lelaki dengan tekstur dan gestur yang hampir sempurna bagi penglihatan Rere, dengan tinggi melampaui 180 cm, postur seperti itu sudah cukup ideal dinegeri Rere tinggal, masih terus berbicara sembari senyum dan tertawa bersama teman-temannya, Strike! Gih, begitu nama lelaki itu biasa dipanggil, Gih menyita perhatian Rere, ia tidak mengira,pandangannya akan berakibat fatal bagi kestabilan di jantung naluri melestarikan jenis yang secara Fitrah hadir alami bersama dirinya, tapi bukan kali itu sebenarnya Gih menarik perhatian Rere, sudah sejak 2 bulan yang lalu,ketika keduanya secara bersamaan berada di tingkat dan Fakultas yang satu diperguruan tinggi yang sama.
Tidak juga Rere alihkan pandangannya terhadap Gih, Rere menatap gih di setiap gerakan, setiap gerakan bibir, setiap langkah satu atau dua kemudian berbalik mundur, Rere memaku disana, namun ketika gih secara tak sadar melayangkan dan membuang pandangannya ke arah sembarang dan salah satu buangan wajah gih secara tidak sengaja datang kepada Rere, secepat kilat Rere membuang pandangannya kearah selain Gih, entah memandang tong sampah besar yang berada tidak jauh disebelah gih, terus 40 derajat ke kanan ia memandang ke pos jaga gedung kampus, atau melongok ke atas, yang secara gestur di artikan sebagai kepura-puraan menunggu hujan reda.
Ia berharap bisa lebih lama disana, dengan aktivitas yang demikian, terus memandangi orang yang ingin ia pandang tak jenuh dan tak bosan, hujan tak ada tanda – tanda reda ketika sudah masuk hitungan satu jam lewat, Rere juga tak mengharapkan hujan reda, kondisi tersebut jarang ia dapati, dimana ia bisa leluasa mengawasi gerak-gerik Gih tanpa harus di pergoki oleh orang yang ia kenali maupun mengenalnya di lingkungan kampusnya.
II
Terlambat masuk 15 menit, ibu dosen Ilmu komunikasi politik sedang memberikan dan mengajarkan beberapa materi pengantar ke anak-anak semester awal, Rere mengintip di depan pintu kelas, berat dan segan rasanya untuk mengetuk pintu dan masuk kelas, ia takut menyita banyak perhatian, 2 menit ia berfikir untuk tetap melanjutkan itikad awalnya atau tidak masuk kelas sama sekali, tak lama kemudian ada orang dari belakang Rere masuk kelas dengan melakukan beberapa penghirauan atas kekhawatiran yang dialami Rere, keputusan akhir telah dibuat, Rere memberanikan diri untuk mengetuk dan masuk kelas, terlihat beberapa murid mengalihkan pandangan dari bu dosen ke Rere, Mahasiswi semester awal fakultas Ilmu Komunikasi politik.
Rere bukanlah mahasiswi populer dan aktif di kelas, ia tidak senang menyita perhatian banyak orang, tempat duduk di antara depan dan belakang yakni tengah adalah kegemarannya, dari sana ia bisa menyembunyikan kepalanya dari pandangan dosen, sehingga berharap tidak banyak ditanyai oleh dosen pengajar, begitu juga di hadapan teman-temannya, ia tidak suka membentuk kelompok dan komunitas-komunitas kecil di kelas, menyembunyikan identitas dan sifat setengah terbuka lebih ia sukai, poros tengah/ setengah-setengah dalam komunitas pergaulan, Confidence adalah kata yang jauh melampaui karakter seorang Rere, maka wajar ia tidak mempunyai banyak sahabat untuk tertawa, bertukar cerita atau berbagi keluh dan kesah, tapi sekali lagi, itu posisi yang ia sukai.
Ratusan bahkan Ribuan hari telah menanti Rere untuk bisa segera dilalui dalam kehidupan kampus, ia berharap waktu itu terus berlalu cepat, sehingga tidak lagi dapat kesempatan untuk menyita perhatian banyak manusia, sesuatu yang membuat ia sering dan amat cemas.
Namun tidak seperti apa yang dibayangkan, hari-harinya mungkin makin bertambah berat,setelah Gih sedari awal sudah hadir di tengah-tengah aktivitas kuliahnya sehari-hari, karena memang satu angkatan dan Fakultas yang sama, untuk mahasiswa semester awal yang biasa disajikan mata kuliah serba pengantar, semua diposisikan sama, tidak ada yang mengulang dan tidak ada yang melaju duluan, semua harus berangkat dari kelas pengantar. Untuk awalan, sekitar hampir 11 bulan Ia akan lebih sering berada dengan gih di kelas.
Kesukaan harus disembunyikan dari Rere untuk seorang Gih, “pantang untuk tahu!” hal ini akan jadi Rahasianya, ia berjanji dan berkomitmen tidak boleh ada orang yang tahu selain ia seorang, tentang perasaan yang menghuni dalam hatinya, janji dan komitmen ini serupa vitalnya kata Omerta yang lazim di negeri para mafioso,biarkan saja perasaan ini mengalir, entah itu kesungai yang jernih, lautan yang biru nan bersih atau ke got pembuangan sisa sampah makanan warung nasi Padang.Kemanapun perasaan itu berujung nantinya, hal itu ia yakini, dapat menyingkap sebuah rahasia besar, memudar atau makin membesar.
III
Gih dengan berbagai Varian yang mencakup di dalam dirinya, telah membuat dirinya otomatis meroket sebagai orang popular di lingkungan kampus, Paras yang gagah nan tampan, berasal dari keluarga terlanjur tajir, berkendara MoGe, Supel dalam berinteraksi kepada orang lain, cukup ahli dalam memetik guitar dan memainkan piano, adalah previlese bagi dirinya untuk menghuni salah satu siswa paling populer di kampus dan previlese tersebut menghantarkan Gih masuk ke sekumpulan orang-orang Ekslusif. Ekslusif disini juga berarti situasi yang partikular dari pergaulan normatif di lingkungan kampus akan terbiasa dilampaui kedepannya.Pergaulan bebas dan narkoba adalah kata kunci dari kesimpulan akhir sebuah lingkungan ekslusif yang satu ini. Meminjam Frase dari film Matchstick Men dengan memuat Gih sebagai subyek “Gih sebenarnya bukan orang Jahat, ia hanya kurang begitu baik.” Berawal dari sebuah pergaulan yang menurutnya hanya sebatas bergaul menambah aktivitask eseharian, tapi frekuensi yang terlalu sering bertemu dengan teman-teman yang mengajarkan kebalikan dari ikhwal kebaikan dan keburukan, membuat dirinya sendiri sulit di atasi, kemudian larut dalam sebuah pesta sehari-hari yang menunggu jam malam habis dan berakhir. Setelah itu berharap hadir lagi dalam pesta yang tentu akan berakhir dan esok berulang kembali.
Perjalanan yang begitu dalam hidup gih, terjadi hingga di tahun ketiganya di kampus, lalu bagaimana kabar kuliahny? Ia hanya mampu melewati mata kuliah pengantar di semester awal, sisanya mengulang. Lalu bagaimana juga dengan Rere? Wanita yang di fragmen awal begitu terpikat dengan Gih, Berkebalikan dengan situasiyang di alami Gih, Rere hanya memikirkan bagaimana cara kuliahnya bisa cepat kelar, maka ia lebih serius membaca dan mengulang pembacaan, mengerjakan tugas dan makalah yang diberikan ibu/bapak dosen, banyak berdiskusi dengan teman dan senior yang perduli tentang urgensi Pembelajaran di kampus, sudah jarang masuk terlambat ke kelas dan hasilnya bisa terlihat, secara bertahap Indeks prestasinya meningkat perlahan, rasa Confidence secara gradual juga meningkat perlahan hingga sampai ditingkat kestabilan tertentu. Sementara itu di tahun ke-3 akhir, ada kabar tak sedap beredar di lingkungan kampus, Gih terkena penyakit, sebut saja nama penyakitnya HIV Aids, banyak mahasiswa lain yang mendengar hal ini memaklumi penyakit yang di derita Gih dikarenakan kesalahan dirinya sendiri, kabar ini sampai di telinga Rere, ia begitu terpukul mendengar hal ini, bagaimana bisa Gih sebegitu ceroboh dan Idiotnya membiarkan dirinya tercebur dalam arena kesenangan bebas, dan harus menanggung segala resiko yangada dan harus ia tempuh kini dan nanti, banyak orang dan teman menjauhi gih, hanya Ryan yang berani mendekat, teman sedari kecil yang juga kuliah di tempat yang sama dengan Gih, namun beda Fakultas.
Saat waktu telah menunjukan siang bolong, Gih, Wajahnya pucat pasi, bobot badannya berkurang drastis, terlihat serat tulang lengan ketika ia memakai kaos oblong, sesekali ia batuk-batuk, sedang menggenggam sarung tangan, sebenarnya ia sudah terlarang dan dilarang masuk kampus, tapi karena kekayaan kedua orang tuanya, kampus swasta tersebut bersedia menanggung Gih sampai lulus dengan beberapa catatan, salah satunya ialah, harus memakai masker dan diberikan kelas khusus secara retoris yang juga berarti ruang isolasi. Dalam keadaan sedemikian mengkhawatirkan, Rere tidak sampai hati melihat keadaan Gih, “ia bukan orang jahat, hanya kurang begitu baik”, Rere selalu mengulang-ulang perkataan itu di dalam hatinya ketika melihat gih dari jejauhan, sendirian tak berteman sedang duduk di teras kampus. Namun apa lah daya, ia punya komitmen dan janji untuk masih merahasiakan perasaannya hingga sampai waktu yang belum di tentukan.
IV
Sudah 4 tahun terlewat sejak kemarin masih banyak cerita tentang kehidupan kampus beserta panoramanya, cerita yang mengerucut kepada dua orang, Rere & Gih,setelah lulus Rere mendaftarkan diri dan diterima menjadi guru SMA berstatus honorer di Lokasi yang tidak jauh dari lingkungan tempat tinggalnya, mengikuti jejak kedua orang tua yang mempunyai background Pns sedari muda dahulu, maka Rere tidak ingin mengambil resiko lebih untuk bertaruh di kancah dan bidang yang lain selain melakukan regenerasi pekerjaan kedua orang tuanya, karena itu, tidak ada manuver berlebihan terhadap karir pekerjaannya. Kini Rere Mengajar dan menjadi guru.
Tidak ada kabar mengenai Gih, kabar mengenai dirinya sering menguap seperti berita kesewenang-wenangan para elit penguasa dalam ranah kebijakan terhadap rakyatnya,kadang hadir menguat sebentar lalu kemudian memudar, layaknya berita skandal penjarahan uang negara melalui bank sentury yang pelakunya masih sama, elit penguasa. Berita mengenai gih hanya desas-desus, tak ada yang pasti, hingga disuatu sore, di meja kasir sebuah Mini market yang tertuduh kuat menjadi salah satu instrumen yang telah mematikan pasar tradisional dan warung-warung kecil, Rere bertatap muka sebentar dengan Gih yang berada di area Mini market tersebut,sama-sama berada di meja kasir, Gih mendahului Rere, “Rokok Samsu sebungkus!” ucap gih kepada Mas si tukang kasir.
“Gih ya? Apa kabarny?” Rere berucap
“Alhamdulillah baik” balas Gih
Setelah tegur sapa yang sebentar dan setelah Gih membayar rokok, gih pamit untuk keluar lebih dulu dari mini market tersebut, Rere hanya membalasnya dengan anggukan.
Rere masih menyukai sosok gih, walaupun sudah terhitung tahunan terlewati, tapi sekali lagi, apa daya, ia sadar, ia hanya seorang perempuan yang masih menunggu dan sedikit banyaknya tahu dan mengenal ajaran agamanya untuk menjaga interaksi laki-laki dan perempuan yang secara hukum asalnya adalah terpisah.
Keesokannya,ketika Rere iseng membuka media sosial, lalu ada konfirmasi pertemanan sedang menunggu untuk dikonfirmasi dan diterima, sosok calon teman itu tidak asing baginya,orang itu Gih. Rere mengkonfirmasi Gih, kini mereka berteman di media sosial tersebut, di era smartphone seperti sekarang, tidak di butuhkan waktu yang lama untuk Gih mengetahui bahwa Rere telah mengkonfirmasi dirinya, tidak lama berselang pesan masuk ke Rere, Pesan itu memuat photo, awalnya hanya dua, tapi semakin ditunggu semakin bertambah,hingga sebelas, bertambah lagi, hingga bilangan hampir 30-an, hampir 30 photodi dalam pesan itu, dari seorang Gih ke Rere, Rere tercengang melihat muatan photo itu.
Tentu saja Rere heran dan tercengang melihat photo-photo itu, karena photo tersebut menampilkan satu objek yang begitu dominan, yakni dirinya sendiri, Mulai saat hari pertama kuliah, beranjak ke hari-hari dimana ia aktif kuliah, adegan saat menulis tugas kuliah, berbicara kepada teman sebaya dan sekelas, lamunan,keseriusan ketika mendengarkan dosen mengajar, berjalan ke arah kantin, sampai saat perbincangan setelah wisuda dengan kedua orang tua dan yang terakhir adalah pemandangan ketika Rere membuka pintu keluar Mini Market, photo-photo tersebut eksis tanpa di sadari Rere.
“Apa maksudnya ini semua dan bagaimana bisa?”Rere membalas pesanSituasi yang dilampaui oleh dugaan Rere terjadi dihadapannya kini, Happy ending/akhir bahagia/bahagia sampai akhir mungkin jalan keluar terbaik dari kisah mereka, mari berharap tidak ada lanjutan atau seridari kisah ini, karena hal itu berarti mengharapkan adanya konfrontasi terhadap hubungan mereka yang bisa saja berakhir tragis.
“Photo tersebut aku fikir dapat mewakili apa yang sedang aku rasakan tanpa harus aku katakan seribu rayuan dan seribu bujukan perasaan kepada kamu, maaf telah lancang, dengan kondisiku sekarang yang tentu kamu telah ketahui dari kabar sehari-hari dikampus dahulu, aku menawarkan kesediaan kamu untuk menjadi pendamping hidupku?? Jangan tergesa-gesa dalam menjawabnya,aku akan sabar menunggu jawabmu.” Balasan Gih.
“Iya, aku bersedia” Rere menjawab pesan tersebut tidak kurang dari 5 menit.
Sekian, 17 januari2014
Masih di kamarlantai 2 , Indonesia bagian Timur
seolah nyata
BalasHapus