Sabtu, 18 Agustus 2012

Kiri jauh




Makin runyam dan membuat munyak (kalo kata orang banjar), ketika bersentuhan lebih dalam menggunakan pisau analisis Marx terhadap situasi kondisi sosial, politik, hukum, seni/estetika dan ekonomi diberbagai literatur dan jurnal yang dibuat oleh kumpulan manusia kiri.
Ternyata tafsiran yang diberikan terhadap pemikiran Karl Marx tidaklah tunggal, bukan hanya dialektika materialisme yang berisi kontradiksi-kontradiksi, namun perdebatan diantara mereka dalam menafsirkan pemikiran Marx juga dipenuhi dengan Kontradiksi antara berbagai aliran didalamnya. Permasalahan basis (ekonomi) atau kah suprastruktur (politik, ekonomi dan Hukum) yang paling menentukan kondisi material masyarakat, hingga lahir teori formasi sosial yang ruwet dari Nicos poulantzas, perdebatan penggunaan parlemen dalam ketaatan terhadap sebuah metode yang ditetapkan, juga perdebatan yang tidak kalah serunya adalah kelas mana yang lebih revolusioner, kelas buruh atau kelas pelacur?
Berjamurnya pemikiran kiri mengingat Kondisi di Indonesia sendiri adalah kondisi yang Ideal untuk saling chaos dan membenturkan berbagai macam Ide dan pemikiran, ditengah-tengah racun kapitalisme yang melakukan penghisapan manusia atas manusia, maka ide atau pemikiran yang Revolusioner begitu sangat menggugah dan menarik perhatian bagi sebagian orang karena dipandang sebagai oase ditengah gurun pasir yang sangat gersang. Ketika itulah ideologi berkompetisi untuk menelanjangi pemikiran satu sama lain agar bisa menancapkan dominasi dan menjadi pemenang.
++++
Bagaimanapun juga memahami Marxisme hanya membuat saya pribadi lelah, karena derivat filsafat materialisme membawa saya berputar-putar mencari oase yang dijanjikan, sensasi tersebut yang malah secara nyata adanya,  pemikiran marx yang berlandaskan pada filsafat materialisme yakni segala sesuatu atau kejadian berasal dari materi (mengingkari keberadaan Tuhan) adalah sudah cacat menurut pandangan mula awam saya. Hingga kini beranjak selangkah makin membuat saya yakin tentang Islam sebagai ideologi yang saya emban, bantahan yang diperoleh juga dengan hanya kasus sederhana, keluarlah pada malam hari dan melihat ke atas, tempat dimana bintang-bintang beredar dan menampakkan sinarnya, tempat galaksi dan kosmos berada, tanpa pancang dan tiang, Semuanya berada teratur di posisi dan tempatnya masing-masing. Keteraturan yang luar biasa dan manusia tampak kecil dihadapan jagat alam semesta, tentu akal kita akan menemukan dan memastikan ada Tuhan yang telah menciptakan, Hal itu sudah cukup memberikan bantahan tentang Filsafat Materialisme.
FrdSprtrmp, Pinggir Jakarta, Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar