Makin runyam dan membuat munyak
(kalo kata orang banjar), ketika bersentuhan lebih dalam menggunakan pisau
analisis Marx terhadap situasi kondisi sosial, politik, hukum, seni/estetika
dan ekonomi diberbagai literatur dan jurnal yang dibuat oleh kumpulan manusia
kiri.
Ternyata tafsiran yang diberikan
terhadap pemikiran Karl Marx tidaklah tunggal, bukan hanya dialektika
materialisme yang berisi kontradiksi-kontradiksi, namun perdebatan diantara
mereka dalam menafsirkan pemikiran Marx juga dipenuhi dengan Kontradiksi antara
berbagai aliran didalamnya. Permasalahan basis (ekonomi) atau kah suprastruktur
(politik, ekonomi dan Hukum) yang paling menentukan kondisi material
masyarakat, hingga lahir teori formasi sosial yang ruwet dari Nicos poulantzas,
perdebatan penggunaan parlemen dalam ketaatan terhadap sebuah metode yang ditetapkan, juga perdebatan
yang tidak kalah serunya adalah kelas mana yang lebih revolusioner, kelas buruh
atau kelas pelacur?
Berjamurnya pemikiran kiri
mengingat Kondisi di Indonesia sendiri adalah kondisi yang Ideal untuk saling
chaos dan membenturkan berbagai macam Ide dan pemikiran, ditengah-tengah racun
kapitalisme yang melakukan penghisapan manusia atas manusia, maka ide atau
pemikiran yang Revolusioner begitu sangat menggugah dan menarik perhatian bagi
sebagian orang karena dipandang sebagai oase ditengah gurun pasir yang sangat
gersang. Ketika itulah ideologi berkompetisi untuk menelanjangi pemikiran satu
sama lain agar bisa menancapkan dominasi dan menjadi pemenang.
++++
Bagaimanapun juga memahami
Marxisme hanya membuat saya pribadi lelah, karena derivat filsafat materialisme
membawa saya berputar-putar mencari oase yang dijanjikan, sensasi tersebut yang
malah secara nyata adanya, pemikiran
marx yang berlandaskan pada filsafat materialisme yakni segala sesuatu atau
kejadian berasal dari materi (mengingkari keberadaan Tuhan) adalah sudah cacat
menurut pandangan mula awam saya. Hingga kini beranjak selangkah makin membuat
saya yakin tentang Islam sebagai ideologi yang saya emban, bantahan yang
diperoleh juga dengan hanya kasus sederhana, keluarlah pada malam hari dan melihat
ke atas, tempat dimana bintang-bintang beredar dan menampakkan sinarnya, tempat
galaksi dan kosmos berada, tanpa pancang dan tiang, Semuanya berada teratur di
posisi dan tempatnya masing-masing. Keteraturan yang luar biasa dan manusia
tampak kecil dihadapan jagat alam semesta, tentu akal kita akan menemukan dan
memastikan ada Tuhan yang telah menciptakan, Hal itu sudah cukup memberikan
bantahan tentang Filsafat Materialisme.
FrdSprtrmp, Pinggir Jakarta, Agustus 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar