Tidak pernah saya temukan disetiap
artikel, satu atau setengah buku, catatan, jurnal atau pun Fotokopian yang
berbicara tentang perubahan, pemiskinanan, penderitaan, perlawanan dan penindasan
yang solusi akhirnya bukan Islam, membuat saya beralih dan simpatik untuk
memperjuangkan ide-ide mereka.
penekanan yang begitu dramatis
terhadap penderitaan dan kondisi objektif yang terjadi kadang membuat saya
nyenyak mematung didepan layar lcd, tapi memakan teori mereka mentah-mentah
secara membabi-buta tetap tidak pernah menjadi pilihan atau bayangan sekalipun
dalam kehidupan akademis maupun praktis.
+++++
Dalam pengalaman culture gerakan
opurtunis kiri, ketidakmatangan saya adalah nilai plus yang patut disyukuri, sehingga secara sadar atau pun tidak turut
serta mengalihkan dan mengebiri pemikiran oppurtunis dan pragmatis yang menggejala
hebat dikalangan kawan-kawan sekamar ketika itu.
Di satu sisi, perhatian yang
lebih terhadap penderitaan dan urgensi perlawanan adalah hal yang mengesankan
hati dan pikiran, namun pemikiran tersebut terasa imajinatif dan tidak
aplikatif apabila diperjuangkan dalam wadah yang salah, wadah yang penuh terisi
pemikiran pragmatis, taktis, Oppurtunis dan kekaburan tujuan sebuah gerakan.
Masih ingat dan hangat dalam
ingatan, ketika suara sampai serak berteriak tentang “Hidup Mahasiswa!” dan menyanyikan lagu
romantisme peristiwa Malari dan 27 Juli dijalan tepat gedung para penguasa dan
pejabat berdomisili, selesai aksi saya
dan beberapa teman dipanggil ke dalam kamar oleh manajer yang kemudian
memberikan angpau atas kesediaan saya memeriahkan aksi, setiap panggung kritis
atas nama dan pembelaan hak rakyat maka diberi
hadiah setengah gocap.
Cepat atau lambat saya menyadari,
gerakan inilah yang memicu sentimen di dalam masyarakat, sehingga banyak yang memandang
sinis dan menyangsikan perjuangan Mahasiswa, gerakan mahasiswa yang ditunggangi
sejatinya telah mencoreng dan mengkhianati hati dan pikiran masyarakat, secar
otomatis juga telah menghapus dan menggerogoti label strategis dan politis mahasiswa
ditengah kekisruhan yagn terjadi.
Pengenalan terhadap perjuangan
dan solusi Islam telah membuat saya sadar tentang makna perjuangan hakiki, tidak
hanya atas dorongan perut atau sejengkal dibawah perut, tidak juga atas
tuntutan sejarah, namun dengan dorongan dan tuntutan akidah yang membuat
mahasiswa Muslim tergerak dan sadar sehingga melahirkan perlawanan atas dominasi
Kapitalisme dalam kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar