Kamis, 16 Agustus 2012

Beralih?


Tidak pernah saya temukan disetiap artikel, satu atau setengah buku, catatan, jurnal atau pun Fotokopian yang berbicara tentang perubahan, pemiskinanan, penderitaan, perlawanan dan penindasan yang solusi akhirnya bukan Islam, membuat saya beralih dan simpatik untuk memperjuangkan ide-ide mereka.
penekanan yang begitu dramatis terhadap penderitaan dan kondisi objektif yang terjadi kadang membuat saya nyenyak mematung didepan layar lcd, tapi memakan teori mereka mentah-mentah secara membabi-buta tetap tidak pernah menjadi pilihan atau bayangan sekalipun dalam kehidupan akademis maupun praktis.
+++++
Dalam pengalaman culture gerakan opurtunis kiri, ketidakmatangan saya adalah nilai plus yang patut disyukuri,  sehingga secara sadar atau pun tidak turut serta mengalihkan dan mengebiri pemikiran oppurtunis dan pragmatis yang menggejala hebat dikalangan kawan-kawan sekamar ketika itu.
Di satu sisi, perhatian yang lebih terhadap penderitaan dan urgensi perlawanan adalah hal yang mengesankan hati dan pikiran, namun pemikiran tersebut terasa imajinatif dan tidak aplikatif apabila diperjuangkan dalam wadah yang salah, wadah yang penuh terisi pemikiran pragmatis, taktis, Oppurtunis dan kekaburan tujuan sebuah gerakan.
Masih ingat dan hangat dalam ingatan, ketika suara sampai serak berteriak tentang  “Hidup Mahasiswa!” dan menyanyikan lagu romantisme peristiwa Malari dan 27 Juli dijalan tepat gedung para penguasa dan pejabat berdomisili,  selesai aksi saya dan beberapa teman dipanggil ke dalam kamar oleh manajer yang kemudian memberikan angpau atas kesediaan saya memeriahkan aksi, setiap panggung kritis atas nama dan pembelaan hak rakyat  maka diberi hadiah setengah gocap.
Cepat atau lambat saya menyadari, gerakan inilah yang memicu sentimen di dalam masyarakat, sehingga banyak yang memandang sinis dan menyangsikan perjuangan Mahasiswa, gerakan mahasiswa yang ditunggangi sejatinya telah mencoreng dan mengkhianati hati dan pikiran masyarakat, secar otomatis  juga telah menghapus dan menggerogoti label strategis dan politis mahasiswa ditengah kekisruhan yagn terjadi.
Pengenalan terhadap perjuangan dan solusi Islam telah membuat saya sadar tentang makna perjuangan hakiki, tidak hanya atas dorongan perut atau sejengkal dibawah perut, tidak juga atas tuntutan sejarah, namun dengan dorongan dan tuntutan akidah yang membuat mahasiswa Muslim tergerak dan sadar sehingga melahirkan perlawanan atas dominasi Kapitalisme dalam kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar